Arsitektur Lawang Sewu, Indahnya Ornamen Kaca Patri yang Menyimpan Sejarah Industri Kereta Api Era Hindia Belanda

5 Min Read
Lawang Sewu Semarang. (Foto: Visit Jawa Tengah)

Mabur.co – Selama ini masyarakat mengenal Lawang Sewu di Kota Semarang sebagai bangunan kuno peninggalan Belanda yang penuh aura mistis dan angker.

Padahal bangunan ini merupakan saksi sejarah kejayaan industri perkeretaapian di era masa pemerintahan kolonial Belanda. 

Tak hanya itu, kemewahan dan kemegahan bangunannya juga menjadi simbol keindahan, kekayaan, dan kemakmuran Jawa di masa itu.

Dilansir situs resmi Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, Sabtu (26/9/2026), Lawang Sewu awalnya merupakan kantor pusat perusahaan kereta api swasta pada masa Hindia Belanda, Nederlandsch-Indische Spoorweg Maatschappij (NIS). 

Sekitar tahun 1864 pemerintah Hindia Belanda membangun jalur kereta api pertama yang menghubungkan Semarang-Tanggung, Grobogan.

Keberhasilan pembangunan jalur tersebut kemudian mendorong perkembangan jaringan kereta api ke wilayah lain, termasuk Surakarta dan Yogyakarta.

Perkembangan itu pula yang membuat NIS membutuhkan kantor pusat baru yang lebih besar dari sebelumnya. 

Lawang Sewu kemudian  dibangun di atas lahan seluas sekitar 18.232 meter persegi. Pembangunan bangunan utama dimulai pada 1904 dan selesai pada pertengahan 1907.

Arsitek Lawang Sewu

Indonesia Kaya menyebut, awalnya desain bangunan Lawang Sewu dibuat oleh arsitek P. de Rieu. Tapi rancangannya tak jadi digunakan.

Jacob K. Klinkhamer, B.J. Oedang, dan dibantu arsitek muda G.C. Citroen kemudian ditunjuk untuk mendesain dengan mengacu arsitektur gaya Belanda.

Dosen arsitektur Abdul Malik, dalam penelitian berjudul Aspek Tropis pada Bangunan Kolonial Lawang Sewu Semarang di Jurnal Jurusan Arsitektur Undip menyebut, Lawang Sewu merupakan bangunan indische yang menganut gaya romanesque revival.

Yakni dengan ciri dominan yang memiliki elemen-elemen arsitektural berbentuk lengkung sederhana.

“Penyelesaian bangunan sudut dengan adanya dua fasad serta penggunaan menara, sedikit banyak diilhami oleh bentuk bangunan sudut kota-kota Eropa zaman abad pertengahan. Masih berkembang sampai saat ini,” jelasnya. 

Mutiara dari Semarang

Menurut Abdul Malik, dilihat dari keseluruhan bentuk arsitekturnya, gedung ini merupakan karya yang sangat indah sehingga dijuluki ‘Mutiara dari Semarang’.

Salah satu ciri paling menonjol dari Lawang Sewu adalah jumlah pintu yang sangat banyak. Sehingga masyarakat sekitar menyebutnya sebagai Lawang Sewu (Pintu Seribu).

Banyaknya pintu ini sengaja dibuat menyesuaikan iklim tropis sehingga udara dapat mudah keluar masuk sekaligus berfungsi untuk mempermudah mobilitas pegawai NIS. 

Selain pintu, Lawang Sewu juga memiliki daya tarik berupa ragam hiasan ornamen kaca patri yang sangat indah. Kaca patri tersebut dibuat oleh Johannes Lourens Schouten yang kaya akan simbol dan maka.

Ornamen kaca patri pertama melambangkan kemakmuran dan keindahan alam tanah Jawa beserta keragaman hayati, kekayaan flora dan fauna, serta perpaduan seni budaya Barat dan Timur. 

Kaca patri kedua bercerita tentang Semarang dan Batavia masa itu. Kaca patri ketiga menggambarkan Batavia dan Semarang sebagai pusat aktivitas maritim.

Kaca patri keempat melukiskan roda terbang serta sosok Dewi Fortuna (keberuntungan) dan Dewi Venus (cinta).

Selain itu, ada karya-karya seniman lainnya. Bidang lengkung di atas balkon dihiasi ornamen tembikar karya H.A. Koopman.

Kubah kecil di puncak kedua buah menara air dilapisi tembaga, sedangkan puncak menara dihiasi hiasan perunggu rancangan perupa L. Zijl.

Pernah Menjadi Kantor Jawatan Transportasi Jepang

Di era pendudukan Jepang, Lawang Sewu diambil alih dan digunakan sebagai Kantor Riyuku Sokyoku atau Jawatan Transportasi Jepang.

Ruang bawah tanah Lawang Sewu juga mengalami perubahan fungsi. Ruangan yang sebelumnya digunakan sebagai tempat menyimpan cadangan air untuk sistem pendingin ruangan, diubah menjadi penjara bawah tanah bagi tahanan polisi militer Jepang.

Konon ruangan bawah tanah ini juga digunakan sebagai tempat pembuangan mayat atau jenazah tahanan yang tewas dipenjara.

Hal itulah yang kemudian ikut membentuk citra Lawang Sewu sebagai bangunan yang memiliki kisah kelam dan penuh aura mistis. 

Setelah melewati berbagai periode sejarah, Lawang Sewu kini dikelola PT Kereta Api Indonesia dan difungsikan sebagai museum yang menyajikan perjalanan sejarah perkeretaapian Indonesia.

Pemprov Jawa Tengah menyebut sejumlah koleksi yang dapat ditemukan di Lawang Sewu antara lain mesin tiket, mesin TIK, replika lokomotif uap, mesin hitung, dokumen, serta berbagai foto terkait sejarah dan pemugaran bangunan.

Selain museum, Lawang Sewu juga digunakan untuk berbagai kegiatan seperti pameran, ruang pertemuan, bazar, hingga festival.

Lokasinya yang berada di kawasan Tugu Muda juga membuat bangunan ini sebagai ikon sekaligus tujuan wisata sejarah terkenal di Semarang. ***

Share This Article
Avatar photo
Jurnalis lahir dan tinggal di Jogja
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Tidak ada komentar