‘Lukisan Bintang’, Kenang Suka Duka Kisah Percintaan dengan Antologi Puisi

3 Min Read
Three women sit on stools in a panel discussion; the leftmost speaker holds a microphone and talks, while the other two listen nearby.
Felis Angela Lydia (kiri) menceritakan seluk-beluk perjalanan menulis buku antologi puisi berjudul "Lukisan Bintang". (Foto: kanal YouTube Bang Tedi Way)

Mabur.co – Mengungkapkan perasaan kepada si dia memang bisa dilakukan dengan banyak cara. Salah satunya dengan membuat antologi puisi.

Hal itulah yang coba dilakukan oleh Felis Angela Lydia, salah satu lulusan program Temu Karya Sastra (TKS) dari Dinas Kebudayaan “Kundha Kabudayan” DIY tahun 2023 lalu, agar dapat membukukan perjalanan asmaranya ke dalam sebuah karya antologi puisi.

Dalam antologi yang berjudul Lukisan Bintang tersebut, Feli, sapaan akrabnya, banyak menuliskan berbagai kisah percintaan yang ia alami dengan beberapa pria.

Meskipun akhirnya semua kisah percintaan itu harus kandas di tengah jalan, namun Feli tetap menyimpan pelajaran berharga dari setiap hubungan yang telah dijalani, untuk kemudian dituliskan menjadi kumpulan puisi menarik, yang dapat dibaca dan dinikmati oleh banyak orang.

“(Ketika kisah percintaan saya) memang sudah saatnya berakhir, lalu untuk mengabadikannya itu ya aku tuliskan (melalui karya antologi puisi), biar tetap abadi dalam kehidupan aku. Antologi ini menceritakan sisi bahagianya, terus makin lama kayak ah, nyerah atau enggak ya (hubungannya). Terus akhirnya sampai di titik ya udah, aku kayaknya harus nyerah (terhadap hubungan ini), gitu,” ucap Felis Angela Lydia, dalam sesi bedah buku antologi puisi berjudul Lukisan Bintang, dalam rangkaian acara Selasa Sastra di Kelingan Garden & Cafe, Bejen. Bantul, seperti dilansir dari kanal YouTube Bang Tedi Way, Selasa (1/9/2026).

Setiap Hubungan Punya Bumbu Masing-masing

Lebih lanjut, Feli mengungkapkan bahwa antologi ini menjadi semacam “diary” terhadap kehidupan asmaranya, yang penuh dengan lika-liku dan bumbu-bumbu manis serta pahit, yang sekiranya menarik untuk dijadikan konten puisi.

Apalagi setiap hubungan selalu membawa drama dan dinamikanya masing-masing, yang tentu saja tidak akan pernah sama antara satu dengan yang lainnya.

“Ada beberapa cowok yang menurut aku kayak dia itu cukup berkesan, dan cukup (layak) untuk aku abadikan (ke dalam buku antologi puisi), ketika aku sudah tidak bisa lagi memiliki dia. Dan untuk cerita-cerita (perjalanan asmara) kita cukup aku tuliskan saja (melalui antologi puisi). Dari situ aku bisa lebih paham dalam memaknai arti kenapa kita bisa bertemu dan kenapa kita harus berpisah, seperti itu,” tambah Feli.

Dalam sesi bedah buku ini, Feli mengaku sempat tidak ingin membuat judul “Lukisan Bintang”. Namun karena banyaknya pengalaman asmara yang dilalui di masa remajanya, seluruh pengalaman itu kemudian “dilukiskan” menjadi “bintang-bintang” yang menyinari angkasa.

Dengan kata lain, buku ini menjadi wadah bagi Feli untuk menceritakan seluruh pengalaman percintaannya, sehingga mampu memberi pelajaran berharga terhadap dirinya sendiri, agar tidak lagi terjerumus ke dalam lubang yang sama, dan seterusnya. (*)

Share This Article
Avatar photo
Lulusan program studi Jurnalistik STMM Yogyakarta, Jurnalis mabur.co, Writing Is Journey Of My Life
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Tidak ada komentar