Mabur.co – Pada hakikatnya, tujuan seseorang mengenyam pendidikan adalah untuk mengembangkan potensi diri secara utuh, serta memperoleh ilmu sebanyak-banyaknya (dari yang tidak tahu menjadi tahu), agar mampu menjadi manusia yang mandiri, tangguh, dan bermanfaat bagi masyarakat luas.
Namun di era disrupsi teknologi seperti saat ini, tujuan pendidikan seolah sudah melenceng begitu jauh. Pasalnya, pendidikan hanya ditempuh untuk sekadar menggugurkan kewajiban tertentu, memenuhi tuntutan sosial, atau bahkan supaya terlihat keren, dan seterusnya.
Bagi seorang Guru Gembul, atau yang memiliki nama asli Johan Riyadi, tujuan pendidikan semacam itu tidak lagi mencerminkan pendidikan sebagai wadah yang dapat mencerdaskan manusia, melainkan lebih kepada pemenuhan hak-hak sosial tertentu, agar terlihat “eksis” di hadapan orang lain.
“Kita ke sekolah itu (seolah) tidak punya tujuan. Karena kalau misalkan kita benar-benar menuntut ilmu, kita punya punya rencana A, B, C, D, bakal ngapain saat di sekolah, dan lain-lain. Tapi ini enggak seperti itu. Kita datang ke sekolah ya karena disuruh, karena itu adalah tuntutan sosial, dan karena itu merupakan tuntutan akademik. tuntutan dari orang tua, dan karena teman-teman kita semua ada di sana (sekolah).
Tapi kita (ketika di sekolah) itu tidak punya target, ketika kita belajar itu kita akan dapat apa, terus setelah itu mau ke mana, itu nyaris tidak ada sama sekali,” papar Guru Gembul, seperti dilansir dari kanal YouTube pribadinya, beberapa waktu lalu.
Hilangnya Inisiatif Siswa
Guru Gembul juga menyoroti hilangnya inisiatif para siswa, saat menempuh pendidikan di sekolah, atau pun mahasiswa saat berkuliah di kampus.
Karena menurutnya, setiap siswa hanya disuruh untuk menuruti semua aturan yang berlaku, dan tidak diberi kesempatan sedikit pun untuk mengembangkan kreativitasnya masing-masing. Sampai pada akhirnya, mereka kebingungan setelah lulus ingin melakukan apa dan seterusnya.
“Saya juga melihat bahwa kita sekolah itu nggak punya inisiatif. Inisiatif kita itu udah dimatikan sejak awal. Sehingga pas kita lulus sekolah, kita itu nggak tahu tujuannya (selanjutnya) apa. Makanya ketika kuliah itu dia ditanya ‘kenapa kamu ambil jurusan ini?’ Terus jawabnya pasti ‘supaya mudah dapat pekerjaan‘, kan selalu begitu jawabannya,” tambah Guru Gembul.
Bahkan dalam fase tertentu, ia juga melihat banyak orang yang menjadikan sekolah atau kuliah sebagai alasan untuk menghindari masalah atau omelan dari orang tuanya.
Sehingga statusnya dapat lebih terpandang secara sosial, alias tidak dianggap aneh oleh masyarakat di sekitarnya, dan seterusnya. (*)
