Sesar Opak, Prof. Sarwidi Ingkatkan Masyarakat Karakter Gempa Darat

4 Min Read
Weather radar map showing a storm near a coastal island, with a red circular target around a yellow center marker and labeled towns nearby.
Ilustrasi. Titik gempa. Dok: Istimewa

Mabur.co- Guncangan gempa bumi tektonik berkekuatan Magnitudo 3,5 kembali mengagetkan masyarakat Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dan sekitarnya.

Peristiwa ini dipicu oleh pergerakan struktur geologi lokal yang sangat legendaris di DIY, yaitu Sesar Opak. Fenomena ini membawa ingatan publik pada karakter kegempaan darat di Yogyakarta yang membutuhkan kewaspadaan berkelanjutan.

Guru Besar Rekayasa Kegempaan Kebencanaan, Universitas Islam Indonesia, Prof. Ir. H. Sarwidi, MSCE., Ph.D., IP-U., ASEAN Eng., APEC Eng memuturkan, Sesar Opak merupakan patahan aktif yang membentang di sepanjang alur Sungai Opak, mulai dari wilayah muara pantai selatan Bantul hingga membujur ke utara menuju Kabupaten Klaten, Jawa Tengah.  

“Kedalaman hiposenter yang relatif dangkal (21 km) membuat perambatan gelombang seismik dari Sesar Opak terasa cukup signifikan di permukaan tanah meski magnitudonya tergolong skala kecil hingga sedang,” ujarnya, Jumat (21/8/2026).

Sarwidi menuturkan, secara sederhana, sesar terbentuk ketika lapisan batuan di kerak bumi mengalami tekanan hingga patah dan bergeser. Tekanan ini dapat menumpuk dalam waktu lama sebelum dilepaskan sebagai energi gempa.

“Sumbernya berada di daratan dan relatif dangkal, gempa dari sesar aktif bisa terasa kuat meski magnitudonya tidak besar,” ucapnya.

Patahan Sangat Aktif

Sarwidi mengatakan, Sesar Opak sebagai patahan yang sangat aktif dan terus memantau aktivitas gempa mikro di sekitarnya.

Sejumlah sensor seismograf telah dipasang di sisi barat maupun timur Sungai Opak untuk memperkuat pemantauan kegempaan.

“Pengamatan ini penting karena wilayah Yogyakarta memiliki permukiman padat yang berada dekat dengan jalur sesar,” ucapnya.

Menurut Sarwidi, nama Sesar Opak juga tidak terlepas dari sejarah gempa yang merusak di Yogyakarta. BMKG mengaitkan aktivitas sesar ini dengan gempa 27 Mei 2006 yang menyebabkan kerusakan luas dan menewaskan lebih dari 6.000 orang.

Peristiwa tersebut menjadi pengingat bahwa wilayah DIY memiliki potensi gempa darat yang signifikan. Meski demikian, keberadaan Sesar Opak tidak berarti gempa besar akan segera terjadi setelah guncangan M3,5 hari ini.

“Aktivitas sesar tidak dapat digunakan untuk memprediksi waktu, lokasi, maupun kekuatan gempa berikutnya. Informasi ini lebih tepat digunakan untuk mitigasi dan kesiapsiagaan,” katanya.

Sesar Opak memiliki magnitudo tertarget hingga M6,6 berdasarkan pemetaan sumber gempa. Angka tersebut merupakan potensi dalam kajian bahaya, bukan prediksi bahwa gempa sebesar itu akan terjadi dalam waktu dekat.  

Pentingnya Bangunan Tahan Gempa

“Saya menekankan pentingnya bangunan tahan gempa, latihan evakuasi, dan peningkatan kesiapsiagaan masyarakat,” katanya. 

Sarwidi menuturkan, dalam gempa bumi, bisa melakukan langkah keselamatan yakni  tetap siaga karena guncangan susulan bisa terjadi kapan saja.

“Pastikan tidak ada kebocoran gas, korsleting listrik, atau pipa air yang patah,” katanya.

Sarwidi menuturkan lagi, jangan langsung masuk ke dalam rumah atau gedung yang retak karena berisiko runtuh.  

“Jauhi tebing atau lereng jika berada di pegunungan untuk mencegah longsor dan jauhi pantai jika ada potensi tsunami,” katanya. 

Elemen penting jika terjadi gempa adalah sikap tenang.

“Sikap tenang dapat membantu kita mengenali lingkungan sekitar kita. Selain itu, dengan sikap tenang kita dapat membantu mengevakuasi orang lain, terutama kaum disabilitas dan orang yang sudah berumur, sebelum tim evakuasi datang membantu kita,” katanya. ***

Share This Article
Teruslah Berbuat baik kepada siapapun karena hal baik itu, akan kembali padamu dengan berbagai cara
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Tidak ada komentar