Mabur.co – Sebagai istana sekaligus kediaman Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono X, bangunan Keraton Yogyakarta memegang peranan penting dalam sejarah peradaban DIY dari masa ke masa.
Bangunan keraton ini dirancang sekaligus didirikan langsung oleh raja pertama Yogyakarta, yakni Sri Sultan Hamengku Buwono I, atau yang memiliki nama asli Pangeran Mangkubumi pada 1755, yang merupakan hasil dari Perjanjian Giyanti.
Perpaduan Konsep Jawa, Islam, Eropa, dan Cina
Dilansir dari laman resmi Pemerintah Kota Yogyakarta, Selasa (1/9/2026), bangunan ini memadukan konsep filosofi Jawa, Islam, serta gaya bangunan Eropa (Portugal dan Belanda) maupun Cina dengan total luas mencapai 14.000 meter persegi, yang membentang dari wliayah Alun-alun Utara hingga ke Alun-alun Selatan, Kota Yogyakarta.
Di dalam bangunan istana keraton, terdapat banyak bangunan yang digunakan sebagai tempat tinggal Sri Sultan dan seluruh keluarganya, beserta Abdi Dalem yang menjaga wilayah keraton.
Kawasan ini tidak hanya menjadi kediaman Sri Sultan beserta seluruh keluarga dari berbagai generasi, tapi juga dapat digunakan sebagai pusat kebudayaan Jawa, dan juga pusat pemerintahan adat di Daerah Istimewa Yogyakarta.
Dengan luas hingga belasan ribu meter persegi, tentu saja istana Keraton Yogyakarta memiliki ruang-ruang strategis lainnya, yang dapat dipergunakan untuk berbagai keperluan, terutama untuk acara-acara pelestarian budaya.
Ada setidaknya 7 (tujuh) tingkatan halaman (plataran) yang dihubungkan dengan gerbang utama (regol) di kawasan keraton ini. Di antaranya adalah sebagai berikut:
- Pagelaran dan Sitihinggil Lor: Tempat menghadap punggawa kerajaan pada acara resmi.
- Kamandungan Lor: Halaman kedua setelah Sitihinggil.
- Srimanganti: Tempat menerima tamu penting dan pementasan seni.
- Kedhaton: Pusat area kediaman Sultan dan keluarga.
- Kemagangan: Area peralihan dan magang Abdi Dalem.
- Kamandungan Kidul: Halaman sebelum memasuki area selatan.
- Sitihinggil Kidul: Area penghubung di bagian selatan.
Selain itu, Keraton Yogyakarta juga memiliki sejumlah nilai filosofi dan sumbu kosmis yang sangat erat kaitannya dengan tata ruang kota, perjalanan kehidupan manusia, serta keseimbangan antara manusia, alam, dan Sang Pencipta.
Kompleks keraton sendiri berada di garis imajiner lurus antara Tugu Yogyakarta, keraton, dan juga panggung Krapyak. Garis ini melambangkan perjalanan hidup manusia dari lahir hingga kelak kembali menghadap Sang Pencipta.
Sementara atap bangunan keraton mengusung konsep Joglo, yang diperkaya dengan ornamen pilar bergaya Eropa, serta sentuhan warna tambahan dari Cina.
Lokasi Wisata

Seiring perjalanannya, Keraton Yogyakarta juga mulai dibuka untuk umum, sebagai salah satu daya tarik wisata di Kota Yogyakarta, mengikuti kawasan Malioboro yang menjadi pusat ekonomi strategis di pusat Kota Yogyakarta.
Langkah ini dilakukan untuk dapat memperkenalkan warisan budaya, sejarah, dan arsitektur Jawa kepada masyarakat luas.
Bangunan Benteng dan Bangsal yang Megah
Wisatawan yang berkunjung ke kompleks utama (kedhaton) juga dapat menyaksikan langsung kehidupan tradisi yang masih sangat lestari, koleksi benda-benda bersejarah, hingga arsitektur bangunan benteng dan bangsal yang megah di dalam kawasan keraton.
Pengunjung akan diajak untuk melihat museum dan berbagai koleksi bersejarah yang dimiliki keraton, menyaksikan langsung pertunjukan seni tradisional, serta interaksi budaya dengan para Abdi Dalem yang bertugas di lingkungan keraton dan masih banyak lagi.
Banyak pula sekolah yang turut memberikan pembelajaran di luar kelas (outing class) dengan mengunjungi kawasan keraton, sebagai bagian pembelajaran dari sisi sejarah, budaya, nasionalisme, dan nilai-nilai kebangsaan.
Tidak hanya itu, pengunjung lainnya yang berasal dari kalangan keluarga, anak-anak muda, hingga wisatawan mancanegara sekalipun, semuanya pernah menjadikan Keraton Yogyakarta sebagai pilihan destinasi wisata mereka di hari libur, untuk dapat mengenal lebih jauh istana kesultanan yang satu ini.
Kemegahan Keraton Yogyakarta adalah simbol dari istimewanya Yogyakarta, yang dapat memadukan unsur budaya, sejarah, dan pariwisata, ke dalam satu paket komplet yang dapat dinikmati oleh masyarakat luas dari seluruh dunia. (*)
