Mabur.co – Warga di kawasan Perbukitan Menoreh, Kalurahan Giripurwo, Kapanewon Girimulyo, Kulon Progo, harus berjuang mendapatkan air bersih sejak musim kemarau melanda beberapa bulan terakhir.
Sekitar 200 warga dari dua padukuhan dan wilayah sekitarnya terdampak kekeringan. Sejak Juni 2026, sumber air yang biasa digunakan warga mulai berkurang hingga tidak lagi mencukupi kebutuhan sehari-hari.
Memanfaatkan Air Jauh dari Permukiman
Warga terpaksa memanfaatkan air sungai dan mata air yang lokasinya cukup jauh dari permukiman. Sebagian bahkan harus menempuh jarak sekitar dua kilometer untuk mengambil air.
Kondisi tersebut membuat kedatangan bantuan air bersih menjadi sesuatu yang ditunggu warga. Sejumlah warga bahkan rela mengantre di bawah terik matahari untuk mendapatkan air bagi kebutuhan rumah tangga.
Aristin, salah seorang warga, mengatakan kesulitan air sudah dirasakan sejak Juni. Pompa air yang tersedia tidak dapat diandalkan karena alirannya jarang keluar.
“Ini ngambil air sudah dari bulan enam. PAM itu ada, tapi jarang ngalirnya. Dua kali ke sungai. Ambil air di sungai jauh di bawah sana, adalah dua kilo setiap hari. Buat nyuci, mandi, minum,” kata Aristin, Jumat (21/8/2026).
Menurutnya, warga tidak memiliki sumur yang bisa diandalkan. Sumber air yang tersedia hanya berasal dari sungai di bawah kawasan permukiman dengan debit yang terbatas.
Kondisi kekurangan air sebenarnya bukan persoalan baru bagi warga di kawasan tersebut. Setiap musim kemarau, mereka harus menghadapi persoalan serupa yang telah berlangsung selama puluhan tahun.

Upaya membuat sumur bor maupun sumur dangkal juga pernah dilakukan. Namun, usaha tersebut belum berhasil karena minimnya sumber air di kawasan perbukitan.
Bantuan air bersih kali ini disalurkan melalui kerja sama Baznas RI dan Baznas Kabupaten Kulon Progo. Sebanyak delapan tangki air didistribusikan untuk memenuhi kebutuhan warga di wilayah Giripurwo dan sekitarnya.
Warga pun menyambut bantuan tersebut dengan lega. Tukiyem, warga setempat, mengaku bantuan air membuat dirinya tidak lagi terlalu khawatir, terutama untuk memenuhi kebutuhan orang tua di rumah.
“Dapat bantuan alhamdulillah rasanya tenang pikirannya. Kalau orang tua tidak punya air kan susah. Ini sudah dikasih, ya sudah bersyukur alhamdulillah. Rasanya tenang,” ujarnya.
Peran Baznas
Wakil Ketua II Baznas Kulon Progo, Sugiyanta, mengatakan, penyaluran air dilakukan karena wilayah tersebut menjadi salah satu lokasi yang membutuhkan perhatian. Sekitar 200 warga membutuhkan pasokan air bersih selama musim kemarau.
“Ini kita droping air 40 ribu liter. Disiapkan delapan tangki air didistribusikan untuk wilayah Banaran, Krikil, Girimulyo dan sekitarnya,” kata Sugiyanta.
Menurutnya, penyaluran air merupakan langkah sementara. Baznas bersama pemerintah daerah akan melakukan asesmen untuk melihat kemungkinan pembangunan sumur bor di lokasi yang memungkinkan.
Harapannya, warga tidak terus bergantung pada bantuan air setiap musim kemarau dan memiliki sumber air yang dapat digunakan secara berkelanjutan.
Selain membantu warga di Kulon Progo, Baznas RI tahun ini telah menyalurkan sekitar 1,5 juta liter air bersih untuk masyarakat terdampak kekeringan di berbagai wilayah Indonesia.
Bantuan juga tidak hanya berupa distribusi air. Di sejumlah lokasi yang secara teknis memungkinkan, Baznas RI turut mendukung pembangunan sumur bor sebagai solusi jangka panjang menghadapi persoalan kekeringan.
