Mabur.co – Setiap kali Anda melintasi wilayah titik nol kilometer di kota Yogyakarta, atau kawasan perempatan Malioboro, Anda pasti akan menemukan bangunan putih besar yang satu ini.
Inilah gedung atau Kantor Cabang Utama (KCU) Bank BNI 46 di kota Yogyakarta.
Kantor ini bukan sekadar kantor cabang biasa, melainkan saksi sejarah panjang perjuangan bangsa Indonesia sejak masa kolonialisme Belanda.
Bahkan, bangunan ini juga sudah berdiri saat Yogyakarta pernah ditetapkan sebagai ibu kota sementara Republik Indonesia, tepatnya pada 1946 hingga 1949 silam.
Arsitek Belanda
Gedung ini dirancang pertama kali oleh arsitek Belanda bernama Johan Louwrens Ghijsels, dan resmi dibangun pada 1921 hingga 1922.
Dikutip dari laman Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta, Selasa (11/8/2026), awalnya bangunan ini merupakan kantor asuransi Belanda bernama NILLMIJ (Nederlandsch-Indische Levensverzekeringen en Lijfrente Maatschappij) (kini bernama Asuransi Jiwasraya di wilayah Indonesia).
Kemudian beralih fungsi menjadi kantor radio pada masa penjajahan Jepang dan awal kemerdekaan. Pada 17 Agustus 1946, gedung ini akhirnya resmi dikelola oleh Bank BNI 1946, yang baru saja didirikan pada 5 Juli 1946.
Sejak saat itu, bangunan ini resmi menjadi milik BNI 46 (singkatan dari 1946 – tahun kelahiran Bank BNI), dan telah menemani generasi demi generasi yang singgah di kawasan titik nol kilometer kota Yogyakarta.
Ciri Khas Arsitektur
Bangunan ini mengusung gaya arsitektur Art Deco kolonial, yang memiliki bentuk geometris yang tegas namun tetap rapi, dan mencerminkan sentuhan modern (pada masa kolonialisme), serta dipadukan dengan ciri khas bangunan tropis Eropa di abad ke-20.
Bagian dinding luar gedung ini diperkuat dengan deretan pilar atau kolom semu berbentuk vertikal yang menjulang tinggi, untuk memberi kesan kokoh serta tangguh terhadap bangunan yang satu ini
Bangunan ini juga dilengkapi dengan bukaan pintu, serta jendela kaca yang lebar dan tinggi khas bangunan Eropa era kolonial. Hal itu dilakukan guna memaksimalkan sirkulasi udara di sekitaran bangunan tersebut.
Sementara fasad bangunan ini dirancang secara simetris, dengan proporsi seimbang, dan menghadap langsung ke area persimpangan Titik Nol Kilometer Jogja. Sebuah pemandangan yang begitu familiar bagi siapa saja yang sering melewati area ini.
Latar Swafoto Wajib bagi Wisatawan
Beberapa wisatawan yang berkunjung ke titik nol kilometer juga turut menyempatkan diri berswafoto di depan bangunan ini, sebagai tanda bahwa mereka sudah berkunjung ke kota Yogyakarta, dan seterusnya.
Meskipun gedung ini pada akhirnya merupakan kantor bank komersial, namun keberadaannya di pusat kota Yogyakarta dan desain bangunannya yang terbilang unik tetap mampu menjadi daya tarik tersendiri bagi siapa saja yang berkunjung ke kawasan titik nol kilometer.
Seolah-olah, jika tidak ada latar gedung BNI 46 di setiap swafoto yang dihasilkan, itu artinya Anda seperti belum dianggap mengunjungi kawasan Malioboro atau titik nol kilometer kota Yogyakarta.
Sehingga berswafoto dengan latar gedung ini menjadi agenda waib yang harus dilakukan oleh para wisatawan, untuk menegaskan bahwa mereka telah benar-benar berada di pusat kota Jogja, dan menikmati setiap pengalaman seru yang ada di sana. (*)
