Borneo Lautan Api, Puluhan Ribu Titik Api Berada dalam Habitat Orangutan

5 Min Read
Adult orangutan with prominent cheek pads resting among tree branches in a lush green forest.
Bagi orangutan di Kalimantan, setiap hutan yang terbakar berarti juga kehilangan sumber pakan, pohon sarang, tutupan kanopi, dan ruang gerak maupun ruang jelajah. (Foto: ANTARA)

Mabur.co – Krisis kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan dan beberapa wilayah kunci keanekaragaman hayati lainnya di Indonesia merupakan ancaman besar bagi kehilangan ekosistem hutan beserta fungsi-fungsi ekologisnya.

Bagi orangutan Kalimantan, setiap hutan yang terbakar berarti juga kehilangan sumber pakan, pohon sarang, tutupan kanopi, dan ruang gerak maupun ruang jelajah.

Dampaknya tidak sekadar berhenti ketika api padam, tetapi dapat berlanjut melalui perubahan perilaku, tekanan fisiologis, fragmentasi habitat, kesehatan satwa hingga meningkatnya risiko konflik dengan manusia.

Senior Wildlife Campaigner Geopix, Annisa Rahmawati, menjelaskan soal habitat orangutan Kalimantan terhadap titik api selama periode Juni sampai dengan Agustus 2026.

Hasil analisis terbaru Geopix mengungkap, adanya puluhan ribu titik api di wilayah habitat orangutan Kalimantan.

Pentingnya Perlindungan Ekosistem Hutan

Hal ini makin menguatkan pentingnya perlindungan ekosistem hutan dari semua ancaman yang dapat menimbulkan kerusakan ekologis luar biasa.

“Krisis karhutla ini boleh jadi berulang setiap tahunnya, oleh karena itu, kita harus mampu memutus mata rantainya dengan perlindungan total terhadap hutan beserta fungsi-fungsi ekologisnya. Termasuk untuk terus memperkuat penegakan hukum agar permasalahan ini dapat ditangani secara tuntas,” ucapnya, Kamis (3/9/2026).

A woman wearing a blue hijab speaks into a microphone on a stage with a large banner showing an orangutan image and white/orange letters in the background.
Senior Wildlife Campaigner Geopix, Annisa Rahmawati. (Foto: ISTIMEWA)

Annisa mengatakan, krisis kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terjadi saat ini telah menghilangkan tutupan hutan yang disertai dengan munculnya asap yang mengganggu aktivitas dan kesehatan masyarakat.

Di Kalimantan, kebakaran terjadi di bentang alam-bentang alam yang menjadi rumah bagi berbagai spesies kunci yang dilindungi.

Beberapa kebijakan nasional telah menempatkan dan menetapkan orangutan (Pongo pygmaeus, Pongo abelii, dan Pongo tapanuliensis) sebagai satwa yang dilindungi di Indonesia.

Sedangkan berdasarkan kriteria IUCN Red List of Threatened Species, status perlindungan orangutan Kalimantan adalah terancam punah.

Total populasi mereka saat ini berdasarkan data adalah 57.350 individu yang hidup di alam liar Kalimantan.

Ekosistem Hutan Fundamental

”Ekosistem hutan bagi orangutan sangatlah penting dan fundamental. Sebagai satwa arboreal yang sangat bergantung pada tajuk pepohonan yang tinggi. Sekitar hampir 80 persen menghabiskan waktunya di pepohonan. Serta menggunakan cabang-cabang pohon di hutan untuk bergerak. Mencari makanan, beristirahat, dan membangun sarang setiap hari,” ucapnya.

Annisa menuturkan, krisis karhutla yang sedang terjadi saat ini secara langsung dapat melenyapkan pohon dan vegetasi yang menjadi sumber makanan maupun tempat berlindung.

Hilangnya pohon-pohon yang menjadi pakan juga memaksa orangutan mencari sumber makanan di lokasi lain.

Dalam kondisi habitat yang semakin terfragmentasi, pilihan ruang hidup tersebut menjadi semakin terbatas. Oleh karena itu kebakaran berulang dapat mempercepat degradasi habitat dan meningkatkan tekanan terhadap populasi mereka yang sudah terfragmentasi.

Tidak bisa dielakkan bahwa perubahan iklim meningkatkan risiko terjadinya kondisi cuaca yang lebih panas dan kering.

Sementara fenomena Godzilla El-Nino memperpanjang periode tanpa hujan di sejumlah wilayah Indonesia dan diprediksi akan semakin memperburuk kondisi lingkungan secara luas.

Kondisi vegetasi yang semakin kering membuat bahan bakar di permukaan/lantai hutan semakin kering dan membuatnya lebih mudah terbakar sehingga api lebih sulit dikendalikan.

“Dalam situasi seperti ini, kebakaran yang awalnya berada pada area terbuka dapat berkembang dan semakin menjalar serta memasuki ekosistem hutan yang lebih penting secara ekologis. Oleh karena itu, peningkatan risiko kebakaran perlu dilihat sebagai bagian yang kompleks dari kombinasi antara faktor iklim, kondisi lanskap, pengelolaan lahan, dan efektivitas pencegahan kebakaran maupun aktivitas manusia baik sengaja maupun tidak disengaja,” katanya.

Tiga Sub Spesies

Menurut Annisa, terdapat tiga sub spesies orangutan di wilayah Kalimantan, yaitu Pongo pygmaeus pygmaeus, distribusi populasinya berada di utara Sungai Kapuas (Kalimantan Barat).

Lalu Pongo pygmaeus morio, hidup di Kalimantan Timur. Sedangkan Pongo pygmaeus wurmbii terlihat mulai dari bagian selatan Sungai Kapuas (Kalimantan Barat) hingga timur Sungai Barito (Kalimantan Tengah).

Pada 2024 luas tutupan hutan di Kalimantan adalah sebanyak 27,78 juta ha, yaitu 29% dari total tutupan hutan seluruh Indonesia yaitu 95,5 juta ha.

Selain itu sekitar 4,5 juta hektar lahan di Pulau Kalimantan merupakan ekosistem gambut yang vital dan total 13,43 juta hektar luas gambut nasional.

Persentasenya adalah sebesar 33,5% menempati posisi terbesar kedua setelah Sumatra yaitu 43%.

“Ekosistem gambut adalah tatanan unsur gambut yang merupakan satu kesatuan utuh menyeluruh yang saling memengaruhi dalam membentuk keseimbangan, stabilitas, dan produktivitas,” ucapnya.

Share This Article
Teruslah Berbuat baik kepada siapapun karena hal baik itu, akan kembali padamu dengan berbagai cara
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Tidak ada komentar