Perluas Kesempatan Berkarya Kreatif, 100 Difabel se-DIY Ikuti Pelatihan Membatik

6 Min Read
Group of women in hijabs sit and stand around a small gas stove cooking on a red carpet inside a tented hall.
Sebanyak 100 Difabel se-DIY, Rabu (16/9/2026), mengikuti pelatihan membatik bersama di Pendopo Wiyotoprojo, Kompleks Kepatihan, Kota Yogyakarta. (Foto: Setiaky A Kusuma)

Mabur.co – Kata “batik” berasal dari bahasa Jawa, yaitu “amba” yang berarti luas atau lebar dan “titik” yang merujuk pada proses penempatan titik-titik untuk menciptakan motif.

Dilansir dari buku Master Dyers to the World: Technique and Trade in Early Indian Dyed Cotton Textiles karya Gittinger, batik merupakan proses pewarnaan kain dengan teknik perintang warna, di mana malam digunakan untuk menutupi bagian-bagian tertentu dari kain sebelum pencelupan dilakukan.

Teknik pembuatannya melibatkan penggunaan canting (alat tradisional untuk menggambar motif dengan malam) atau cap (alat cetak dari tembaga yang digunakan untuk motif berulang).

Makna Simbolis

Motif-motif yang tercipta pada kain batik sering kali memiliki makna simbolis yang mencerminkan nilai-nilai lokal, kehidupan sehari-hari, kepercayaan, atau filosofi masyarakat setempat.

Batik memiliki sejarah yang panjang di Indonesia, dan proses pembuatannya dapat ditelusuri sejak zaman Kerajaan Majapahit (sekitar abad ke-13).

Pada masa itu, batik awalnya hanya digunakan oleh kalangan istana dan bangsawan sebagai simbol status sosial.

Motif-motif tertentu seperti motif “parang” atau “lereng” bahkan dikhususkan untuk keluarga kerajaan. Seiring berjalannya waktu, batik mulai menyebar ke kalangan masyarakat umum dan menjadi bagian integral dari budaya Indonesia.

Pada abad ke-19, batik mulai diperkenalkan ke luar negeri oleh pedagang Belanda, terutama setelah berdirinya kota-kota pelabuhan seperti Batavia (Jakarta), Solo, dan Yogyakarta sebagai pusat batik di Jawa.

Keindahan dan kerumitan batik menarik perhatian masyarakat internasional, dan batik pun menjadi salah satu ikon budaya Indonesia yang terkenal di dunia.

Batik Diakui UNESCO

Pada tahun 2009, UNESCO menetapkan batik Indonesia sebagai “Warisan Kemanusiaan untuk Budaya Lisan dan Nonbendawi.” Pengakuan ini mengukuhkan batik sebagai warisan budaya yang perlu dilestarikan dan dikembangkan.

Indonesia memiliki berbagai jenis batik yang mencerminkan kekayaan budaya setiap daerah. Misalnya, batik Solo dan Yogyakarta dikenal dengan warna-warna alam yang cenderung cokelat dan hitam dengan motif-motif yang sarat makna filosofis. Sementara itu, batik Pekalongan terkenal dengan warna-warna cerah dan motif yang terinspirasi dari flora dan fauna.

Batik Madura dan Batik Cirebon juga memiliki karakteristik yang khas, seperti motif “mega mendung” dari Cirebon yang menyerupai awan dan mencerminkan filosofi kesabaran dan ketenangan.

Batik lebih dari sekadar kain bermotif, ia adalah simbol identitas budaya yang kaya akan makna dan sejarah panjang. Hingga kini, batik tetap eksis dan bahkan semakin populer, baik di Indonesia maupun di kancah internasional.

Melalui beragam motifnya, batik terus menceritakan kisah dan nilai-nilai lokal yang diwariskan dari generasi ke generasi. Sebagai bangsa Indonesia, menjaga dan melestarikan batik merupakan bentuk penghargaan terhadap sejarah dan budaya kita yang begitu berharga.

Batik bagi Difabel

Sebanyak 100 Difabel se-DIY, Rabu (16/9/2026), mengikuti pelatihan membatik bersama di Pendopo Wiyotoprojo, Kompleks Kepatihan, Kota Yogyakarta.

Pelatihan membatik ini  menjadi ruang bagi teman difabel untuk memperluas kesempatan dalam berkarya dan berkembang, sekaligus meneguhkan keyakinan bahwa setiap manusia memiliki kemampuan untuk tumbuh, berdaya, dan menghasilkan karya yang bernilai.

Crowd of people seated and standing under a covered walkway with red carpet and red chairs, many wearing batik and headscarves at an event.
Para penyandang difabel se-DIY senang mengikuti acara pelatihan membatik bersama di Pendopo Wiyotoprojo, Kompleks Kepatihan, Kota Yogyakarta. (Foto: Setiaky A Kusuma)

Wakil Guburnur DIY, Paku Alam X, menuturkan, batik mengajarkan manusia bahwa setiap titik dan garis yang ditulis membutuhkan ketekunan, ketelitian, bahkan keberanian dalam membentuk corak, bukan ketergesa-gesaan.

Nilai tersebut, selaras dengan semangat yang diusung dalam kegiatan membatik bersama yang dilaksanakan sebagai bagian dari upaya membuka ruang dan memperluas kesempatan bagi teman difabel untuk terus berkarya.

“Dalam pengertian itulah kegiatan membatik bersama 100 difabel hari ini menjadi ikhtiar untuk membuka ruang, memperluas kesempatan dan meneguhkan bahwa setiap manusia memiliki kemampuan untuk tumbuh serta menghasilkan karya yang bernilai,” tuturnya.

Hadirkan Ruang Partisipasi

Paku Alam X menjelaskan, salah satu tantangan masa kini adalah memastikan kekayaan budaya yang ada dapat menghadirkan ruang partisipasi yang setara dan inklusif.

Inklusivitas perlu diwujudkan dengan memberikan kesempatan bagi setiap individu untuk berkarya, berkembang, serta memperoleh penghargaan yang layak atas karya yang dihasilkan.

“Dari sinilah cita-cita menjadikan Yogyakarta sebagai salah satu sentra batik difabel Indonesia memperoleh maknanya. Sebuah ekosistem tempat kebudayaan terus berkreativitas, pemberdayaan sosial, dan kemandirian ekonomi saling menguatkan,” katanya.

Founder Difabel Zone, Endang Sundayani, mengatakan, pada event kali ini pihaknya memberikan kesempatan bagi difabel-difabel di DIY untuk mengikuti pelatihan membatik.

“Nanti puncaknya di tanggal 3 Desember itu untuk kita pameran dan fashion show. Kita akan melibatkan beberapa desainer lokal Yogya juga,” katanya.

Smiling woman in a white and red uniform standing outside, with a green evacuation sign in the background.
Founder Difabel Zone, Endang Sundayani. (Foto: Setiaky A Kusuma)

Endang menuturkan pula, Difabel Zone bukan hanya memberikan pelatihan, komunitas ini juga turut memasarkan batik karya difabel.

“Kalau dari Difabel Zone beberapa negara di Eropa sudah, kemudian di Australia juga sudah. Beberapa juga ke Jepang, sudah,” ujarnya.

Endang mengatakan lagi, respons pasar mancanegara saat ini sudah membaik pasca-Pandemi Covid-19 lalu.

Batik-batik ini dipasarkan dengan harga yang bervariasi mulai dari Rp500.000 hingga Rp5 juta tergantung dari kerumitan motif yang dihasilkan.

“Kita juga mengapresiasi teman-teman, jadi mungkin upah membatik pun agak sedikit di atas upah pasar, karena kita mengapresiasi karya mereka,” ujarnya.

Close-up of a smiling woman in a bright floral shirt giving a thumbs-up outdoors in sunlight.
Peserta pelatihan membatik, Mulyani, asal Kulon Progo. (Foto: Setiaky A Kusuma)

Salah satu peserta, Mulyani asal Kulon Progo, menuturkan, dalam mengikuti pelatihan membatik ia senang, bisa mengikuti keterampilan yang benar. Dalam mengikuti pelatihan membatik ini pun tidak ada kesulitan.

“Cuma kadang kesulitannya kalau motifnya rumit dan menggunakan cantingnya agak susah,“ ucapnya.

TAGGED:
Share This Article
Teruslah Berbuat baik kepada siapapun karena hal baik itu, akan kembali padamu dengan berbagai cara
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Tidak ada komentar