Mabur.co – Di dalam buku Tahta untuk Rakyat Celah-celah Kehidupan Sultan Hamengku Buwono IX karya Kustiniyati Mochtar, berani mengungkapkan siapa penggagas Serangan Umum 1 Maret 1949. Yaitu Sultan HB IX. Cerita sejarah menjadi lain, sebab saat itu Soeharto sedang kuat-kuatnya memimpin Indonesia. Soeharto memiliki versi sendiri tentang Serangan Umum 1 Maret 1949.
Sudah jamak diketahui publik, Sultan Hamengku Buwono IX adalah seorang yang mencintai republik jauh sebelum Republik Indonesia lahir.
Ngarso Dalem, panggilan merakyatnya, meyakini bahwa republik akan berdiri setelah orang-orang Jepang meninggalkan Indonesia. Cintanya kepada republik tidak hanya nyata saat awal berdirinya republik, tetapi juga saat republik dalam kesulitan.
Peran Sri Sultan Hamengku Buwono IX saat ikut serta membidani lahirnya republik, saat republik bertikai dengan Belanda di akhir tahun 1940-an. Juga saat republik mengalami kesulitan politik dan ekonomi di akhir era Soekarno serta di awal pemerintahan Soeharto.
“Sebagai seorang putra yang diberi gelar Pangeran Mangkubumi dan disemati Keris Jalak Puturun, Gusti Raden Mas Dorojatun mewarisi takhta Jogjakarta sepeninggal HB VIII. Namun proses pengangkatan Sri Sultan Hamengku Buwono IX menjadi Sultan Yogyakarta tidaklah mudah. Seperti sultan-sultan sebelumnya harus ada kontrak politik dengan Belanda sebelum bisa jumeneng,” demikian dikutip mabur.co, Sabtu (5/9/2026), dari buku Tahta untuk Rakyat tersebut.
Kelola Keraton, Peran Belanda Besar
Pembahasan kontrak politik tersebut berlarut-larut karena GRM Dorojatun atau HB IX tidak mau Belanda mempunyai peran yang lebih besar dalam mengelola Keraton Yogyakarta. Namun karena mendapatkan wisik maka akhirnya bersedia menandatangani kontrak politik tersebut. Resmilah ia bertakhta di Kesultanan Ngayogjakarta Hadiningrat. Wisik itu mengatakan bahwa masa Belanda di Indonesia sudah tidak lama lagi.
Tepat dua tahun bertakhta, Jepang datang ke Jawa. HB IX sadar bahwa Jepang bukanlah pihak yang akan memerdekakan Indonesia. Jepang justru akan membawa kesengsaraan yang lebih besar bagi rakyat Yogya. Oleh sebab itu HB IX mengupayakan supaya rakyat Yogya tidak menyetorkan padi kepada Jepang serta tidak membuat rakyat menjadi romusha.
HB IX membuat laporan bahwa hasil panen di Yogya tidak berhasil. Kemarau panjang dijadikan alasan sehingga rakyat Yogya tidak perlu menyetorkan padi kepada Jepang.
Sedangkan untuk menghindari romusha, HB IX mengusulkan kepada Jepang supaya rakyat Yogya membangun saluran irigasi saja untuk meningkatkan hasil panen maka Jepang pun setuju, bahkan membantu pembangunan Selokan Mataram. Terhindarlah sebagian besar rakyat Yogya dari kekejaman Jepang.
HB IX adalah sultan pertama di Indonesia yang juga menyetujui Proklamasi yang dikumandangkan oleh Soekarno-Hatta di Jakarta. Dua hari setelah dikumandangkan HB IX mengirim telegram ucapan selamat kepada Soekarno-Hatta.
Telegram tersebut kemudian disusul dengan maklumat untuk menggabungkan Kesultanan Yogyakarta kepada Republik Indonesia dengan status Daerah Istimewa. Padahal saat itu sultan bisa saja mendirikan negara sendiri.
Ketika pada 1946 Jakarta sudah dikepung dan pemimpin bangsa dalam incaran Belanda, HB IX mengusulkan supaya Soekarno dan Hatta mengungsi ke Yogya.
Ia mengusulkan supaya ibu kota negara dipindahkan ke Yogya, maka operasi senyap memindahkan pemimpin negara dengan kereta api pun dijalankan. Untuk sementara pusat pemerintahan Republik Indonesia dipindahkan ke Yogya.
Soekarno-Hatta Ditawan, HB IX Gagas Serangan Umum
Gedung Agung dipinjamkan menjadi Kantor Kepresidenan. Ketika Soekarno-Hatta ditawan Belanda, HB IX menggagas Serangan Umum 1 Maret untuk menunjukkan bahwa Indonesia masih ada.
Setelah berkirim surat kepada Soedirman, HB IX sempat bertemu dengan Kolonel Soeharto untuk membahas Serangan Umum 1 Maret.
Pertemuan Sultan dengan Soeharto ini sengaja dihilangkan saat rezim Orde Baru berkuasa. Upaya tersebut adalah untuk membangun imej bahwa Soehartolah yang mempunyai prakarsa serangan umum tersebut.
Fakta pertemuan tersebut bukan hanya dihilangkan dari sejarah resmi, tetapi juga dihilangkan dari buku-buku mata pelajaran, buku penunjang pembelajaran dan bahkan film-film yang mendokumentasikan peristiwa sejarah tersebut.
6 Juta Gulden
Saat Indonesia akhirnya diakui kemerdekaannya oleh Belanda pada 1949, HB IX tetap berperan besar untuk memberikan modal kepada republik yang sama sekali tidak punya uang. Ia menyerahkan uang sebesar 6 juta gulden kepada Soekarno dan Hatta sebagai modal awal Republik Indonesia muda tersebut.
Peran HB IX saat Indonesia mengalami krisis politik dan ekonomi di tahun 1966-1969 juga sangat nyata. Saat republik mengalami masa sulit secara politik dan ekonomi, HB IX bersama dengan Soeharto dan Adam Malik mengambil peran inti untuk mengembalikan stabilitas politik dan ekonomi.
Sebagai Menteri Utama Bidang Ekonomi dan Keuangan, HB IX berperan memasukkan kembali Indonesia menjadi anggota PBB, IMF, dan Bank Dunia.
Tim Berkeley
HB IX juga sangat aktif melakukan kunjungan ke negara-negara yang sebelumnya menjadi musuh Indonesia. Ia melakukan lawatan ke Jepang untuk mendapatkan pinjaman. Banyak yang tidak tahu bahwa HB IX-lah yang menjadi pemimpin Tim Berkeley dalam mencari investor di awal pemerintahan Soeharto.
HB IX memimpin delegasi Indonesia untuk bertemu dengan para calon investor di Jenewa pada 1967. Tim Berkeley inilah yang kemudian menjadi teknokrat Soeharto dalam membangun ekonomi di era Orde Baru.
Buku bersejarah dan monumental ini juga dilengkapi masa kecil, masa sekolah, dan masa kuliah HB IX di Belanda.
Meski dicatat sebagai mahasiswa yang biasa-biasa saja, tetapi HB IX berhasil meraih gelar di Jurusan Indologi. Meski tidak sempat menyelesaikan gelar doktoralnya, karena saat sedang menulis disertasi tiba-tiba diminta pulang oleh ayahnya, akhirnya Universitas Leiden mengirimkan ijazah doktoralnya setelah wafat.
HB IX adalah Raja Jawa yang benar-benar memegang teguh ajaran Jawa. Ia memilih untuk diam jika ada hal yang tidak disetujuinya.
Ketika ia merasa sudah tidak sejalan lagi dengan Soeharto, memilih untuk tidak mau diangkat kembali sebagai Wakil Presiden.
HB IX adalah seorang tokoh yang benar-benar cinta Republik Indonesia. ***
