…..rusa’ kulang bulu rapa’, ke’de nene Tanriabeng, Luttu’ dai’ di tassusung. Rabummi Sawerigading, mattempo’ kaju balande’ natombo lopi bulahang, nasombalang sau Jaba (Jawa), napopattangnga adolangang….
Langit murung ketika perahu rakit Pongka Padang terantuk di Gunung Kapusaan, setelah melintasi badai dan gelombang besar yang menyapu tanah Sulawesi.
Ia bersyair dan merapalkan mantra itu, ingin memanggil para leluhurnya dari To Manurung hingga nenek buyutnya: Tanriabeng, saudara kandung dari Sawerigading (kakek buyutnya) yang ingin mempersunting Tanriabeng, namun Tanriabeng menolak itu sebab pemali, balak, kehancuran akan menimpa Tompo Tikka, Tanah Luwu, bahkan Tanah Sulawesi jika Sawerigading memaksa menikahi saudaranya yang cantik jelita itu.
Akhirnya Tanreabeng mengusulkan pada Sawerigading agar ia mempersunting saudara sepupunya saja, yang sangat mirip, ayu rupawan seperti dirinya yang tinggal di Tanah Cina bernama I We Cudai.
I La Galigo: Karya Sastra Terpanjang Dunia
Pongka Padang memang bukan tokoh utama dalam epos I La Galigo: karya sastra terpanjang di dunia, melebihi epos Mahabrata, Homerus dan Ramayana dalam versi Unesco.

Sebab Pongka Padang adalah tokoh lain yang muncul dalam kisah lain di tanah Sulawesi bagian barat, setidaknya setelah kemunculan tokoh utama To Manurung pasca-berakhirnya kisah epos I La Galigo: setelah perahu kebesaran I La Galigo dan keturunannya karam ke dasar samudra, dunia bawah laut di mana nenek moyangnya bertakhta sebagai penguasa dalam laut yang bernama Guru Ri Selleng dan istrinya bernama We Nyilli Timmo.
Tokoh To Manurung barulah kemudian muncul setelah fase “sianre bale” masa kegelapan setelah berakhirnya kisah epos I La Galigo. Demikian kata Prof. Nurhayati Rahman, ahli epos I La Galigo, Guru Besar Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Hasanuddin (Unhas) Makassar, saat berbincang beberapa waktu lalu di ruang kerjanya di Unhas Makassar.
Namun kisah I La Galigo terus direproduksi oleh anak cucunya, diceritakan secara turun temurun hingga ke generasi To Manurung, hingga beberapa lapis generasi, hingga ke tokoh utama bernama Pongka Padang sebagai nenek moyang orang Mandar Sulawesi Barat.
Kisah itu dituturkan dalam syair “Sengo-Sengo Saratu” begitulah orang-orang Ulu Salu, orang-orang rumpun Toraja Barat, Sulawesi Barat, menyebutnya.
“Sengo-sengo Saratu” hampir seluruhnya mengisahkan ulang tentang kisah dalam epos I La Galigo sebagai kisah nenek moyang mereka. Penutur utamanya adalah Pongka Padang kepada anak cucu selanjutnya.
Di dalam “Sengo-sengo Saratu” inilah banyak mengisahkan tentang perjalanan Sawerigading mengitari bumi, sebagai pengembara utama, pemberani, dibumbui dengan kisah-kisah heroik, percintaan, kadang melankolis.
Kadang pula membuat pembaca dan pendengar ceritanya harus mengernyitkan dahi atas berbagai tragika dan tragedi dalam epos tersebut.
Dalam kitab epos I La Galigo dan di dalam syair “Sengo-sengo Saratu”, Jawa atau Jaha, atau Jaba, seringkali muncul sebagai bagian dari kisah ini.
Jawa sering disebut sebagai wilayah pelayaran Sawerigading, kadang juga sebagai sahabat dialektika kerajaan, kadang pula menjadi musuh peperangan karena konflik-konflik personal, bukan konflik dalam konteks perang antar-kerajaan.
Termasuk konflik dan perjuangan kisah cinta Sawerigading memperebutkan I We Cudai hingga ke Negeri Cina. ***
