Kenduri Memetri Keistimewaan, Momen Refleksi Masyarakat Yogyakarta Membaca Masa Depan

4 Min Read
Group of children sitting on a black floor inside a tent, wearing striped outfits and hijabs, working with colorful candies on wooden trays as part of a craft activity
Anak-anak sedang mengikuti lomba permainan dakon di Kenduri Memetri Keistimewaan yang digelar di Balai Budaya Tamanmartani, Kapanewon Kalasan, Sleman. (Foto: Setiaky A Kusuma)

Mabur.co – Penghargaan atas pengabdian istimewa Yogyakarta bagi Indonesia perlu ada. Ini bukan tanpa dasar, karena Yogyakarta selalu mengedepankan kepentingan negara di atas segalanya. Keistimewaan Yogyakarta bukanlah cerita tanpa akar.

Ini bermula dari semangat perjuangan Yogyakarta setelah Indonesia merdeka. Yogyakarta berperan penting dalam perang pasca-kemerdekaan, dan hari istimewa ini adalah penghormatan atas peran bersejarah itu.

Yogyakarta bukanlah daerah yang anti-demokrasi. Meskipun memiliki sistem pemerintahan khusus yang dipegang oleh Sri Sultan Hamengku Buwono dan KGPAA Paku Alam, tetapi ini adalah bagian dari keistimewaan juga.

Yogyakarta bukanlah wilayah biasa, ia memiliki aturan yang berbeda tapi sejalan dengan Indonesia. Setiap 31 Agustus, momen spesial ini dirayakan, hari itu adalah pengesahan UU Istimewa Yogyakarta.

Three women in matching batik dresses walk through a sunny outdoor festival with white tents; a tall straw sculpture stands on the right.
Pameran wong-wongan sawah merupakan bentuk ekspresi tradisional yang selama ini digunakan petani untuk mengusir burung dari area persawahan. (Foto: Setiaky A Kusuma)

Tidak hanya soal pemerintahan istimewa, Yogyakarta juga dikenal karena keindahan alamnya, keramahan warganya, dan warisan budayanya.

Kota ini memiliki daya tarik yang tak terlupakan. Suasana Yogya membuat siapa saja rindu dan ingin kembali. Setiap kunjungan ke Yogya adalah pengalaman istimewa yang sulit dilupakan.

Masyarakat Yogyakarta, Senin (31/8/2026), memang mengikuti Kenduri Memetri Keistimewaan yang digelar di Balai BudayaTamanmartani, Kapanewon Kalasan, Sleman.

Lurah Tamanmartani, R Gandang Hardjanata, mengatakan, keistimewaan DIY bukan hanya milik pemerintah daerah ataupun keraton, melainkan milik seluruh warga Yogyakarta.  

“Keistimewaan itu wujud nyata bahwa bukan hanya milik pemerintah daerah atau pun keraton, tetapi milik masyarakat Yogya,” ujarnya.

Gandang mengatakan, dalam acara Kenduri Memetri Keistimewaan di Tamanmartani juga diisi dengan berbagai kegiatan yang melibatkan masyarakat lintas generasi. Pada pagi hari, digelar kegiatan sinau bersama yang diikuti pelajar SMA dan SMK.

Dalam kegiatan itu, para peserta diajak memahami sejarah Yogyakarta dan perjalanan panjang yang menjadikan daerah tersebut memiliki status istimewa.

“Anak-anak SMA dan SMK tadi kita ajak belajar sejarah tentang Yogya, bagaimana Yogya itu bisa menjadi istimewa. Sejumlah permainan dan tradisi lokal juga dihidupkan kembali, seperti lomba wiru jarik, dakon, hingga festival wong-wongan sawah,” katanya.

Speaker holding microphone addresses a seated group of students wearing hijabs in a hall with decorative pillars and a large drum display behind him
Peserta sedang mengikuti sinau sejarah. peserta diajak memahami sejarah Yogyakarta dan perjalanan panjang yang menjadikan daerah tersebut memiliki status istimewa. (Foto: Setiaky A Kusuma)

Gandang mengatakan, wong-wongan sawah merupakan bentuk ekspresi tradisional yang selama ini digunakan petani untuk mengusir burung dari area persawahan.

Berbeda dengan penggunaan pestisida atau bahan kimia, cara tersebut menjadi bagian dari kearifan lokal masyarakat agraris.

Dalam festival kali ini, warga dari 22 padukuhan diberi ruang untuk berkreasi membuat wong-wongan sawah dengan berbagai bentuk dan tampilan.

“Dulu itu digunakan untuk mengusir burung di sawah. Sekarang kita festivalkan, warga dari padukuhan bisa berkreasi,” ujarnya

Sementara itu, Sekretaris Paniradya Kaistimewaan DIY, Ariyanti Luhur Tri Setyarini, mengatakan, Kenduri Memetri Keistimewaan menjadi momentum untuk berhenti sejenak, menengok perjalanan yang telah dilalui, membaca kondisi saat ini, sekaligus memandang masa depan keistimewaan DIY.

“Keistimewaan tidak cukup hanya dipahami sebagai sebuah status yang melekat pada Yogyakarta. Kita perlu terus mengingat bahwa keistimewaan tidak berhenti pada status,” ujarnya.

Ariyanti mengatakan, nilai hamemayu hayuning bawana, misalnya, dinilai semakin relevan di tengah persoalan lingkungan dan pembangunan.

Nilai tersebut dapat menjadi pijakan dalam menjaga kelestarian lingkungan, menciptakan keseimbangan pembangunan, hingga menumbuhkan tanggung jawab terhadap generasi mendatang.

Begitu pula dengan semangat sawiji, greget, sengguh, ora mingkuh yang dapat terus dihidupkan sebagai etos dalam menjalankan tanggung jawab.

Sawiji mengajarkan fokus dan kesungguhan, greget menumbuhkan semangat dalam bekerja, sementara sengguh mengajarkan kepercayaan diri tanpa kehilangan kerendahan hati. Ada pun ora mingkuh menjadi pengingat agar tidak menghindar dari tanggung jawab,” katanya.

Share This Article
Teruslah Berbuat baik kepada siapapun karena hal baik itu, akan kembali padamu dengan berbagai cara
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Tidak ada komentar