Mabur.co – Gunungan adalah lembaran wayang berbentuk segi tiga atau tiruan gunung dari hasil bumi yang melambangkan alam semesta dan rasa syukur masyarakat Jawa.
Tujuan utama dari tradisi gunungan adalah sebagai wujud rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas limpahan rezeki, hasil bumi, dan kemakmuran yang diberikan.
Tradisi ini umumnya menjadi bagian penting dalam upacara adat seperti grebeg di Keraton Yogyakarta dan Surakarta.
Dosen Program Studi Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Gadjah Mada, Dr. Novi Siti Kussuji Indrastuti, M.Hum, menuturkan, dalam pandangan kosmologis masyarakat Jawa, gunungan dapat dipahami sebagai representasi simbolik dari makrokosmos atau jagad gedhe, yakni alam semesta sebagai suatu tatanan yang utuh.
Miniatur Simbolik Keteraturan Alam
“Bentuk gunungan yang menjulang menyerupai gunung menghadirkan gambaran tentang dunia yang memiliki tingkatan sekaligus pusat. Secara simbolik, bagian bawah dapat diasosiasikan dengan bumi dan kehidupan material, bagian tengah dengan ruang kehidupan manusia, sedangkan bagian atas mengarah kepada dunia yang lebih tinggi atau transenden.
Karena itu, gunungan bukan sekadar bentuk dekoratif, melainkan dapat dibaca sebagai miniatur simbolik tentang keteraturan alam semesta dan hubungan manusia dengan alam serta kekuatan yang melampaui dirinya,” katanya, Rabu (26/8/2026).
Novi mengatakan, apabila gunungan merupakan unsur penting dalam suatu rangkaian ritual atau sesaji, jika menghilangkannya maka dapat dimaknai sebagai berkurangnya representasi makrokosmos secara simbolik.
“Unsur yang sebelumnya menandai pusat, keteraturan, kesatuan, atau hubungan antara manusia, alam, dan dunia transenden menjadi tidak lagi hadir secara eksplisit,” katanya.

Novi mengatakan, namun, penghilangan gunungan tidak selalu berarti hilangnya seluruh makna kosmologis.
Dalam tradisi yang hidup, simbol dapat mengalami perubahan, penyederhanaan, atau penggantian.
“Fungsi simbolik gunungan mungkin dialihkan kepada unsur lain dalam ritual. Oleh sebab itu, maknanya perlu dilihat berdasarkan konteks tradisi masyarakat yang bersangkutan. Jika tidak ada unsur lain yang mengambil alih fungsi tersebut, penghilangan gunungan dapat menunjukkan reduksi atau penyederhanaan simbolisme kosmologis dalam ritual,” ucapnya.
Menurut Novi, gunungan pada umumnya menyimbolkan kehidupan, kesuburan, kemakmuran, keteraturan kosmos, dan hubungan harmonis antara manusia, alam, serta Yang Transenden.
“Dalam sejumlah tradisi Jawa, gunung dipandang sebagai ruang yang memiliki kedudukan penting dalam lanskap budaya dan spiritual. Oleh karena itu, bentuk gunungan membawa makna yang lebih luas daripada sekadar representasi gunung secara fisik,” katanya.
Makna Gunungan Kesuburan dan Kemakmuran
Novi menuturkan, apabila gunungan disusun dari hasil bumi, maknanya juga berkaitan dengan kesuburan dan kemakmuran.
Hasil bumi merupakan sesuatu yang diberikan alam dan kemudian dikembalikan secara simbolik melalui ritual.
“Di sini terdapat gagasan tentang hubungan timbal balik antara manusia dan alam: manusia hidup dari alam, sehingga manusia juga memiliki kewajiban menjaga keseimbangan dan keharmonisan dengannya,” katanya.
Secara kebahasaan, kata gunungan berasal dari kata dasar gunung dengan sufiks -an. Dalam bahasa Jawa, bentuk tersebut dapat menunjuk pada sesuatu yang berbentuk, menyerupai, atau berkaitan dengan gunung.
Karena itu, gunungan tidak harus berarti gunung dalam pengertian geografis, melainkan dapat berarti bentuk atau representasi yang menyerupai gunung.
“Dalam kebudayaan Jawa, maknanya kemudian berkembang secara simbolik. Kita mengenal gunungan dalam wayang, gunungan dalam upacara tradisional, maupun gunungan yang tersusun dari hasil bumi. Dengan demikian, makna gunungan bergerak dari pengertian bentuk fisik menuju representasi budaya dan kosmologis,” ucapnya.
Novi menuturkan, motif gunungan terutama dapat dimaknai sebagai lambang kehidupan dan tatanan kosmos.
Bentuknya yang melebar pada bagian bawah dan meruncing ke atas memungkinkan pembacaan simbolis mengenai perjalanan dari dunia material menuju dunia yang lebih tinggi atau transenden.
“Dalam konteks tertentu, motif ini juga berkaitan dengan kesuburan, kemakmuran, perlindungan, keseimbangan, dan keberlanjutan kehidupan,” katanya.
Makna motif gunungan tidak sebaiknya dibuat tunggal dan berlaku untuk semua tradisi. Maknanya bergantung pada konteks pemakaian, unsur pembentuk, masyarakat pendukung, dan ritual tempat gunungan tersebut hadir.
“Gunungan dalam wayang, misalnya, tidak sepenuhnya identik maknanya dengan gunungan hasil bumi dalam upacara tradisional. Benang merah keduanya terletak pada gagasan mengenai kehidupan, keteraturan, keseimbangan, dan hubungan antara manusia dengan semesta,” katanya.
Menurut Novi, intinya, gunungan dapat dipahami sebagai bentuk kecil yang memuat gagasan besar tentang semesta.
“Ketika gunungan hadir, yang dihadirkan bukan hanya bentuk gunung, tetapi juga pandangan masyarakat mengenai kehidupan, keseimbangan, kemakmuran, dan hubungan manusia dengan alam serta Yang Transenden,” katanya.
