Jumlah Lapangan ‘Oversupply’, Benarkah Olahraga Padel Mulai Ditinggalkan Masyarakat?

5 Min Read
Ilustrasi permainan olahraga padel. (Foto: PB Padel Indonesia)

Mabur.co – Olahraga padel adalah salah satu fenomena baru di Indonesia. Sejak berakhirnya masa pandemi pada 2022, olahraga yang sekilas mirip tenis ini mulai mencuri perhatian di tanah air, dan ikut dimainkan oleh banyak orang.

Mulai dari orang-orang kantoran biasa, pejabat, influencer, hingga artis-artis ternama dunia, semuanya “latah” mengikuti olahraga baru ini.

Tingginya minat masyarakat terhadap padel membuat banyak pihak mulai membangun lapangan padel, guna mengakomodir kebutuhan masyarakat berolahraga padel, sekaligus membangun jejaring padel di kalangan masyarakat, seperti membuat komunitas baru, turnamen, dan sebagainya.

Dilansir dari laman YouTube Rory Asyari, Rabu (12/8/2026), beberapa titik di kota-kota besar seperti Jakarta umumnya sudah memiliki lapangan padelnya sendiri, termasuk di kota-kota penyangganya, seperti Tangerang, Bogor, Bekasi, serta kabupaten-kabupaten tertentu, dan seterusnya.

Sayangnya, hal itu menyebabkan jumlah lapangan menjadi oversupply, alias melebihi tingkat permintaan yang ada. Dengan kata lain, jumlah lapangan padel lebih banyak tersedia ketimbang para pemainnya

Terlebih, tidak semua orang di kota-kota tersebut menggemari padel, atau bahkan masih ada beberapa yang tidak mengenal padel sama sekali.

Satu-satunya konsumen tetap dari lapangan ini hanyalah komunitas padel, atau mereka yang benar-benar berkecimpung dalam olahraga ini secara profesional, dan seterusnya. Sementara sisanya cenderung naik turun, dan tidak terlalu aktif melakukan olahraga baru ini.

Di saat olahraga ini sedang tren, khususnya pada 2023 dan 2024, angka okupansi atau keterisian setiap lapangan bisa mencapai lebih dari 90% per hari.

Namun ketika jumlah pilihan lapangan menjadi semakin banyak, tingkat okupansi per lapangan mulai menurun di bawah 70% atau bahkan kurang, termasuk di luar jam-jam sibuk (prime time) saat orang bekerja.

Akibatnya, beberapa lapangan padel yang sepi mulai dijual ke investor lainnya, lantaran kurangnya penggunaan dari masyarakat sekitar untuk menyewa lapangan tersebut.

Normalisasi Industri

Sebenarnya peminat padel masih ada, dan jumlahnya pun masih bisa dibilang cukup lumayan, khususnya di kota-kota besar. Namun menurut sejumlah pakar, padel saat ini sedang berada dalam fase normalisasi industri.

Artinya konsep bisnisnya dibuat lebih matang, dengan lebih banyak memfokuskan diri terhadap para komunitas padel yang sudah ada dan berkembang dengan baik, tidak hanya asal membuat lapangan baru untuk masyarakat umum seperti sebelumnya.

Tugas industri berikutnya adalah menjaga pihak-pihak komunitas ini, untuk tetap aktif dan terus mengembangkan diri, salah satunya dengan rutin mengadakan turnamen dan mengajak orang-orang baru untuk ikut bermain.

Dengan begitu, keterisian lapangan dapat terus terjaga, permainan kompetitif dapat terus dibangun, dan sosialisasi kepada masyarakat umum juga masih bisa dilakukan secara rutin.

Hanya saja, kesalahan terbesarnya adalah terburu-buru membangun lapangan sebanyak-banyaknya, di saat para pemain olahraga ini masih belum seberapa.

Bahkan mereka juga belum begitu tertarik dengan olahraga ini sepenuhnya, apalagi jika rutin menyempatkan waktu untuk bermain bersama kolega-koleganya, dan seterusnya.

Ketika jumlah lapangan yang tersedia justru melampaui jumlah pemain yang ada, akibatnya para pemain tersebut mempunyai terlalu banyak pilihan, yang membuat keterisian satu lapangan tertentu menjadi berkurang.

Padahal, agar suatu lapangan padel bisa terus survive, mereka butuh pemasukan dari biaya sewa yang dikeluarkan oleh para pemain tersebut, dan seterusnya.

Apalagi jika rutin mengadakan turnamen kompetitif (dan berhadiah menarik), maka peluang okupansi lapangan tersebut pastinya akan lebih besar.

Bagaikan pepatah lama, segala sesuatu yang naik (booming) terlalu cepat, kemungkinan untuk jatuh atau turunnya juga cenderung tinggi, alias hanya musiman semata. Hal itu pula yang sepertinya sedang dialami olahraga padel saat ini.

Ketika olahraga ini sedang viral-viralnya, semua orang berlomba memainkan padel di berbagai lapangan yang tersedia di mana-mana. Namun ketika sudah mencapai titik jenuh atau semacamnya, keviralan olahraga ini juga perlahan mulai merosot drastis, sedangkan lapangan sudah terlanjut dibuat, dan investor pun juga sudah terlanjur membelanjakan uangnya untuk pembangunan lapangan tersebut.

Akhirnya bisnis ini perlahan mulai memudar, jika tidak ingin dikatakan mati total. Sehingga fase normalisasi adalah sebuah keharusan, agar membuat olahraga ini tetap hidup dan tumbuh di tengah-tengah masyarakat, sekaligus menjadi pilihan olahraga yang cocok dimainkan oleh siapa saja. (*)

Share This Article
Avatar photo
Lulusan program studi Jurnalistik STMM Yogyakarta, Jurnalis mabur.co, Writing Is Journey Of My Life
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Tidak ada komentar