Mabur.co – Pada 1629 adalah momen Sultan Agung teridentifikasi melakukan serangan ke Batavia. Belajar dari serangan sebelumnya, serangan yang dilancarkan telah dipersiapkan jauh sebelum dimulai.
Berfokus pada bagian logistik utamanya adalah bahan makanan yaitu beras. Selain itu pada persenjataan dan bagian pengangkutan. Pada rute setiap perjalanan seperti Tegal dan Cirebon disiapkan serangan ke sentra beras.
Mengacu pada sumber tertulis dari Ensiklopedia Sejarah Indonesia, sebagaimana dikutip mabur.co, Kamis (27/8/2026), lagi-lagi berita perihal rencana penyerangan tersebut kembali diketahui oleh pihak Belanda.
Disebutkan bahwa yang mengirim informasi tersebut kepada Batavia adalah raja dari Cirebon yakni Raja Sepuh dan Raja Anom. Serangan yang dilancarkan pada 1629 ini adalah sebuah kegagalan bagi Sultan Agung dan pasukannya.
Menawarkan Perdamaian
Sebelum melakukan penyerangan, Sultan mengutus utusan untuk menawarkan perdamaian dengan VOC. Utusan tersebut bernama Warga. Tak banyak bercakap, VOC yang mengetahui siasat Mataram membunuh utusan tersebut.
Sama seperti perang di tahun 1628, Sultan Agung membagi pasukan yang datang menjadi 2 gelombang. Di mana pada pasukan yang pertama datang pada pertengahan Mei di tahun 1629 terdiri dari pasukan artileri dan amunisi.
Pasukan kedua di tanggal 20 Juni 1629 terdiri dari pasukan infanteri. Masing-masing dipimpin oleh Kiai Adipati Juminah dan K.A. Purbaya, serta K.A. Puger yang dibantu oleh Tumenggung Singaranu, Raden Aria Wiranatapada, serta Tumenggung Madiun, dan K.A. Sumenep.
Mataram kembali mendapatkan sebuah awal dari kekalahan dan ketakutan karena di tanggal 4 Juni VOC memusnahkan 200 kapal milik Mataram beserta 400 rumah dan satu gundukan padi.
Lalu beberapa minggu selanjutnya VOC kembali memusnahkan gunungan padi kedua milik Cirebon. Segala usaha yang dilakukan Mataram selalu dapat dikalahkan oleh pihak VOC.
Lagi-lagi karena kekurangan makanan lantaran amunisi makanan yang mereka siapkan hanya bertahan satu bulan, di tanggal 8 September VOC mengetahui bahwa pasukan Mataram memiliki perlindungan parit dan sedang mendekat ke Benteng Hollandia yang selanjutnya langsung dihabisi oleh pihak VOC.
Lalu di tanggal berikutnya, yakni 12 September, penyerbuan dilakukan di Benteng Bommel. Pasukan berjumlah 200 orang. Delapan sampai sembilan pasukan berhasil memanjat tetapi digagalkan dan dipukul mundur oleh VOC.
Tak berhenti di situ di tanggal berikutnya yakni 14 dan 15 September Mataram mendatangkan gerobak yang berisikan meriam yang dibawa oleh 18 ekor kerbau. Lagi-lagi usaha tersebut diikuti oleh pihak VOC di tanggal 17 September, di mana VOC melakukan sergapan yang dipimpin oleh Antonio van Diemen dengan membakar pertahanan Mataram.
Mataram Beruntung Datang Hujan
Keberuntungan berada di pihak Mataram pada saat itu karena datangnya hujan yang membantu meredamkan kebakaran yang terjadi.
Setelah mempersiapkan persenjataan kembali di tanggal 21 September, Mataram melepaskan tembakan pertama. Tembakan tersebut juga sebagai penanda bahwa sebulan sudah Mataram berada di Batavia.
Pada hari sebelumnya yakni 20 September, VOC kehilangan Gubernur Jendral Jan Pietersz karena sakit lalu meninggal.
Belanda tak lagi melakukan serangan umum kepada Mataram pada 27 September karena pengakuan pihak Mataram yang ditawan. Pihak tertawan mengatakan bahwa Mataram sedang menderita kekurangan bahan makanan sehingga kelaparan.
Di tanggal 1 Oktober penyerangan kecil dilakukan oleh Mataram tanpa semangat. Yang berakhir pada penarikan mundur pasukan dan meninggalkan mayat-mayat yang berserakan, gerobak kosong, korban, dan barang yang lain.
Penyerangan yang dilakukan oleh pihak Mataram hanya menyebabkan penderitaan karena penyakit dan kelaparan. Tak hanya itu tentara yang menjadi pasukan mereka pun tercerai-berai karena ambisi Sultan Agung tak sesuai dengan kemampuan militer yang dimiliki Mataram sehingga membawa kehancuran di hadapan Batavia.
Graff berpendapat bahwa Mataram mengalami kegagalan karena kurangnya perawatan, daya tembak yang dibandingkan dengan Eropa sangat jauh. Lalu postur tubuh orang-orang Jawa yang relatif kecil daripada orang Eropa untuk masuk di benteng pertahanan Belanda. Mataram cenderung primitif dan kurang efisien sehingga menyulitkan pihak Mataram sendiri.
Di sisi lain kekurangan pasukan Mataram selama melancarkan penyerangan di tahun 1628 dan 1629 tersebut justru membuat Mataram dinilai sangat disiplin dan berani bertempur.
Memiliki tekad kuat dan gigih dari Sultan Agung sebagai pemimpin serta bisa menyesuaikan diri dengan cara bertempur yang masih asing menurut mereka.
