Mungkin hanya di Jawa, Yogya terutama, Bali, NTB, NTT, Papua Raja Ampat, itu pun baru beberapa tahun terakhir, beberapa titik di Sumatra, Sulawesi dan kepulauan Maluku yang kehidupan pariwisatanya benar-benar tumbuh. Terutama dalam program Desa Wisata yang digalakkan pemerintah, setidaknya dalam satu dekade terakhir.
Namun cukup disayangkan sebab di sejumlah tempat kita sering menemui “Pariwisata Pintu Gerbang” sebut saja begitu.
Artinya, seringkali para pelaku bisnis wisata, terutama pemerintah desa melalui program desa wisata, gegabah dalam mengambil sikap dan kebijakan.
Terburu-buru mementingkan pembangunan fisik destinasi wisata, namun lupa melakukan sejak awal inventarisasi isu dan reproduksi wacana tentang destinasi wisata yang mereka jual.
Lupa menyusun historisitas sebuah destinasi wisata, eksotisme apa yang menjadi magnet daerah itu, seberapa menggigit provokasi dan propaganda media promosi yang mereka hamburkan.
Sejauh apa kemampuan mereka memahami mitos wilayah dan reproduksi mitos tersebut, tanpa harus terkesan vulgar dan berlebihan, menabrak nalar dan nilai budaya serta keyakinan masyarakat setempat.
Di Bali, misalnya, dengan mudah kita menemukan sesajen di halaman rumah, di kantor-kantor, perhotelan, bahkan gedung-gedung mewah, sebab itu telah menjadi bagian dari kehidupan dan sistem kepercayaan masyarakat Bali.
Janur-janur kuning yang dirias penuh kreativitas dan kesungguhan terus menghiasi panjang jalan di manapun pergi.
Dari Denpasar, ke Bedugul, ke Pura Besakih, ke Desa Penglipuran hingga ke pelosok paling sunyi dan eksotis dalam kehidupan orang Bali. Begitulah Prof. Dr. I Gusti Ngurah Bagus, Guru Besar Antropologi Universitas Udayana Bali dan pionir Baliologi (studi kebudayaan Bali) sering mengungkapkan dalam berbagai ulasan.
Di Yogya pun begitu, ke mana pun pergi akan menemukan keramahan penduduk, cara hidup, dan pandangan-pandangan yang sederhana, makan di angkringan dan di sudut-sudut jalan, di bawah rindang pohon beringin.

Tukang-tukang cukur tradisional yang duduk sepanjang hari di perempatan jalan, tukang sol sepatu berkeliling, pengayuh becak, hingga mbah-mbah yang sudah tua renta tapi masih terus bekerja, ngarit di sawah, mengayuh sepeda tua sambil membonceng pakan kambing dan sapi.
Ada juga Abdi Dalem di keraton yang berjalan tanpa alas kaki, dua pohon beringin di Alun-alun Selatan, mitos Nyi Roro Kidul, Sumbu Filosofis antara Merapi hingga Parangtritis, semua itu eksotika dan mitos Yogya yang terus direproduksi dan sulit ditemukan di tempat lain.
Artinya habitus yang melingkupi ruang hidup dan cara pandang penduduk yang menjadi kebersahajaan setiap hari, membentuk kebudayaan.
Lalu kebudayaan saling berdialektika membentuk peradaban. Peradaban inilah yang menjadi pedati besar yang memuat berbagai cerita, kisah dan legenda di dalamnya, membangun mitos demi mitos bahkan direproduksi oleh setiap generasi.
Inilah yang menjadi daya tarik utama pariwisata, baik domestik maupun mancanegara. Menariknya, semua eksotika dan reproduksi mitos itu pada akhirnya menjelma ke dalam fotografi dan video yang dibawa pulang para pelancong.
Menjadi oleh-oleh cerita perjalanan, mengalami reproduksi wacana baru di tempat lain di waktu yang berbeda, memasuki media sosial dan mengundang wisatawan lain untuk datang menguji cerita dan legenda serta reproduksi mitos itu. ***
