Stasiun Lempuyangan, Perekat Sejarah Publik Sejak Dibangun Akhir Abad 19

3 Min Read
Stasiun Lempuyangan tempo dulu. (Foto: [email protected])

Mabur.co – Terletak di kampung Tegal Lempuyangan, Bausasran, Demangan, Yogyakarta, Stasiun Lempuyangan Yogyakarta menjadi salah satu saksi sejarah perkembangan Kota Yogyakarta. 

Sebelum berbagai fasilitas transportasi modern dibuka, Stasiun Lempuyangan telah menjadi denyut nadi kehidupan masyarakat Yogyakarta sejak era pemerintah kolonial Belanda. 

Stasiun Kereta Api Pertama

Meski saat ini kalah populer dibanding Stasiun Tugu Yogyakarta, tak banyak yang tahu Stasiun Lempuyangan ternyata merupakan stasiun kereta api pertama yang dibangun di Kota Yogyakarta.

Dilansir dari laman resmi Jogja Cagar, Dinas Kebudayaan DIY, Sabtu (26/9/2026), Stasiun Lempuyangan dibangun oleh perusahaan kereta api swasta Belanda, Nederlandsch Indische Spoorweg Maatschappij (NISM) dan mulai beroperasi pada 10 Juni 1872.

Stasiun ini dibangun guna mendukung distribusi logistik berbagai komoditas penting pemerintah kolonial saat itu seperti hasil bumi.

Terlebiih di akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20, sejumlah wilayah di Yogyakarta banyak tumbuh dan berkembang perkebunan maupun industri gula. 

Pada 1912 atau saat kepemimpinan Sri Sultan Hamengku Buwono VII, sedikitnya sebanyak 17 pabrik gula bahkan tercatat berdiri di wilayah Yogyakarta.

Karena itulah Stasiun Lempuyangan dibutuhkan yakni sebagai sarana mengangkut hasil perkebunan dan industri dari wilayah pedalaman menuju jalur perdagangan dan pelabuhan.

Pusat Transportasi Angkutan Barang

Situs resmi Pemerintah Kota Yogyakarta menyebut, awalnya Stasiun Lempuyangan hanya digunakan sebagai pusat transportasi angkutan barang. Yakni untuk mengangkut komoditas gula dari pabrik-pabrik di Yogyakarta, menuju pelabuhan di Semarang. 

Namun seiring perkembangan jalur perkeretaapian di Pulau Jawa dan pertumbuhan kota-kota di sekitar Yogyakarta, Stasiun Lempuyangan kemudian digunakan untuk melayani angkutan penumpang. Termasuk menuju ke Surakarta. 

Sementara itu, Stasiun Tugu Yogyakarta sendiri baru beroperasi sekitar tahun 1887 setelah dibangun perusahaan perkeretaapian Pemerintah Hindia Belanda Staatsspoorwegen (SS) atau 15 tahun setelah Stasiun Lempuyangan berdiri.

Di awal keberadaannya, Stasiun Lempuyangan tercatat memiliki kompleks yang terdiri atas beberapa ruangan, yaitu ruang operasional, ruang administrasi, ruang utama, loket, peron, dan emplasemen jalur kereta.

Tak hanya itu, stasiun ini juga memiliki gudang penyimpanan barang, jembatan timbang, dua menara sinyal, masjid, kios, kamar mandi, dua bangunan penjaga pintu kereta api, hingga bangsal lokomotif dan kantor pekerja pemelihara bangunan. 

Seperti halnya kompleks perkantoran Pemerintah Hindia Belanda lainnya, di kawasan ini juga dibangun sejumlah rumah dinas sebagai tempat tinggal pegawai yang berada di sisi selatan stasiun. 

Gaya Indis

Arsitektur bangunan di kompleks Stasiun Lempuyangan memiliki gaya Indis khas kolonial Belanda. Antara lain atap dengan kanopi. Hingga bentuk fasad atau pintu utama yang berukuran besar dengan sejumlah jendela bukaan ganda berjalusi atau krepyak.

Khusus untuk bangunan utama Stasiun Lempuyangan Pemerintah Kota Yogyakarta telah menetapkannya sebagai bangunan cagar budaya yang dilindungi dengan pengelolaan berada di bawah PT KAI Daop VI Yogyakarta. 

Share This Article
Avatar photo
Jurnalis lahir dan tinggal di Jogja
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Tidak ada komentar