Kilas Balik Sejarah Kantor Pos Indonesia, 280 Tahun Jadi Penanda Zaman Sejak Era Batavia

5 Min Read
White colonial-style Pos Indonesia post office building with red-orange trim and arched windows on a sunny street.
Bangunan Kantor Pos Besar Yogyakarta. (Foto: Kantor Pos Indonesia)

Mabur.co – Tanggal 26 Agustus menjadi tonggal sejarah yang cukup penting bagi bangsa Indonesia.

Tepatnya pada 26 Agustus 1746 (280 tahun lalu), berdirilah sebuah Kantor Pos pertama di Indonesia, yang saat itu berlokasi di Batavia (Jakarta).

Kantor Pos ini didirikan oleh Gubernur Jenderal Gustaaf Willem Baron van Imhoff (Jerman), pada masa kolonialisme Belanda.

Dilansir dari laman resmi Pos Indonesia, Rabu (26/8/2026), awal pendirian Kantor Pos ini bertujuan untuk menjamin keamanan surat-surat penduduk dan dokumen perdagangan, serta menghubungkan Batavia dengan daerah di luar Jawa, dan juga negeri Belanda di Eropa Barat.

Seiring berjalannya waktu, Kantor Pos juga mulai didirikan di berbagai daerah lain, seperti Semarang, Anyer-Panarukan, dan seterusnya. Hal itu dilakukan untuk dapat memudahkan jalur perhubungan pos yang teratur, serta mempercepat pengiriman surat-surat antar-daerah, dan sebagainya.

Masa Awal Kemerdekaan

Setelah resmi merebut kemerdekaan dari Belanda dan juga Jepang, Pos Indonesia mulai bertansformasi dalam berbagai aspek, terutama dari sisi kelembagaan.

Kantor Pos awalnya selalu berada dalam penguasaan para penjajah, kemudian mulai mengambil alih seluruh aset dari tangan Jepang, dan melakukan berbagai transformasi kelembagaan secara bertahap, sampai akhirnya mampu berdiri sendiri atas nama bangsa Indonesia.

Seiring dengan transisi itu, Kantor Pos juga beberapa kali mengalami pergantian nama. Di antaranya Perusahaan Negara Pos dan Telekomunikasi (PN Postel) pada tahun 1961, lalu mengalami pemisahan antara pos dan telekomunikasi hingga menjadi PN Pos dan Giro, yang fokus pada layanan pos dan keuangan pada 1965.

Kemudian berubah lagi menjadi Perum Pos dan Giro pada 1978, sampai akhirnya diubah menjadi PT Pos Indonesia pada 20 Juni 1995, nama ini terus dipertahankan hingga saat ini.

Perkembangan Saat Ini

Kantor Pos atau Pos Indonesia awalnya cukup populer digunakan oleh masyarakat untuk berkirim surat dari satu daerah ke daerah lainnya.

Sebagai salah satu sektor BUMN yang tidak memiliki pesaing pada rezim Orde Baru, Kantor Pos mutlak menjadi unggulan dalam urusan pengiriman surat (komunikasi jarak jauh), pengiriman dokumen resmi negara, sarana pembayaran dan pengiriman uang lewat pos wesel, hingga distribusi logistik penting lainnya.

Hal ini cukup mirip seperti monopoli yang dilakukan beberapa sektor BUMN lainnya, seperti PLN (listrik) dan Pertamina (energi terbarukan) sampai saat ini.

Namun setelah memasuki periode 1990-an dan masuknya era reformasi (kejatuhan era Orde Baru), pemerintah mulai membuka sektor jasa kurir dan logistik baru bagi pihak swasta, yang ingin bersaing dengan Kantor Pos.

Lalu ketika zaman surat-menyurat itu sudah digantikan sepenuhnya oleh kecanggihan teknologi, seperti SMS, telepon (wartel/telepon umum), hingga ponsel pintar yang mengandalkan teknologi internet seperti sekarang, Kantor Pos mau tidak mau harus ikut beradaptasi, agar tidak punah dan ditinggalkan oleh para pelanggan setianya, yang kini semakin banyak mempunyai pilihan di depan mata.

Akhirnya, Kantor Pos mulai kembali bertransformasi di era modern saat ini, dengan lebih memfokuskan diri pada pusat layanan logistik, yang dapat menjangkau seluruh wilayah dari Sabang sampai Merauke, pengiriman paket e-commerce atau belanja online, hingga melayani jasa keuangan digital, yang mampu melayani berbagai transaksi layaknya perbankan, termasuk pengiriman mata uang asing secara real time, serta layanan perbankan lainnya.

Selain itu, Kantor Pos juga turut hadir dalam versi aplikasi bernama PosAja, yang melayani penjemputan atau pengiriman barang secara instan, serta aplikasi khusus layanan keuangan digital bernama PosPay, untuk keperluan pembayaran tagihan bulanan, cicilan, hingga layanan perbankan berbasis mikro.

***

Di balik sejarah pendiriannya sejak era kolonialisme Belanda, memonopoli zaman surat-menyurat, sampai akhirnya tersaingi karena banyaknya pilihan, Kantor Pos tetap mampu bertahan dan terus eksis hingga saat ini, di tengah pilihan jasa pengiriman yang semakin banyak, serta penambahan fasilitas layanan yang semakin canggih dan modern.

Hal ini tentunya juga tak lepas dari keterlibatan negara di dalamnya, yang tetap menjadikan Kantor Pos sebagai pusat dari segala aktivitas distribusi logistik antar-daerah, guna memastikan agar keberlangsungan Pos Indonesia tetap terus terjaga, sampai kapan pun. (*)

Share This Article
Avatar photo
Lulusan program studi Jurnalistik STMM Yogyakarta, Jurnalis mabur.co, Writing Is Journey Of My Life
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Tidak ada komentar