TBM Al Farabi Sidoarjo Gelar Pembelajaran Alquran lewat Cerita dan Permainan

5 Min Read
Teacher in a black hijab reads to a group of young students seated at small desks in a cozy classroom with bookshelves and bunting on the wall.
Anak-anak sedang belajar bersama. Foto: Istimewa

Mabur.co – Kegiatan pembelajaran Alquran di TBM Al Farabi, Desa Terung Kulon, Sidoarjo, dilaksanakan melalui berbagai aktivitas, seperti bermain, membaca cerita, berdiskusi, dan berbagi pengalaman.

Dalam rilis yang diterima mabur.co, Kamis (27/8/2026), dijelaskan, pendekatan ini diterapkan dalam kegiatan QIRA (Quranic Read Aloud) pada Rabu (26/8/2026).

Bertujuan membantu anak-anak memahami nilai-nilai Alquran serta meneladani akhlak Rasulullah melalui cerita dan aktivitas yang relevan dengan kehidupan sehari-hari.

QIRA merupakan komunitas Read Aloud berbasis Alquran yang berupaya menghubungkan pesan ayat dengan pengalaman anak. Kegiatan tidak hanya berfokus pada kemampuan membaca, tetapi juga mengajak anak menemukan nilai yang terkandung dalam ayat dan cerita.

Permainan Sensori Motorik

Kegiatan diawali dengan permainan sensori motorik memindahkan bola melalui atas dan bawah. Aktivitas tersebut menjadi bagian awal untuk membantu anak memusatkan perhatian sebelum memasuki sesi utama.

Setelah itu, anak-anak mengikuti Read Aloud Alquran, dilanjutkan dengan pembacaan buku ‘Penyayangnya Rasulullah’.

Teacher reads a picture book aloud to children seated on small desks in a bright classroom with a green wall behind them.
Belajar bersama dengan melihat gambar. Foto: Istimewa

Dalam sesi tersebut, anak-anak diajak mengenal Rasulullah sebagai sosok teladan sekaligus menghubungkan nilai-nilai yang terdapat dalam Alquran dengan kehidupan mereka.

Pengelola TBM Al Farabi, Widyastuti, menjelaskan bahwa QIRA dirancang agar Alquran semakin dekat dengan kehidupan anak.

“QIRA sendiri kependekan dari Quranic Read Aloud, yang merupakan komunitas Read Aloud berbasis Alquran. Sembari membacakan buku, kita menanamkan nilai-nilai yang ada di Alquran dengan membacakan satu ayat yang berkaitan dengan isi buku,” jelasnya.

Menurut Widyastuti, pendekatan tersebut diharapkan membuat anak tidak hanya membaca Alquran, tetapi juga memahami bahwa Alquran merupakan pedoman yang memiliki keterkaitan dengan kehidupan sehari-hari.

Pada tema Maulid Nabi, kegiatan mengangkat pesan tentang Rasulullah sebagai suri teladan bagi umat manusia, dengan salah satu ayat yang menjadi pengantar adalah QS Al-Ahzab ayat 21.

Tak Terasa Kaku

Suasana belajar yang dikemas melalui permainan dan cerita membuat pengalaman QIRA tidak terasa seperti pembelajaran yang kaku.

Hal tersebut dirasakan Yazdan, salah satu peserta. Ketika ditanya mengenai pengalaman mengikuti QIRA, ia menjawab dengan spontan.

“Aku happy banget mengikuti QIRA hari ini. Aku senang bertukar makanan dengan teman-teman,” katanya.

Jawaban sederhana Yazdan menunjukkan bahwa pengalaman belajar bagi anak tidak hanya hadir ketika mendengarkan materi. Interaksi dengan teman, bermain, dan berbagi juga menjadi bagian dari pengalaman yang membekas.

Konsep kegiatan QIRA juga dilanjutkan dengan aktivitas Bookishplay, yakni mengikat pengalaman membaca melalui kegiatan kreatif.

Salah satu aktivitasnya adalah membuat pembatas buku dengan karakter kucing yang terinspirasi dari sampul buku ‘Penyayangnya Rasulullah’.

Pegiat literasi, Guru Keliling Desa, dan praktisi pendidikan nonformal, Makrus Sahlan, menilai pendekatan seperti QIRA penting dalam menghadirkan pendidikan yang tidak berhenti pada kemampuan akademik.

“Pendidikan harus mempunyai karakter dan agama. Pengetahuan penting, tetapi pendidikan juga harus membantu anak memiliki landasan moral dalam menjalani kehidupannya. Alquran dan keteladanan Rasulullah dapat menjadi bagian penting dalam proses tersebut,” ujar Makrus Sahlan.

Menurutnya, pendidikan karakter perlu hadir dalam pengalaman nyata anak, bukan sekadar menjadi teori yang disampaikan di ruang kelas.

Ada sejumlah nilai yang perlu terus dibangun dalam proses pendidikan, mulai dari religiusitas, integritas dan kejujuran, gotong royong dan toleransi, kemandirian dan kerja keras, hingga keteladanan.

Nilai religius, kata Makrus, menjadi landasan keimanan dan ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Sementara integritas dan kejujuran membentuk anak menjadi pribadi yang dapat dipercaya serta bertanggung jawab terhadap perkataan dan perbuatannya.

Di sisi lain, gotong royong dan toleransi menumbuhkan kepedulian sosial, kemampuan bekerja sama, serta sikap menghargai perbedaan. Kemandirian dan kerja keras diperlukan untuk membangun ketangguhan, kedisiplinan, serta konsistensi dalam berusaha.

“Yang tidak kalah penting adalah keteladanan. Anak-anak tidak cukup hanya diberi tahu tentang nilai kebaikan. Mereka perlu melihat, mengalami, dan mempraktikkannya. Pendidik dan pemimpin harus memberikan contoh nyata melalui perilaku sehari-hari,” lanjutnya.

Bagi Makrus, kekuatan pendidikan nonformal justru terletak pada kemampuannya menciptakan ruang belajar yang fleksibel dan dekat dengan kehidupan anak.

Kegiatan di TBM dapat menjadi ruang untuk mempertemukan literasi, agama, kreativitas, interaksi sosial, dan pendidikan karakter dalam satu pengalaman belajar.

QIRA di TBM Al Farabi memperlihatkan pendekatan tersebut. Anak-anak tidak hanya diajak membaca ayat dan buku, tetapi juga bermain, berinteraksi dengan teman, serta menemukan pengalaman positif dalam suasana yang menyenangkan.

Harapannya, kegiatan seperti ini dapat menumbuhkan kecintaan anak kepada Alquran, mengenalkan Rasulullah sebagai teladan, sekaligus membantu mereka membawa nilai-nilai tersebut ke dalam kehidupan sehari-hari.

Sebab pendidikan pada akhirnya bukan hanya tentang apa yang mampu dibaca dan dihafalkan anak, tetapi tentang nilai apa yang tumbuh dalam diri mereka dan bagaimana nilai itu diwujudkan dalam kehidupan.

Share This Article
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Tidak ada komentar