Hari Hutan Indonesia, Apakah Hutan Kita Benar-benar Baik-baik Saja?

6 Min Read
Bamboo stalks reach upward from a forest floor, leaves forming a bright green canopy with sunlight filtering through.
Hari Hutan Indonesia yang diperingati setiap 7 Agustus berawal dari aspirasi masyarakat yang menginginkan adanya hari khusus untuk meningkatkan kepedulian terhadap kelestarian hutan. (Ilustrasi Foto: Istimewa)

Mabur.co – Hari Hutan Indonesia yang diperingati setiap 7 Agustus berawal dari aspirasi masyarakat yang menginginkan adanya hari khusus untuk meningkatkan kepedulian terhadap kelestarian hutan.

Gagasan tersebut kemudian berkembang menjadi gerakan nasional yang melibatkan berbagai komunitas, organisasi, dan pegiat lingkungan di Indonesia.

Dilansir dari harihutan.id, Jumat (6/8/2026), cikal bakal Hari Hutan Indonesia bermula dari petisi yang berhasil mengumpulkan sekitar 1,4 juta tanda tangan masyarakat.

Petisi itu disampaikan pada 7 Agustus 2020 sebagai bentuk dukungan agar Indonesia memiliki hari peringatan khusus bagi hutan.

Sejak pertama kali diperingati pada 2020, Hari Hutan Indonesia terus berkembang sebagai gerakan kolaboratif.

Hingga kini, peringatan tersebut melibatkan 27 anggota Konsorsium Hari Hutan Indonesia, lebih dari 500 organisasi dan lembaga kolaborator, serta lebih dari 3.000 juru kampanye dari berbagai daerah.

Perjalanan gerakan ini semakin mendapat pengakuan ketika pada 2024 Hari Hutan Indonesia resmi tercatat sebagai salah satu hari peringatan lingkungan dalam kalender tahunan.

Kesadaran Jaga Hutan

Pengakuan tersebut memperkuat posisinya sebagai momentum nasional untuk meningkatkan kesadaran masyarakat dalam menjaga kelestarian hutan.

Pada 2026, Hari Hutan Indonesia mengusung tema “Pulihkan Hutan, Pulihkan Kehidupan”.

Tema tersebut menegaskan bahwa pemulihan hutan menjadi fondasi penting untuk mewujudkan kehidupan yang lebih tangguh di tengah meningkatnya tantangan lingkungan.

Dalam beberapa tahun terakhir, Indonesia menghadapi berbagai persoalan, seperti meningkatnya bencana hidrometeorologi, krisis air bersih, penurunan kualitas lingkungan, hingga berkurangnya keanekaragaman hayati.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa kesehatan hutan tidak hanya menentukan keberlangsungan ekosistem, tetapi juga memengaruhi kualitas hidup, ketahanan ekonomi, dan masa depan masyarakat.

Melalui Hari Hutan Indonesia 2026, seluruh elemen bangsa diajak memandang hutan sebagai solusi, bukan sekadar sumber daya alam.

Semangat yang diusung menegaskan bahwa ketika hutan dipulihkan, kehidupan masyarakat, lingkungan, dan generasi mendatang pun akan ikut pulih.

Ketua Aliansi Mahasiswa Nusantara (AMN), Altingia Arie, menuturkan, setiap tahun kita memperingati Hari Hutan Indonesia. Namun pertanyaannya sederhana: apakah hutan kita benar-benar sedang baik-baik saja?

Hutan Indonesia telah melewati berbagai zaman, berbagai pemerintahan, dan berbagai kebijakan.

Ada kemajuan yang patut diapresiasi, tetapi juga ada luka yang belum sepenuhnya sembuh. Maka, memperdebatkan rezim mana yang paling bersalah tidak akan mengembalikan satu pohon pun yang telah hilang.

“Saya menegaskan bahwa hutan tidak pernah rusak sendirian. Di balik setiap hektare hutan yang hilang, selalu ada keputusan manusia. Alam tidak pernah menebang dirinya sendiri,” ucapnya, Jumat (7/8/2026).

Altingia Arie, mengatakan, generasi muda harus berhenti terjebak dalam perdebatan politik yang tidak menghasilkan solusi.

“Menyalahkan masa lalu memang mudah. Tapi menyelamatkan masa depan membutuhkan keberanian. Hutan tidak meminta kita memilih kubu. Hutan hanya meminta kita berhenti menjadikannya korban,” ucapnya.

Hutan Jangan Dibuka Tanpa Kendali

Altingia Arie mengingatkan bahwa ketika hutan dibuka tanpa kendali, yang hilang bukan hanya pepohonan.

“Yang ikut hilang adalah mata air, udara bersih, rumah satwa liar, ruang hidup masyarakat adat, bahkan perlindungan alami dari banjir, longsor, dan krisis iklim. Hutan adalah sistem penyangga kehidupan. Ketika ia runtuh, manusialah yang pertama merasakan akibatnya,” katanya.

Altingia juga menegaskan bahwa pembangunan dan perlindungan lingkungan bukanlah dua hal yang harus dipertentangkan.

“Indonesia berhak membangun. Tetapi pembangunan yang mengorbankan daya dukung lingkungan hanya akan mewariskan biaya yang jauh lebih mahal kepada generasi berikutnya. Kemajuan tidak boleh dihitung hanya dari panjang jalan atau tingginya gedung, tetapi juga dari seberapa utuh hutan yang masih mampu kita wariskan,” ucapnya,

Koordinator Lapangan Event AMN, Aidil Sihombing dari Medan, mengatakan anak muda tidak boleh hanya menjadi penonton.

“Kalau generasi muda hanya datang ke hutan untuk membuat konten, lalu pulang meninggalkan sampah dan diam ketika melihat kerusakan, berarti kita sedang menikmati alam tanpa pernah benar-benar mencintainya,” ucapnya.

Menurut Aidil, kepedulian terhadap hutan tidak selalu dimulai dari aksi besar.

“Mulailah dari keberanian bersuara, menghargai kawasan konservasi, tidak merusak saat mendaki, dan mendukung setiap kebijakan yang benar-benar menjaga kelestarian lingkungan. Jangan biarkan algoritma lebih menentukan perhatian kita daripada masa depan bumi,” katanya.

Sementara itu, Koordinator Humas AMN, Ade Mbois dari Surabaya, berharap Hari Hutan Indonesia menjadi momentum untuk membangun kesadaran, bukan sekadar seremoni.

“Setiap tahun kita mengucapkan ‘Selamat Hari Hutan Indonesia’. Tetapi hutan tidak membutuhkan ucapan selamat. Hutan membutuhkan lebih sedikit keserakahan dan lebih banyak keberanian untuk menjaganya,” katanya.

Ade mengatakan, suatu hari nanti, anak cucu kita mungkin tidak akan bertanya siapa presiden saat hutan rusak.

Mereka akan bertanya mengapa begitu banyak orang tahu, tetapi terlalu sedikit yang benar-benar bertindak. Semoga kita bukan bagian dari orang-orang yang hanya menjadi saksi.

Aliansi Mahasiswa Nusantara percaya, mencintai Indonesia bukan hanya bangga pada hutannya yang hijau, tetapi juga berani memastikan hijaunya tetap ada untuk generasi yang belum lahir.

Share This Article
Teruslah Berbuat baik kepada siapapun karena hal baik itu, akan kembali padamu dengan berbagai cara
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Tidak ada komentar