Mabur.co – Sebanyak 30 peserta yang merupakan perwakilan dari enam komunitas lokal, yakni Historia 24249, Paguyuban Pegiat Sejarah Kepolisian Yogyakarta, Jogjakarta 45, MGMP Sejarah, MGMP IPS, serta Sembada Muda Historia, mengikuti kegiatan Internalisasi Sejarah #2 Sejarah Jalur Kereta Api di Sleman yang diadakan oleh Dinas Kebudayaan Kabupaten Sleman.
Kepala Seksi Sejarah dan Permuseuman Dinas Kebudayaan Sleman, May Hartini, menjelaskan, Kabupaten Sleman merupakan salah satu daerah di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta yang memiliki kekayaan sejarah dan budaya yang sangat tinggi.
Berbagai peninggalan sejarah seperti candi serta situs-situs bersejarah lainnya menjadi bukti bahwa Sleman memiliki peran penting dalam perjalanan sejarah peradaban Jawa dan Nusantara.
Selain warisan fisik, Sleman juga menyimpan sejarah perjuangan rakyat dalam mempertahankan kemerdekaan, serta berbagai kisah lokal yang bernilai edukatif dan inspiratif.
Namun, seiring perkembangan zaman dan kemajuan teknologi, minat masyarakat khususnya generasi muda terhadap sejarah lokal cenderung menurun.
Narasi Sejarah yang Belum Terdokumentasi
“Banyak narasi sejarah lokal yang belum terdokumentasi dengan baik, bahkan berisiko terlupakan jika tidak segera dilakukan upaya pelestarian. Padahal, sejarah lokal merupakan identitas yang memperkuat rasa kebanggaan dan keterikatan masyarakat terhadap daerahnya,” ujarnya, Rabu (19/8/2026).

May menuturkan, kegiatan ini bertujuan untuk menggali, melestarikan, dan menyebarluaskan pengetahuan tentang sejarah lokal kepada masyarakat, khususnya pelajar, pendidik, dan komunitas sejarah.
Selain itu, kegiatan ini diharapkan mampu memperkuat jejaring antar-pemerhati sejarah serta meningkatkan partisipasi masyarakat dalam pelestarian nilai-nilai kesejarahan.
“Melalui kegiatan ini, diharapkan terbentuk generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki kesadaran historis, cinta tanah air, dan rasa tanggung jawab untuk menjaga warisan sejarah daerahnya. Pembinaan dan pengembangan kesejarahan menjadi langkah penting dalam membangun karakter bangsa yang berakar pada nilai-nilai lokal dan nasional,” ucapnya.
Menanamkan Nilai-nilai Sejarah
Kabid Sejarah, Bahasa, Sastra dan Permuseuman, Joko Dwiharyadi menuturkan, internalisasi sejarah merupakan kegiatan edukatif yang bertujuan memperkenalkan dan menanamkan nilai-nilai sejarah kepada peserta, khususnya generasi muda, melalui kunjungan langsung ke lokasi-lokasi bersejarah.
“Kegiatan ini memadukan pembelajaran sejarah secara kontekstual, reflektif, dan partisipatif,” katanya.

Joko mengatakan, kegiatan melibatkan generasi muda khususnya di wilayah Kabupaten Sleman dan juga masyarakat umum.
“Kegiatan ini diharapkan agar masyarakat umum dan generasi muda dapat mengenali sejarah lokal di Kabupaten Sleman dengan cara yang lebih menyenangkan, sehingga berlanjut pada kegemaran mereka akan sejarah dan bisa melakukan pengembangan serta pelestarian,” katanya.
Perwakilan MGMP IPS Sleman dari SMP Negeri 1 Prambanan, Agnes Wijayanti, mengungkapkan bahwa pengalaman menyusuri jejak rel kereta api di Sleman merupakan hal baru baginya.

”Jujur ini pertama kalinya saya menyusuri langsung jejak rel kereta di Sleman dan rasanya sangat seru. Selama ini materi spesifik mengenai sejarah rel di Sleman belum masuk dalam kurikulum pembelajaran kami. Setelah ikut kegiatan ini, kami jadi punya bahan cerita dan materi konkret untuk dibagikan kepada anak-anak di sekolah,” ungkapnya.
Perwakilan MGMP IPS Sleman dari SMA Negeri 1 Ngemplak, Sigit Susila, menyatakan sangat senang sekali ikut kegiatan ini karena menambah wawasan.
Jalur Kereta Api Dihidupkan Lagi
“Tadinya saya tidak tahu tentang sejarah kereta api. Ada kenangan yang luar biasa pada zaman dulu. Kereta api betul-betul dimanfaatkan untuk kaitannya dengan komoditi barang yang sangat mendukung. Termasuk juga perjuangan pada masa yang dulu ternyata kereta api sangat membantu sekali.
Saya berharap kalau bisa dihidupkan kembali karena jalan sekarang begitu ramainya. Kalau memungkinkan dihidupkan kembali untuk jalur transportasi manusia, karena sambil bernostalgia sekaligus juga bisa mengurangi kepadatan. Karena dengan kereta api itu lebih irit dari segi biaya dan sebagainya daripada mobil-mobil atau kendaraan pribadi,” ucapnya.

Sementara itu, Ketua Umum Pengurus Pusat Keluarga Alumni Sejarah Gadjah Mada (KASAGAMA), Wahjudi Djaja, S.S., M.Pd, menuturkan, banyak warga Sleman belum banyak paham keberadaan Jembatan Pangukan atau jaringan kereta api.
“Kita harapkan dengan menggerakkan komunitas bisa memperluas pemahaman sejarah yang ada di Sleman karena memang ini merupakan jaringan kota lama, dekat pabrik gula sehingga bisa membangkitkan rasa identitas daerah. Ternyata Kabupaten Sleman punya jaringan sejarah panjang yang menghubungkan antar-kota sehingga perlu disadari, perlu dirawat, perlu dilestarikan untuk beragam kepentingan,” katanya.
