Biennale Klaten ‘Tak Gendong The Power of Woman’, Tumbuhkan Kembali Kesadaran Ekologis

5 Min Read
Salah seorang perupa sedang menggambar di acara Biennale Klaten 2026. Foto: Kemenkebud

Mabur.co – Kementerian Kebudayaan melalui Program Dana Indonesia Raya mendukung para maestro seni Indonesia lewat penyelenggaraan Biennale Klaten Environmental Art “Tak Gendong The Power of Women”.

Dalam rilis yang diterima mabur.co, Minggu (30/8/2026) pagi dijelaskan, kegiatan ini merupakan ruang perjumpaan antara seni, lingkungan, masyarakat, dan nilai-nilai budaya yang tumbuh di tengah kehidupan sehari-hari.

Kegiatan yang mendapat dukungan dari program Dana Indonesia Raya (Dana Indonesiana Tahun 2025) dalam kategori “Pendayagunaan Ruang Publik” ini diselenggarakan oleh Yayasan Angin Segar pada 20–22 April 2026 di Ruang Publik Lima Benua, Geritan, Belangwetan, Klaten Utara.

Biennale ke-4 di Klaten

Biennale Klaten menjadi salah satu inisiatif penting dalam perkembangan seni kontemporer di Indonesia. Sebagai biennale pertama yang tumbuh di tingkat kabupaten, Biennale Klaten menghadirkan pendekatan yang menempatkan masyarakat bukan semata sebagai penonton, melainkan sebagai bagian dari proses penciptaan dan pengembangan karya seni.

Mengusung konsep Environmental Art atau Seni Lingkungan, Biennale Klaten ke-4 tahun 2026 ini mengangkat tajuk “Tak Gendong The Power of Women”.

Tema tersebut berangkat dari kesadaran terhadap persoalan ekologis, pengelolaan limbah, serta pentingnya memaknai kembali nilai-nilai sosial yang hidup di masyarakat.

Istilah ‘Tak Gendong” merepresentasikan filosofi tentang tanggung jawab, beban, sekaligus kekuatan.

Dalam konteks tema The Power of Women, gagasan tersebut merefleksikan peran penting perempuan dalam menjaga lingkungan atau “menggendong beban ekologis”, termasuk melalui kebiasaan sehari-hari seperti pengelolaan dan pemilahan sampah dari rumah.

Melalui pendekatan ini, Biennale Klaten tidak hanya menghadirkan karya seni visual, tetapi juga membangun pengalaman sosial dan budaya yang melibatkan berbagai unsur masyarakat.

Rangkaian kegiatan menghadirkan panggung pertunjukan, kuliner tradisi, pameran, serta beragam aktivitas yang mempertemukan seniman dengan warga dalam ruang kreatif bersama.

Biennale Klaten juga mengembangkan pendekatan translokal dalam pengelolaan lingkungan melalui praktik upcycling atau proses kreatif mengubah barang bekas atau limbah menjadi produk baru yang memiliki kualitas, fungsi, atau nilai estetika yang lebih tinggi.

Seniman dan masyarakat bekerja sama memanfaatkan kembali material yang memiliki potensi untuk diolah menjadi karya dan gagasan baru.

Kolaborasi tersebut menjadikan Biennale Klaten sebagai sebuah hajatan bersama, sekaligus ruang perjumpaan antara seni lokal, seni kontemporer, industri budaya, ekonomi budaya, dan arus global.

Semangat tersebut tercermin pula dalam pemanfaatan ruang publik sebagai medium dan ruang ekspresi seni. Karya-karya tidak hanya dihadirkan dalam ruang galeri atau ruang pamer konvensional, tetapi juga hadir di jalanan, tepi sungai, sawah, gang, gedung, hingga blumbang (kolam atau empang).

Ruang kehidupan masyarakat menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari proses artistik dan menjadi tolak ukur perkembangan seni kontemporer di pedesaan Biennale Klaten melibatkan berbagai pihak dalam merespons isu perubahan iklim dan pemanasan global.

Selain melibatkan sekitar 50 pelaku seni dan budaya, kegiatan ini turut menghadirkan penggiat lingkungan, termasuk kelompok ibu-ibu pengelola bank sampah dan para pemulung.

Keterlibatan berbagai unsur tersebut memperkuat semangat kolaborasi dalam menjaga lingkungan melalui pendekatan seni dan budaya. Rangkaian Biennale Klaten sebelumnya telah dimulai sejak 17 Oktober, bertepatan dengan Hari Kebudayaan Nasional, melalui tahapan kajian dan residensi.

Selanjutnya, hasil dari proses tersebut dipresentasikan kepada masyarakat dalam rangkaian pameran dan program publik yang berlangsung pada 20-22 April 2026. Biennale Klaten Environmental Art “Tak Gendong The Power of Women” dibuka oleh Staf Khusus Menteri Kebudayaan Bidang Media dan Komunikasi Publik, M. Asrian Mirza.

Lima Maestro Seni Klasik dan Lima Maestro Seni Kontemporer

Hajatan bersama ini mempertemukan lima maestro seni klasik dan lima maestro seni kontemporer, serta didukung oleh empat ahli tata kelola.

Kolaborasi tersebut menjadi bagian dari upaya membangun desain dan pengelolaan kegiatan yang memadukan kekayaan tradisi dengan karakter seni kontemporer yang fungsional, terbuka, dan relevan dengan perkembangan zaman.

Transformasi Biennale Klaten dari ruang yang sebelumnya bersifat lebih eksklusif menuju penyelenggaraan yang semakin inklusif juga menjadi bagian penting dari perjalanan kegiatan ini.

Perubahan tersebut dilakukan secara bertahap dengan membuka ruang partisipasi yang lebih luas bagi masyarakat dan berbagai pemangku kepentingan.

Share This Article
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Tidak ada komentar