Mabur.co – Deru lokomotif uap dan peluit panjang yang oleh masyarakat jamak disebut sebagai sepur kluthuk telah lama bungkam di Kabupaten Sleman. Dulu, kabupaten ini dilintasi rel kereta api yang menghubungkan Jogja dengan Magelang.
Dibangun pada 1 Juli 1898 oleh Nederlandsch-Indische Spoorweg Maatschappij (NIS), jalur kereta ini pernah menjadi urat nadi ekonomi dan mobilitas warga Sleman bagian barat dan utara.
Namun, sejarah mencatat, bencana lahar dingin Gunung Merapi pada akhir 1974 hingga awal 1975 menjadi akhir dari segalanya. Sisa-sisa kejayaan jalur kereta api Jogja-Magelang berupa stasiun masih dijumpai di Sleman. Masih ada bangunan stasiun yang masih relatif utuh. Namun ada pula yang sudah berganti wajah. Yang pasti, semuanya kini sudah berganti fungsi.
Lima Stasiun
Subandi Riyanto, pemandu wisata menuturkan, menarik jika menelusuri bekas stasiun yang ada di Sleman. Setidaknya ada lima stasiun di Sleman yang pernah menjadi tempat pemberhentian KA yang melaju dari Jogja menuju Magelang dan sebaliknya.
“Salah satunya adalah Stasiun Tempel yang berada di ujung utara Sleman. Bangunan stasiunnya masih relatif utuh. Saat ini tempat tersebut digunakan untuk Taman Penitipan Anak.

Di sebelah selatannya, terdapat bekas Stasiun Medari. Stasiun ini dulu sibuk melayani angkutan tebu dari pabrik gula, kini mengabdikan diri pada kesehatan dan pendidikan. Sedangkan di daerah Tridadi, dulu berdiri kokoh Stasiun Beran. Kini, hanya tinggal segelintir jejak stasiun yang tersisa. Bangunan ini kini digunakan untuk Koramil,” ucapnya, Rabu (19/8/2026).
Subandi menjelaskan, di sekitar Jalan Magelang Km 7,8, dulu pernah berdiri Stasiun Mlati. Kini tempat itu digunakan untuk Pos Polisi.
“Meski sudah berubah bentuk, masih ada beberapa jejak stasiun yang tersisa. Sedangkan di Sinduadi pernah berdiri Stasiun Kutu,” ucapnya.
Menurut Subandi, pada awalnya jembatan rel kereta api Pangukan merupakan peninggalan sejarah pada masa kejayaan perkebunan tebu di wilayah Sleman.
Jembatan ini dibangun oleh Nederlandsch Indische Spoorweg Maatschappij (NIS) tahun 1896 sebagai sarana transportasi barang maupun manusia dari Jalur Yogyakarta–Magelang.
“Magelang mulai ramai dengan adanya industri, sekolah, rumah sakit, dan basis militer. Oleh karena itu pemerintah kolonial kemudian menghubungkan Magelang dengan kota lainnya di Jawa seperti Semarang, Yogyakarta dan Parakan.
Keistimewaan Konstruksi
Jalur kereta api ke Magelang merupakan perpanjangan jalur dari Semarang–Ambarawa–Secang. Kemudian dihubungkan dengan Yogyakarta. Keistimewaan dari jembatan rel kereta api ini adalah konstruksi roll dan sendi/engsel yang terletak di ujung jembatan Berfungsi untuk meredam getaran saat kereta api melintas,” katanya.
Menurut Subandi pula, pada sudut tumpu jembatan pada keempat ujung bawah terdapat sistem roll dan engsel untuk mengamankan ruas jembatan agar terhindar dari bahaya patah atau melengkung ketika dilewati kereta.
Ketika kereta api lewat, maka beban tekan dan beban tariknya akan dieliminasikan oleh pergerakan roll dan engsel. Selain itu di tengah jembatan terdapat pengamanan untuk orang ketika kereta lewat.
“Jembatan rel kereta api ini menjadi bukti keberadaan jalur Yogyakarta-Magelang sehingga memiliki nilai penting bagi kepentingan sejarah dan ilmu pengetahuan,” katanya. ***
