Mabur.co – Dunia penulisan sastra, khususnya sastra berbahasa daerah (Jawa, Sunda, Bali, dan seterusnya), terus menghadapi tantangan yang sama sekali tidak mudah. Di tengah kemajuan teknologi yang semakin masif dalam beberapa tahun terakhir, penulisan karya sastra dalam bahasa daerah jadi makin sulit ditemui, dan hanya digeluti oleh segelintir orang saja.
Salah satu yang masih menggeluti penulisan karya sastra dengan bahasa daerah, dalam hal ini bahasa Jawa, adalah seorang Bambang Nugroho, seorang pensiunan PNS yang aktif menelurkan berbagai karya sastra, termasuk sastra Jawa, sejak puluhan tahun silam.
Eksistensi Banu (panggilan akrab Bambang Nugroho) di dunia kepenulisan sastra Jawa tentunya sudah tidak dapat diragukan lagi.
Akhir tahun lalu saja, ia sempat merilis buku antologi cerkak terbaru berjudul “Hotel Indah”, yang berisi 23 cerkak terkait dinamika kehidupan sehari-hari, seperti dinamika kehidupan rumah tangga, percintaan, hingga pengalaman Banu sendiri saat masih aktif bekerja di KPU selama satu dekade.
Meskipun telah menggeluti dunia kepenulisan sastra Jawa sejak lama, ia justru tidak mengawali kariernya di bidang ini dalam bahasa Jawa, melainkan dalam bahasa Indonesia.
“Saya tuh awalnya mulai dari nulis sastra Indonesia, tapi lama-kelamaan saya merasa bahwa saya cenderung lebih nyaman dengan menulis pakai bahasa Jawa. Akhirnya saya beralih ke (sastra) bahasa Jawa pada tahun 81 (1981) atau 82 (1982),” tutur Bambang Nugroho, dalam sesi diskusi buku “Hotel Indah” di acara Selasa Sastra di Kelingan Garden & Cafe, Bejen, Bantul, sebagaimana dilansir dari kanal YouTube Bang Tedi Way, beberapa waktu lalu.
Cerita Fiktif Berdasarkan Kisah Nyata
Dalam perjalanannya, Banu lebih banyak menuliskan karya sastra berdasarkan fakta yang terjadi di lapangan. Namun diberi sedikit penokohan tambahan, agar ceritanya menjadi lebih menarik, dan memiliki pesan moral yang layak untuk disampaikan kepada masyarakat luas.
“Ide-ide tulisan saya itu kebanyakan muncul dari peristiwa yang nyata. Lalu saya olah menjadi imajinasi sendiri, termasuk dalam hal nama (penokohan). Jadi nama-nama itu kayak terlintas gitu aja di pemikiran saya, dan langsung aja saya masukkan ke dalam penokohan di cerkak saya,” lanjut Bambang.
Ada pun dalam karya sastra Jawa terbarunya yang berjudul “Hotel Indah”, Banu merujuk pada salah satu hotel di Bantul, yakni Hotel Ros-In, yang berlokasi di Jalan Ringroad Selatan, Sewon, Bantul. Banu yang dulunya bekerja di KPU, seringkali mendapat undangan untuk menghadiri pertemuan di hotel tersebut.
Sehingga kenangan di hotel itu menjadi salah satu cerita yang dimuat di dalam antologi cerkak miliknya, sekalipun dikemas dengan nama-nama fiktif di dalamnya. Hal yang sama juga berlaku untuk nama hotelnya, yang dibalut dengan frase “Indah”, alih-alih nama Ros-In itu sendiri. (*)
