Perkuat Pengenalan Nilai Budaya, Pemda DIY Luncurkan Buku Panduan Pendidikan Khas Kejogjaan

5 Min Read
Two black hardcover books with gold Indonesian titles resting on a blue padded mat with a gold trim and patterned covers.
Buku Panduan Pendidikan Khas Kejogjaan untuk Pendidikan Tinggi. (Foto: Setiaky A Kusuma)

Mabur.co – Guna memperkuat pengenalan dan pengintegrasian nilai-nilai budaya serta kekhasan Yogyakarta dalam pelaksanaan pendidikan tinggi di Daerah Istimewa Yogyakarta, Pemerintah Daerah (Pemda) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) bekerja sama dengan Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDikti) dan Dewan Pendidikan Daerah Istimewa Yogyakarta menyelenggarakan Launching Buku Pendidikan Khas Kejogjaan.

Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono X, menuturkan, Pendidikan Khas Kejogjaan (PKJ) justru memastikan agar kemajuan ilmu dan teknologi tetap berpihak pada keselamatan bumi, keadilan, dan kesejahteraan manusia.

Tidak Menutup Diri terhadap Lokalitas

“Kehadiran PKJ pada jenjang pendidikan tinggi bukan berarti DIY menutup diri dalam lokalitas. Sebaliknya, PKJ menjadi bagian dari kontribusi Yogyakarta bagi kebijakan pendidikan tinggi nasional, dengan menunjukkan bagaimana nilai lokal dapat menjadi sumber inovasi, bukan sekadar pelengkap identitas daerah,” ucapnya, Kamis (20/8/2026) di Gedung Rektorat, Universitas Negeri Yogyakarta.

Man in a pink patterned shirt speaks at a podium with a microphone, reading from a folder, in a wood-paneled room with a blue screen backdrop.
Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono X, saat memberikan sambutan peluncuran
Buku Panduan Pendidikan Khas Kejogjaan untuk Pendidikan Tinggi. (Foto: Setiaky A Kusuma)

Sri Sultan Hamengku Buwono X, menuturkan, PKJ hadir sebagai ikhtiar untuk memperpendek jarak antara ilmu pengetahuan yang dipelajari di ruang kuliah dengan kehidupan masyarakat.

Menurutnya, ilmu tidak seharusnya berhenti pada buku teks, ujian, maupun ijazah, tetapi perlu kembali dan memberi manfaat bagi kehidupan yang menjadi tempat ilmu itu tumbuh.

“Pendidikan Khas Kejogjaan, yang hari ini kita luncurkan bersama, adalah ikhtiar untuk mempersingkat jarak itu. Bukan dengan menambah mata kuliah sebagai formalitas, melainkan dengan mengajak ilmu pengetahuan untuk pulang: singgah dahulu pada nilai, sebelum ia bekerja di dunia,” ujarnya.

Sri Sultan, mengatakan, pendidikan pada dasarnya tidak hanya menjawab pertanyaan tentang bagaimana ilmu bekerja, tetapi juga untuk apa ilmu tersebut digunakan.

Hamemayu Hayuning Bawana

Karena itu, keunggulan ilmu perlu diukur dari kemampuannya memberi manfaat bagi kehidupan, sebagaimana filosofi Hamemayu Hayuning Bawana.

“Yogyakarta, melalui kekhasannya, menawarkan satu jawaban untuk pertanyaan kedua itu, yakni Hamemayu Hayuning Bawana. Sebuah falsafah yang mengajarkan bahwa keunggulan ilmu harus diukur dari kemampuannya merawat harmoni. Harmoni antara manusia dengan sesamanya, manusia dengan alam, dan manusia dengan Yang Maha Kuasa. Ilmu yang hebat namun merusak harmoni ini, betapa pun canggihnya, telah kehilangan arah,” ucapnya.

Ketua Dewan Pendidikan DIY, Prof. Dr. Sutrisna Wibawa, M.Pd, menjelaskan, Yogyakarta memiliki kedudukan istimewa dalam perjalanan pendidikan di Indonesia.

“Yogyakarta telah menjadi ruang lahirnya para pemikir, ilmuwan, pemimpin, dan generasi muda yang memberikan kontribusi bagi bangsa. Keistimewaan tersebut juga tumbuh dari nilai-nilai luhur yang telah mengakar dalam kehidupan masyarakat Yogyakarta. Filosofi Hamemayu Hayuning Bawana, Sawiji, Greget, Sengguh, Ora Mingkuh, serta semangat Golong Gilig, dinilai mengandung pesan tentang harmoni, keteguhan, tanggung jawab, dan kebersamaan yang relevan bagi pendidikan tinggi,” ucapnya.

A man in a maroon traditional shirt speaks at a podium with a microphone, while a banner behind him reads'Pendidikan Khas Kejagoaan' and shows a patterned black design.
Ketua Dewan Pendidikan DIY, Prof. Dr. Sutrisna Wibawa, M.Pd. (Foto: Setiaky A Kusuma)

Sutrisna mengatakan, perguruan tinggi memiliki tanggung jawab untuk menghasilkan sumber daya manusia yang unggul dalam ilmu pengetahuan dan teknologi, sekaligus memiliki karakter, integritas, kepekaan sosial, dan pemahaman terhadap akar budaya.

“Hadirnya Buku Panduan Pendidikan Khas Kejogjaan untuk Pendidikan Tinggi merupakan langkah yang baik untuk mempertemukan pendidikan, ilmu pengetahuan, dan kebudayaan dalam proses pembelajaran di perguruan tinggi,” katanya.

Dikembangkan Secara Kontekstual

Sutrisna menilai, integrasi nilai-nilai Kejogjaan ke dalam kurikulum perlu dikembangkan secara kontekstual dan kreatif. Nilai budaya tidak cukup hanya dipahami sebagai pengetahuan, tetapi perlu diterjemahkan menjadi pengalaman belajar yang membentuk cara berpikir, cara bersikap, serta cara mahasiswa menggunakan ilmu pengetahuan untuk memberikan manfaat bagi masyarakat. Terlebih, mahasiswa yang belajar di Yogyakarta berasal dari berbagai daerah dan latar belakang.  

“Di sinilah Yogyakarta memiliki kesempatan untuk menjadi ruang perjumpaan antara kearifan lokal dan keberagaman Indonesia. Mari kita jadikan pendidikan tinggi sebagai ruang tempat ilmu pengetahuan berkembang, inovasi tumbuh, dan nilai-nilai luhur bangsa tetap hidup serta diwariskan pada generasi berikutnya,” katanya.

Menurut Sutrisna pula, PKJ merupakan pendidikan karakter yang berlandaskan nilai-nilai Kejogjaan dengan semangat inklusif dan kolaboratif.

“Materinya mengintegrasikan nilai luhur yang berkembang di Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat, Kadipaten Pakualaman, Taman Siswa, Nahdlatul Ulama, dan Muhammadiyah, serta diperkaya dengan nilai-nilai pendidikan modern,” katanya.

Sementara itu, Ketua LLDikti Wilayah V, Prof. Setyabudi Indartono, menjelaskan, penerapan Pendidikan Khas Kejogjaan akan dilakukan secara fleksibel.

PKJ tidak harus dibuat menjadi mata kuliah baru. Nilai-nilai PKJ dapat dimasukkan ke dalam mata kuliah yang sudah ada dengan menyesuaikan karakter masing-masing perguruan tinggi, fakultas, dan program studi.

“PKJ ini akan mewarnai proses pembelajaran, kemudian penelitian, dan juga pengabdian di perguruan tinggi,” jelasnya.

Share This Article
Teruslah Berbuat baik kepada siapapun karena hal baik itu, akan kembali padamu dengan berbagai cara
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Tidak ada komentar