Mabur.co – Tradisi Nyemulak atau pemasangan tiang pertama menjadi penanda dimulainya pembangunan kembali Kampung Adat Sade di Desa Rambitan, Kecamatan Pujut, Kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB).
Tradisi ini digelar warga pada Kamis (3/9/2026) untuk mengawali rekonstruksi rumah adat Sasak dan Masjid Sade yang sebelumnya ludes terbakar.
Hidupkan Kembali Kawasan Sade
Prosesi Nyemulak menjadi bagian penting dalam upaya menghidupkan kembali kawasan adat Sade yang selama ini menjadi salah satu tujuan wisata budaya di Lombok Tengah.
Dilansir Antara, Jumat (4/9/2026), Bupati Lombok Tengah, Lalu Pathul Bahri, mengatakan, pelaksanaan pembangunan bertepatan dengan bulan Maulid Nabi Muhammad SAW yang dinilai menjadi momentum baik untuk memulai proses rekonstruksi.
“Bulan Maulid Nabi Muhammad ini merupakan yang terbaik, sehingga pembangunan rumah di kampung Adat Sade ini dimulai hari ini,” katanya.
Ia mengapresiasi para donatur yang telah memberikan dukungan terhadap pembangunan kembali Kampung Adat Sade.
Menurutnya, dukungan masyarakat dibutuhkan agar proses pemulihan dapat berjalan dan aktivitas warga kembali normal.
Pathul juga meminta masyarakat ikut mengawal proses rekonstruksi agar berlangsung transparan dan sesuai ketentuan.
Sementara itu, Gubernur NTB, Lalu M Iqbal, mengatakan Nyemulak menjadi awal dari proses panjang untuk mengembalikan Kampung Adat Sade seperti sebelum kebakaran.
Ia meminta proses pembangunan dilakukan secara bertahap dan tidak tergesa-gesa. Menurutnya, aspek keamanan sekaligus nilai budaya harus menjadi perhatian dalam setiap tahapan pembangunan.
Iqbal juga meminta pemerintah dan pihak terkait membentuk satuan tugas serta rekening bersama untuk mengelola seluruh bantuan yang diberikan untuk rekonstruksi.
“Bantuan yang masuk dikumpulkan,” ujarnya.
Selain pembangunan rumah adat, Iqbal meminta museum semi permanen di kawasan Sade segera dibangun.
Fasilitas tersebut dinilai penting agar masyarakat tetap memiliki ruang beraktivitas sekaligus wisatawan tetap dapat melihat gambaran Kampung Adat Sade selama proses rekonstruksi.
“Wisatawan yang datang bisa melihat bentuk Sade ini, karena proses rekonstruksi dimulai, kawasan ini ditutup,” katanya.
Harus Mempertahankan Karakter Asli Sade
Ia menegaskan, pembangunan kembali Sade harus tetap mempertahankan karakter aslinya. Sebab, wisatawan datang bukan hanya untuk melihat bangunan, tetapi juga mengenal budaya, kehidupan masyarakat Sasak, serta berbagai ritual yang masih dijalankan.
“Proses pembangunan ini tidak boleh terburu-buru. Ini proyek pertama pelestarian budaya di NTB,” ujarnya.
Kebakaran sebelumnya mengakibatkan kerusakan pada puluhan bangunan di kawasan tersebut. Pendataan mencatat 75 rumah adat, delapan berugak atau gazebo, enam sekenam, satu masjid, dua toilet, dan 69 art shop terdampak.
Iqbal mengatakan pula, pembangunan seluruh kawasan tidak dapat dilakukan secara bersamaan. Rekonstruksi akan dilakukan bertahap sesuai perencanaan yang telah disusun dengan mempertimbangkan faktor keamanan.
“Seluruh proses pembangunan dimulai hari ini, namun tidak bisa diselesaikan dengan bersamaan, sehingga dibangun sesuai dengan perencanaan rekonstruksi yang lebih aman,” katanya.
Rekonstruksi ini diharapkan tidak sekadar mengganti bangunan yang terbakar, tetapi juga mengembalikan Kampung Adat Sade sebagai ruang hidup masyarakat Sasak sekaligus kawasan wisata budaya yang tetap mempertahankan nilai dan identitas asli.
