Mabur.co — Ruang seni tidak hanya menjadi tempat memamerkan karya. Ruang seni bisa juga menjadi arena untuk membangun kesetaraan.
Semangat itulah yang dihadirkan dalam pameran seni rupa “Rawat, Rasa, Rupa” yang digelar Kelompok Seniman Perempuan Niti Kanti di Equalitera Artspace, Ringroad Barat, Geblagan, Tamantrito, Kasihan, Bantul DI Yogyakarta, pada 3–10 Agustus 2026.
Pameran ini menampilkan karya 12 seniman perempuan, yakni Alberta Fitri, Arita Savitri, Asri Nino, Kireina Jud Aisyah, Loka, Lully Tutus, Ratih Alsaira, Rofitasari Rahayu, Salasatul Hidayah, Wiji Astuti, Yaya Maria, dan Yuni Daud.
Secara khusus, pelukis senior Kartika Affandi turut menghadirkan sebuah karya sebagai bentuk dukungan terhadap gerakan seni yang mengusung nilai kesetaraan gender dan inklusi.

Niti Kanti merupakan kelompok seniman perempuan yang beranggotakan penyandang disabilitas dan non-disabilitas.
Kelompok ini diinisiasi oleh Jogja Disability Arts (JDA) pada awal 2026 sebagai respons atas masih terbatasnya akses dan ruang berkarya bagi perempuan, terutama seniman penyandang disabilitas.
Ruang Belajar Bersama
Lebih dari sekadar komunitas, Niti Kanti dibangun sebagai ruang aman untuk belajar, berkarya, dan berkolaborasi. Perbedaan latar belakang, pengalaman hidup, maupun kemampuan fisik dipandang sebagai kekayaan perspektif yang memperluas kemungkinan dalam praktik seni rupa.
Pembukaan pameran pada Senin (3/8) berlangsung semarak.
Selain dibuka oleh Kartika Affandi, acara dimeriahkan pertunjukan musik Budi Angkoso serta demonstrasi seni kirigami oleh Arita Savitri.
Hadir pula Direktur Equalitera Artspace Nano Warsono, Ketua Jogja Disability Arts Sukri Budi, Ketua Niti Kanti Yaya Maria, para seniman, pegiat budaya, akademisi, dan masyarakat umum.
Selama pameran berlangsung juga diselenggarakan artist talk yang membuka ruang dialog antara seniman dan publik.
Kurator pameran, Dr. Vina Puspita, memandang konsep Rawat, Rasa, Rupa berangkat dari pemahaman bahwa merawat bukan sekadar tindakan personal yang identik dengan perhatian dan kasih sayang, melainkan praktik sosial yang membentuk cara masyarakat memandang pengalaman manusia.
Menurutnya, setiap seniman dalam pameran ini menghadirkan pengalaman artistik yang berbeda-beda, mulai dari tubuh, keseharian, ingatan, material, kerja, hingga relasi dengan lingkungan.
Perbedaan tersebut tidak diseragamkan, tetapi justru dipertemukan dalam sebuah ruang dialog yang saling memperkaya.
Relasi Manusia Saling Bergantung
Vina menjelaskan bahwa pameran ini terinspirasi oleh gagasan ethics of care, yang melihat manusia sebagai makhluk yang hidup dalam relasi saling bergantung. Karena itu, pameran tidak semata berbicara mengenai representasi perempuan atau disabilitas, melainkan mengajak publik mempertanyakan cara pandang yang selama ini menentukan pengalaman siapa yang dianggap penting dan layak memperoleh ruang.
“Barangkali pertanyaannya bukan lagi apakah seni mampu merepresentasikan pengalaman perempuan atau pengalaman disabilitas. Yang lebih mendesak adalah cara pandang seperti apa yang perlu kita rawat agar semakin banyak pengalaman benar-benar dapat terlihat,” tulis Vina dalam catatan kuratorialnya.
Ketua Niti Kanti, Yaya Maria, berharap kelompok yang dipimpinnya mampu menjadi titik balik bagi semakin terbukanya ruang berkarya bagi seniman perempuan difabel.
“Saya berharap bersama Niti Kanti kami bisa mendobrak sekat-sekat yang selama ini mengungkung teman-teman difabel agar lebih aktif berkarya, tidak takut atau ragu bergabung dengan siapa pun, sehingga dapat berkembang bersama. Semoga masyarakat juga semakin menerima karya-karya seniman difabel sebagai karya yang setara dengan karya seniman non-difabel,” ujarnya.
Melalui Rawat, Rasa, Rupa, seni hadir bukan hanya sebagai objek apresiasi visual. Pameran ini menunjukkan bahwa ruang budaya dapat menjadi medium untuk merawat empati, membangun relasi yang setara, sekaligus memperluas pengakuan terhadap keberagaman pengalaman manusia.
Di tengah berkembangnya wacana inklusi di Indonesia, langkah yang ditempuh Niti Kanti menjadi penanda bahwa seni memiliki daya untuk membuka pintu-pintu yang selama ini masih tertutup bagi banyak orang. (*)
