Kata Siapa Umbi-umbian Lokal Bernilai Kuno dan Tak Laku? Ibu-ibu di Kulon Progo Ini Membuktikan - Mabur.co

Kata Siapa Umbi-umbian Lokal Bernilai Kuno dan Tak Laku? Ibu-ibu di Kulon Progo Ini Membuktikan

Mabur.co – Sejumlah ibu rumah tangga di Kabupaten Kulon Progo berhasil mengembangkan sentra produksi olahan pangan berbahan umbi-umbian lokal dengan nilai jual tinggi.

Tak hanya dipasarkan ke wilayah Kulon Progo dan sekitarnya, produk-produk mereka saat ini bahkan telah dipasarkan hingga ke berbagai daerah di Indonesia.

Mereka adalah Kelompok Sentra Olahan Pangan Ralifa yang berlokasi di Dusun Pereng, Kalurahan Sendangsari, Kecamatan Pengasih, Kulon Progo.

Berdiri sejak tahun 2010 lalu, kelompok yang didominasi ibu-ibu rumah tangga ini secara konsisten mengolah berbagai jenis umbi lokal menjadi produk pangan bernilai ekonomi tinggi.

Ketua KWT Melati sekaligus pengelola UKM Ralifa, Yuliana, menjelaskan, pendirian usaha ini bermula dari munculnya rasa keprihatinan atas semakin langkanya produk makanan lokal berbahan umbi-umbian.

Selain kerap dipandang sebelah mata, umbi-umbian ini seringkali juga dihargai sangat murah. Akibatnya masyarakat pun semakin enggan untuk menanam. 

Proses pengupasan umbi. (Foto: JH Kusmargana)

“Berawal dari situlah kita mencoba mengubah pandangan itu. Bahwa umbi lokal seperti garut, gadung, hingga gembili dan sebagainya itu punya banyak manfaat dan nilai ekonomi tinggi. Apalagi di desa kami banyak sekali tumbuh tanaman ini. Jadi sayang kalau tidak dimanfaatkan,” ujar Yuliana kepada mabur.co

Dibantu suaminya, Yuliana kemudian mencoba mengolah umbi-umbian itu menjadi produk tepung. Mulai dengan mengupas sampai bersih, memendam untuk menghilangkan zat-zat berbahaya, menjemur sampai kering, lalu menggiling hingga halus dan menjadi tepung.

Berkat ketelatenannya, kini kelompok ini telah mampu mengolah beragam umbi yang sebelumnya kerap dipandang sebelah mata, seperti singkong, garut, ubi ungu, ubi kuning, gembili, gadung, hingga pisang, menjadi aneka produk tepung dan pangan modern.

Di antaranya tepung singkong atau mocaf, tepung garut, tepung ubi ungu, hingga tepung pisang.

“Saat ini kami mampu menghasilkan sekitar 2 sampai 3 kuintal tepung per hari. Produk yang paling digemari adalah tepung pisang, tepung ubi ungu, dan tepung garut,” ungkapnya. 

Proses pembuatan tepung dengan memanfaatkan mesin giling. (Foto: JH Kusmargana)

Setelah diolah menjadi tepung, nilai jual umbi-umbian itu pun langsung meningkat drastis. Paling mahal adalah tepung garut yang dipasarkan dengan harga mencapai Rp60 ribu per kilogram.

Disusul tepung ubi ungu sebesar Rp35 ribu per kilogram dan tepung singkong yang laku dijual seharga Rp25 ribu per kilogram. 

“Untuk tepung mayoritas kita pasarkan ke luar daerah. Baik itu offline maupun online,” ungkapnya.

Selain menjual produk berupa tepung, ibu-ibu KWT di Kulon Progo ini juga berhasil mengembangkan olahan pangan modern dengan memanfaatkan bahan baku umbi-umbian lokal di desa mereka.

Tepung yang telah berhasil diproduksi, lalu diolah kembali menjadi makanan berupa snack atau camilan seperti keripik dan ceriping, stick, mocaf, hingga tiwul instan. 

Saat ini hampir seluruh produk olahan makanan buatan kelompok ini telah dipasarkan secara mandiri ke berbagai daerah di Kulon Progo dan sekitarnya.

Mulai dari warung kelontong, minimarket hingga toko oleh-oleh di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta. Mereka juga menjual berbagai produk makanan itu secara online dengan memanfaatkan media sosial. 

Sejumlah produk olahan makanan dari bahan umbi-umbian lokal. (Foto: JH Kusmargana)

Akibat semakin tingginya permintaan pasar, Yuliana menuturkan, kelompoknya tak jarang bahkan sampai kuwalahan untuk melayani konsumen.

Mereka bahkan sesekali harus mendatangkan beberapa jenis bahan baku berupa umbi dari luar daerah, terutama saat hasil panen lokal sedang menurun. 

Berkat kreativitas dan inovasi yang terus dikembangkan, Sentra Olahan Pangan Lokal Ralifa kini kerap menjadi tujuan studi dan kunjungan berbagai kelompok dari berbagai daerah.

Beragam kelompok masyarakat, pelaku UMKM, hingga komunitas pemberdayaan ekonomi desa datang untuk belajar mengenai pengolahan umbi-umbian lokal, manajemen produksi, hingga pengembangan produk bernilai jual tinggi di tempat ini. *** 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *