Mabur.co – Sejak awal masa kemerdekaan, Yogyakarta atau provinsi DIY dikenal sebagai kota pendidikan maupun kota pelajar.
Hal itu membuat masyarakat dari daerah-daerah lain datang berbondong-bondong ke DIY, untuk menempuh pendidikan, sekaligus meningkatkan literasi mereka.
Hal itu semakin didukung dengan tingginya indeks pembangunan literasi di DIY, yang menjadi salah satu tertinggi di Indonesia.
Menurut data dari Badan Pusat Statistik (BPS) dan juga Perpustakaan Nasional (Perpusnas) pada 2025 lalu, Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat (IPLM) untuk provinsi DIY berada di angka 48,05, dan menduduki peringkat ketiga secara nasional. DIY hanya kalah dari Jawa Timur dan juga Banten, yang menempati posisi dua teratas.
Meskipun bukan yang tertinggi (untuk 2025), namun DIY masih konsisten berada dalam posisi atas, berkat komitmen yang tinggi dari seluruh pihak, untuk dapat mempertahankan predikat kota pendidikan maupun kota pelajar yang telah diperoleh sejak lama.
“Dalam indeks pembangunan literasi masyarakat (tingkat nasional), kita (provinsi DIY) masih jadi salah satu yang tertinggi di Indonesia. Karena kita tahu sendiri bahwa DIY itu masih menjadi kota pendidikan maupun kota pelajar, di mana perguruan tinggi di Jogja sangat banyak, sarana prasarana juga cukup memadai, perpustakaannya juga tumbuh di mana-mana, baik yang dilakukan oleh pemerintah daerah maupun masyarakat.
Kemudian dari sisi gudang intelektual, kalau mau mencari orang pinter itu ya adanya di Jogja. Tentunya kita patut berbangga, karena Jogja menjadi gudangnya SDM berkualitas. Termasuk jika ada penelitian, teknologi baru, dan sebagainya. Semuanya difasilitasi dengan sangat baik di sini,” ujar Kepala Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah (DPAD), DIY, Syam Arjayanti, seperti dilansir dari kanal YouTube Paniradya Kaistimewan, Kamis (3/9/2026).
Peran Pemerintah dan Danais
Syam juga turut menyinggung peran penting dari pemerintah, dalam konteks tingginya tingkat literasi di DIY sampai saat ini.
Selain itu, faktor keistimewaan yang dimiliki DIY melalui dana keistimewaan (danais), juga turut memegang peranan penting, yang membuat DIY masih terus konsisten dalam pembentukan literasi masyarakat dari generasi ke generasi.
“Lalu jangan lupakan juga peran pemerintah daerah dalam pertumbuhan literasi masyarakat. Karena selain didukung dari anggaran reguler (APBD), kita juga punya dukungan dari dana keistimewaan, sehingga banyak kegiatan yang kita lakukan, untuk dapat meningkatkan literasi masyarakat. Seperti misalnya bedah buku, yang beredar sampai ke pelosok desa, kemudian ada pojok baca, dan juga Jogja Book Fair seperti hari ini, dan masih banyak lagi,” tambah Syam Arjayanti.
Syam dan pihak DPAD DIY juga tak lupa mengapresiasi keterlibatan masyarakat secara umum, untuk dapat mendukung terciptanya indeks pembangunan literasi yang cukup tinggi di Yogyakarta.
Karena tentu saja, pemerintah tidak akan sanggup jika melakukan semuanya sendirian, tanpa mendapat dukungan dari masyarakat setempat, yang menjadi pilar penting terciptanya kultur literasi yang sangat baik di DIY sampai saat ini. (*)
