Mengunjungi Taman Pohon Langka dan Keramat di Pemakaman Girigondo 

4 Min Read
Stone stairway leads up to a white arched gate, framed by green trees and trimmed shrubs, with a sign placed on the steps.
Kompleks Pemakaman Astana Girigondo (Foto: JH Kusmargana)

Mabur.co – Selain dikenal sebagai lokasi pemakaman Raja-raja Paku Alam Yogyakarta, Astana Girigondo yang terletak di Kalurahan Kaligintung, Temon, juga dikenal sebagai tempat wisata religi di Kabupaten Kulon Progo.

Saat mengunjungi kompleks pemakaman yang berada di puncak bukit ini, pengunjung tak hanya bisa menyaksikan bangunan bersejarah berusia ratusan tahun. Namun juga menikmati suasana sakral perbukitan hijau yang konon dikenal dapat memunculkan semerbak bau wangi.

Makam Astana Girigondo sendiri dibangun sekitar tahun 1900 oleh Raja Pakualaman ke-5, KGPAA Paku Alam V di lahan seluas 2 hektare yang menghadap ke arah pantai selatan. 

Dari puncak bukit yang menjadi pelataran teras pertama dan kedua, pengunjung bisa menyaksikan hamparan hijau kawasan pedesaan yang membentang di sisi selatan. Dengan latar pemandian laut kidul di ujung cakrawala.

Sejumlah bangunan megah yang baru beberapa tahun didirikan di Kulon Progo seperti Bandara Yogyakarta International Airport (YIA) hingga sejumlah gedung hotel pencakar langit juga bisa disaksikan dari sini. 

Man in a white T-shirt pointing at a large green tree in a courtyard with tiled roofs in the background.
Bayu menunjukkan pohon nagasari di kompleks Pemakaman Astana Girigondo. (Foto: JH Kusmargana)

Tanaman Langka dan Keramat

Salah satu yang paling menarik dari kompleks makam Astana Girigondo ini adalah keberadaan taman kecil di sisi kanan dan kiri tangga utama. Taman ini banyak ditanami aneka pohon atau tanaman langka yang dikenal sakral dan sudah sangat jarang ditemui. 

Sejumlah tanaman itu antara lain adalah pohon nagasari, cendana, tanjung, gandrik, hingga wora-wari. 

Baca juga : Girigondo, Makam Raja-raja Kadipaten Pakualaman di Bumi Adikarto

Menurut petugas kebersihan Makam Astana Girigondo, Bayu Kusumo, sejumlah tanaman langka itu sudah ada sejak bangunan makam ini pertama kali dibangun. Yakni sebagai simbol ajaran maupun nilai-nilai luhur yang harus diteladani.

Sejumlah pohon nagasari sendiri nampak tumbuh di beberapa titik sekitar pintu gerbang makam. Tanaman yang sangat dihormati dalam budaya Jawa ini dikenal memiliki bunga yang sangat harum serta batang kayu yang sangat keras. 

Keberadaan pohon nagasari ini dipercaya memiliki tuah manis yakni sebagai simbol keselamatan, kewibawaan, pengobatan, serta penolak bala. Dikenal sangat langka, pohon nagasari memang hanya bisa ditemui di area makam tua atau pesarean keramat, seperti Imogiri, Wot Galeh, dan sebagainya.

Small tree growing on a worn stone staircase in a temple courtyard, surrounded by greenery and plants.
Pohon tanjung di kompleks Pemakaman Astana Girigondo (Foto: JH Kusmargana)

“Pohon nagasari ini juga sering dikaitkan dengan tokoh Anoman. Sementara pasangannya adalah pohon wora-wari yang sering dikaitkan dengan tokoh Dewi Anjani. Karena itu selain ada pohon nagasari di sini juga ada pohon wora-wari,” ujar Bayu, Jumat (12/6/2026). 

Selain itu di kompleks pemakaman Astana Girigondo ini juga terdapat pohon tanjung. Seperti halnya pohon nagasari, pohon tanjung juga dikenal memiliki bunga yang sangat harum. 

Tak hanya itu, pohon tanjung juga termasuk pohon sakral yang sangat dihormati dan dipercaya menjadi simbol spiritualitas, karena dianggap menjadi tangga bagi para dewa untuk turun ke bumi.

Baca Juga: Astana Girigondo, Kompleks Pemakaman Raja Pakualaman Penuh Semerbak Bau Harum

Pohon langka yang hanya bisa ditemukan di kompleks keraton maupun area pemakaman kuno ini juga dipercaya mampu menjadi penolak bala, baik itu mengusir ular hingga gangguan energi negatif dari lingkungan sekitar.

“Kalau itu pohon gandri atau pohon gandrik. Sengaja ditanam sebagai pohon yang dipercaya mampu menangkal petir. Pohon ini termasuk sangat langka dan hanya bisa ditemui di makam Ki Ageng Selo, Grobogan,” ujar Bayu. ***

Share This Article
Avatar photo
Lahir di Jogja. Fans Man Utd.
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Leave a Comment