Lengkapi Rangkaian Sekaten, Suara Gamelan Magis Membahana di Masjid Gedhe Kauman

4 Min Read
Group of musicians in turquoise traditional outfits playing percussion instruments in an indoor hall.
Abdi Dalem Niyaga sedang menabuh gamelan di Pagongan Kidul Masjid Gedhe Kauman. (Foto: Setiaky A Kusuma)

Mabur.co – Budaya Sekaten di Yogyakarta sudah tidak asing lagi. Suara gamelan pun bisa terdengar dari kawasan Masjid Gedhe Kauman.

Jika diperhatikan gamelan yang dimainkan dalam tradisi tersebut memang satu perangkat yakni gamelan Kanjeng Kiai Gunturmadu dan Kanjeng Kiai Nagawilaga. 

Keduanya memang merupakan dua perangkat Gamelan Sekati milik Keraton Ngayogyakarta yang selalu hadir bersama dalam rangkaian Sekaten.

Gamelan Sekati Simpan Sejarah Panjang

Menariknya, keberadaan dua gamelan tersebut bukan tanpa alasan. Keduanya menyimpan cerita sejarah yang panjang, bahkan berkaitan dengan perjalanan Kerajaan Mataram hingga terbentuknya Kesultanan Yogyakarta dan Kasunanan Surakarta.

Carik Kawedanan Kaprajuritan Keraton Yogyakarta, MJ. Yuda Kawindra, menjelaskan, dalam lingkungan Keraton Ngayogyakarta, Gamelan Sekati memang terdiri dari dua perangkat, yaitu Kanjeng Kiai Gunturmadu dan Kanjeng Kiai Nagawilaga.

Keduanya termasuk gamelan pusaka yang secara khusus dimainkan dalam perayaan Sekaten. Ada dua perangkat yang menempati tempat berbeda ketika dibawa ke Masjid Gedhe Kauman.

Kiai Gunturmadu ditempatkan di Pagongan Kidul atau sisi selatan masjid, sedangkan Kiai Nagawilaga berada di Pagongan Lor atau sisi utara.

“Keduanya kemudian dimainkan secara bergantian selama rangkaian Sekaten,” ujarnya, Rabu (19/8/2026) malam.

MJ. Yuda Kawindra, menjelaskan, Gamelan Sekati yang dimiliki Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat merupakan warisan dari Kerajaan Mataram. 

Pada awalnya terdapat Kiai Gunturmadu dan Kiai Guntursari. Kemudian pada 1755 terjadi Perjanjian Giyanti yang membagi Kerajaan Mataram menjadi Kesultanan Yogyakarta dan Kasunanan Surakarta.

“Pembagian tersebut juga berpengaruh pada dua perangkat gamelan tadi. Kiai Gunturmadu menjadi milik Kesultanan Yogyakarta, sementara Kiai Guntursari berada di Kasunanan Surakarta,” ucapnya.

Duplikat Gamelan

MJ. Yuda Kawindra kembali menuturkan, setelah Kiai Guntursari berada di Surakarta, Kesultanan Yogyakarta membuat duplikat dari gamelan tersebut.

Duplikat tersebut kemudian diberi nama Kiai Nagawilaga. Dengan cara tersebut, kelengkapan Gamelan Sekati di Yogyakarta  kembali menjadi dua perangkat.  Yakni, gamelan Kiai Gunturmadu dan Kiai Nagawilaga.

Jadi, keberadaan Kiai Nagawilaga bukan karena Keraton Yogyakarta secara kebetulan memiliki gamelan tambahan.

“Gamelan tersebut dibuat untuk melengkapi kembali pasangan Gamelan Sekati setelah pembagian Mataram,” katanya.

Menurut MJ. Yuda Kawindra pula, Guntur Madu dapat dimaknai dari kata ‘guntur’ yang berarti runtuh dan ‘madu’ yang bermakna anugerah. Gabungan tersebut dimaknai sebagai anugerah yang turun.

Sementara Nagawilaga berasal dari beberapa unsur kata.  ‘Naga’ dikaitkan dengan ular dan makna kelestarian, sedangkan ‘wilaga’ berkaitan dengan perang. Nama tersebut kemudian dimaknai sebagai kemenangan yang lestari dalam peperangan.

“Makna tersebut menambah cerita di balik dua gamelan yang setiap tahun menjadi bagian dari Sekaten,” katanya.

Dakwah Islam

MJ. Yuda Kawindra juga menuturkan, Sekaten memiliki kaitan dengan dakwah Islam di Jawa.

Pada masa perkembangan Islam, kesenian digunakan sebagai cara untuk menarik perhatian masyarakat agar datang mendekat dan kemudian mendengarkan dakwah.

“Gamelan menjadi pilihan karena kesenian tersebut sudah dekat dengan kehidupan masyarakat Jawa,” katanya.

Suara Gamelan Sekati pun memiliki posisi penting dalam rangkaian Sekaten. Ketika dua perangkat gamelan tersebut mulai dikeluarkan dari keraton melalui prosesi Miyos Gangsa, masyarakat mengetahui bahwa rangkaian Sekaten sungguh telah dibuka.

“Dalam pelaksanaan Sekaten, kedua gamelan kemudian ditempatkan di Pagongan Masjid Gedhe Kauman dan dimainkan. Dalam prosesi tersebut, dua gamelan pusaka keraton, yakni Kanjeng Kiai Gunturmadu dan Kanjeng Kiai Nagawilaga, dikeluarkan dari keraton menuju Kagungan Dalem Masjid Gedhe Kauman. Gamelan dibunyikan selama tujuh hari di Masjid Gedhe dalam rangkaian Sekaten,” ucapnya.

Share This Article
Teruslah Berbuat baik kepada siapapun karena hal baik itu, akan kembali padamu dengan berbagai cara
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Tidak ada komentar