Sleman Kite Festival 2026 Ruang Perjumpaan Antar-Komunitas, Rayakan Permainan Tradisional

3 Min Read
Sleman Kite Festival 2026 usung tema We Share One Sky digelar di Pondok Pesantren Minggir Gus Muwafiq, Sendangrejo, Minggir, Sleman. (Foto: Setiaky A Kusuma)

Mabur.co – Langit di atas Kabupaten Sleman kembali dihiasi warna-warni layang-layang. Namun, kali ini bukan sekadar permainan yang mengajak mata menengadah.

Sleman Kite Festival 2026 memang ruang perjumpaan bagi masyarakat, komunitas, seniman, pelaku ekonomi kreatif, hingga generasi muda untuk merayakan budaya sekaligus kepedulian terhadap lingkungan.

Penanggung jawab acara, Kasan Kurdi menjelaskan, Sleman Kite Festival 2026 yang digelar pada 27 September 2026 ini memang mengusung tema “We Share One Sky”.

Oleh sebab itu, Sleman Kite Festival 2026 membawa pesan sederhana tetapi kuat. Setiap orang, apa pun latar belakangnya, berada di bawah langit yang sama.

Pertemukan Tradisi dan Inovasi

Dari gagasan itu, adanya festival mempertemukan tradisi dan inovasi, komunitas dan kreativitas, serta budaya dan lingkungan dalam suasana yang inklusif.

“Layang-layang dipilih bukan tanpa alasan. Dalam kehidupan masyarakat agraris, layang-layang tumbuh dari kedekatan manusia dengan alam.  

Hamparan sawah, embusan angin, dan ruang terbuka menjadi bagian dari pengalaman budaya tersebut. Karena itu, festival ini mencoba menghidupkan kembali hubungan sederhana manusia dengan alam yang mulai terasa semakin jauh,” ucapnya saat ditemui di Pondok Pesantren Minggir Gus Muwafiq, Sendangrejo, Minggir, Sleman, Minggu (27/9/2026).

Kasan Kurdi menuturkan, di tengah isu perubahan iklim dan semakin terbatasnya ruang terbuka, layang-layang dapat menjadi pintu masuk untuk berbicara mengenai lingkungan. Terlebih bagi generasi muda.

“Permainan tradisional ini diharapkan tidak hanya menghadirkan kesenangan, tetapi juga menumbuhkan kesadaran bahwa alam merupakan bagian penting dari kehidupan bersama,” ucapnya.

Kepala Dinas Pariwisata Sleman, Edy Winarya, S.Sn., M.S, menuturkan, festival layang-layang melibatkan kolaborasi lintas sektor, sekaligus membuka ruang bagi gagasan baru dan kerja sama yang lebih luas.

Sleman Kabupaten Kreatif

Kegiatan ini membawa harapan untuk memperkuat identitas Sleman sebagai kabupaten kreatif. Budaya dan lingkungan tidak ditempatkan sekadar sebagai latar sebuah acara, melainkan sebagai ruang hidup bersama.

“Di dalamnya, masyarakat dapat berbagi cerita, kreativitas, harapan, dan gagasan mengenai masa depan,” ucapnya. 

Kepala Dinas Pariwisata Sleman, Edy Winarya, S.Sn., M.S. (Foto: Setiaky A Kusuma)

Menurut Edy, festival ini juga membuka ruang bagi pelaku UMKM, komunitas layang-layang, seniman, serta masyarakat umum.

Pertemuan berbagai unsur tersebut diharapkan menciptakan suasana gotong royong yang membuat festival terasa dekat dengan kehidupan warga, bukan hanya menjadi tontonan sesaat.  

“Saya mengajak generasi muda kembali merawat bumi dan tradisi melalui berbagai bentuk kreativitas. Melalui Sleman Kite Festival 2026, saya ingin mengajak masyarakat menikmati sesuatu yang mungkin terlihat sederhana yakni menatap layang-layang yang menari bersama angin.

Dari sana, muncul pesan yang lebih dalam tentang kebersamaan, keberagaman, budaya, dan kepedulian terhadap bumi. Sebab, seperti tema yang diusung, di bawah satu langit yang sama, ada ruang bagi siapa pun untuk berbagi kreativitas, menjaga alam, dan menumbuhkan harapan,” katanya.

Share This Article
Teruslah Berbuat baik kepada siapapun karena hal baik itu, akan kembali padamu dengan berbagai cara
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Tidak ada komentar