Mabur.co – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mendorong penggunaan rumah modular tahan gempa buatannya untuk mendukung proses rehabilitasi dan rekonstruksi hunian warga terdampak gempa di Nusa Tenggara Timur (NTT).
Dorongan tersebut muncul setelah tiga rumah prototipe BRIN di Dusun Rangko, Desa Tanjung Boleng, Kecamatan Boleng, Kabupaten Manggarai Barat, tetap berdiri setelah diguncang gempa magnitudo 7,7 pada 15 Agustus 2026.
Hasil pemeriksaan lapangan menunjukkan tidak ditemukan kerusakan struktural pada dinding, kolom maupun fondasi ketiga rumah tersebut.
Kerusakan Ringan
Kerusakan yang ditemukan hanya bersifat ringan dan nonstruktural. Di antaranya sejumlah keramik dinding kamar mandi yang terlepas dari ikatan semen pada panel Sandwich EPS dan pecah akibat guncangan.
Perekayasa Ahli Muda BRIN, Vian Marantha Haryanto, mengatakan ketiga rumah tersebut memang dirancang menggunakan teknologi konstruksi tahan gempa untuk wilayah dengan risiko kegempaan tinggi.
“Rumah-rumah ini dirancang khusus dengan teknologi konstruksi tahan gempa untuk wilayah rawan bencana seperti NTT. Hasil ini membuktikan bahwa desain dan metode konstruksi yang kami terapkan mampu melindungi struktur bangunan,” ujar Vian dilansir situs resmi BRIN.
Menurutnya, gempa besar yang mengguncang NTT menjadi ujian langsung bagi teknologi rumah tahan gempa yang telah dikembangkan BRIN.
Meski hasil pemeriksaan menunjukkan struktur bangunan tetap baik, BRIN masih akan melakukan pengujian lanjutan di laboratorium Pusat Riset Kekuatan Struktur untuk memperoleh validasi teknis.
Teknologi Rumah Modular
Teknologi rumah modular tahan gempa BBRIN sendiri telah dikembangkan sejak 2019. Pengembangan dilakukan secara bertahap melalui pembangunan sejumlah prototipe di beberapa daerah.
Di antaranya dua unit rumah di Kabupaten Tangerang, rumah dua lantai di Kabupaten Lebak pada 2021, serta tiga unit rumah di NTT pada akhir 2021.
Teknologi tersebut kemudian terus disempurnakan. Pada generasi kedua, BRIN menambahkan rubber bearing seismic yang dirancang untuk membantu mengurangi dampak guncangan gempa terhadap struktur bangunan.
Komponen tersebut memanfaatkan karet alam atau polimer elastis dan bekerja dengan memisahkan bagian bawah dan atas struktur bangunan.
“Ketika terjadi gaya geser akibat gempa, komponen tersebut dirancang untuk membantu menahan gaya geser sehingga dampak guncangan yang diterima struktur bangunan dapat dikurangi,” jelas Vian.
Ketahanan tiga rumah prototipe di Rangko menjadi bahan evaluasi penting bagi BRIN untuk mendorong penerapan teknologi tersebut dalam pembangunan kembali rumah warga terdampak bencana.
BRIN mendorong pemerintah pusat dan daerah mempertimbangkan penggunaan standar konstruksi tahan gempa dalam proses rekonstruksi NTT.
Pembangunan kembali hunian diharapkan tidak hanya mengganti rumah yang rusak, tetapi sekaligus meningkatkan ketahanan bangunan terhadap gempa berikutnya.
BRIN juga membuka peluang agar teknologi rumah modular tahan gempa tersebut direplikasi di daerah lain yang memiliki risiko gempa tinggi.
Selain teknologi konstruksi, BRIN menilai mitigasi bencana perlu diperkuat melalui edukasi masyarakat dan kebijakan pembangunan. Standar bangunan tahan gempa diharapkan dapat diintegrasikan dalam kebijakan perumahan daerah.
Dengan begitu, proses rekonstruksi pascagempa NTT dapat sekaligus menjadi langkah untuk membangun hunian yang lebih aman dan tahan terhadap bencana di masa mendatang.
