Mabur.co – Musim kemarau di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) mulai memasuki fase yang mengkhawatirkan. Sebagian wilayah bahkan telah lebih dari dua bulan tidak diguyur hujan.
Kepala Stasiun Klimatologi (Staklim) BMKG DIY, Reni Kraningtyas menjelaskan, berdasarkan pemantauan hari tanpa hujan (HTH), mayoritas wilayah DIY telah masuk kategori waspada hingga siaga kekeringan.
“Sebagian besar wilayah DIY sudah tidak mengalami hujan lebih dari 21 hari sehingga masuk kategori waspada. Bahkan banyak daerah yang sudah lebih dari 31 hari tanpa hujan sehingga statusnya siaga,” ujarnya, Minggu (30/8/2026).
Reni mengatakan, berdasarkan data pemutakhiran Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), DIY menjadi wilayah dengan catatan Hari Tanpa Hujan (HTH) terpanjang dalam daftar yang dipantau.
Perbedaan Antar-Kabupaten
Durasi tanpa hujan di sejumlah wilayah DIY bahkan mencapai 110 hari. Kabupaten Bantul menjadi daerah dengan catatan HTH terlama, disusul Gunungkidul dengan 94 hari dan Kulon Progo 87 hari.
Sementara Kota Yogyakarta dan sejumlah wilayah Sleman tercatat mengalami hingga 67 hari tanpa hujan.
“Bantul menjadi wilayah di DIY dengan periode tanpa hujan terpanjang,” ungkapnya.
Reni mengatakan, data BMKG mencatat sejumlah kecamatan di Bantul mengalami HTH hingga 110 hari. Wilayah tersebut meliputi Pajangan, Pundong, Bantul, Jetis, Imogiri, Bambanglipuro, Sanden, Pandak, Srandakan, Dlingo, Banguntapan, Kasihan, Kretek, Piyungan, Sedayu, Sewon, dan Pleret.
“Dengan catatan tersebut, sejumlah wilayah Bantul telah mengalami periode kering selama lebih dari tiga bulan,” ungkapnya.
Reni menjelaskan, periode tanpa hujan panjang juga terjadi di Kabupaten Gunungkidul. Sejumlah wilayah di kabupaten tersebut tercatat mengalami HTH hingga 94 hari.
Wilayah yang masuk dalam catatan BMKG antara lain Rongkop, Tepus, Tanjungsari, Saptosari, Ngawen, Ponjong, Karangmojo, Gedangsari, Wonosari, Playen, Nglipar, Patuk, dan Semin.
Catatan tersebut membuat Gunungkidul menjadi wilayah dengan periode HTH terpanjang kedua di DIY. Kabupaten Kulon Progo juga masuk dalam daftar wilayah dengan periode tanpa hujan panjang.
“Sejumlah wilayah di Kulon Progo mengalami HTH hingga 87 hari. Wilayah tersebut meliputi Galur, Samigaluh, Temon, Sentolo, Wates, Kalibawang, Pengasih, Nanggulan, dan Panjatan. Kondisi serupa terjadi di Kota Yogyakarta. Sejumlah wilayah, termasuk Umbulharjo, Tegalrejo, dan Danurejan, tercatat mengalami hingga 67 hari tanpa hujan. Sementara di Kabupaten Sleman, beberapa wilayah seperti Ngemplak, Prambanan, Moyudan, Depok, Berbah, Gamping, Tempel, Mlati, Kalasan, Seyegan, dan Godean juga mencapai 67 hari tanpa hujan,” ucapnya.
Reni mengatakan, periode tanpa hujan yang panjang terjadi ketika sebagian besar wilayah Indonesia masih berada dalam kondisi kemarau.
BMKG mencatat 559 Zona Musim (ZOM) atau 79,9 persen berada dalam kondisi kemarau. Sementara 113 ZOM atau 16,2 persen masuk kategori tipe satu musim. Hanya 27 ZOM atau 3,9 persen yang berada dalam kondisi musim hujan.
“Hari Tanpa Hujan digunakan untuk menggambarkan lamanya suatu wilayah tidak mengalami hujan. Semakin panjang periode tanpa hujan, semakin besar perhatian yang diperlukan terhadap potensi kekeringan, kelangkaan air, hingga meningkatnya risiko kebakaran hutan dan lahan,” katanya.
