Budaya Membaca Buku, Ekosistem yang Gagal Membangun Sinergi

3 Min Read
Person reading an open Bible outdoors, page showing 'Proverbs'.
Buku adalah jendela dunia di mana literasi sangatlah penting baik secara konvensional maupun yang kini beralih digital. (Ilustrasi Foto: Istimewa)

Mabur.co – Buku adalah jendela dunia di mana literasi sangatlah penting baik secara konvensional maupun yang kini beralih digital. Tanpa buku, manusia bagaikan hidup di dalam kegelapan dan tanpa arah.

Pegiat literasi, Fairuzul Mumtaz, mengatakan, isu mengenai rendahnya minat baca atau yang sering diidentifikasikan sebagai makin malasnya murid dan mahasiswa membaca, selalu menjadi lingkaran setan yang menarik untuk dibedah ulang, terutama bertepatan dengan momentum refleksi literasi.

Rupanya ada pergeseran ekosistem yang masif, baik di tingkat domestik (keluarga) maupun institusional (sekolah dan kampus).

“Dilihat dari hulu kepedulian orang tua. Seringkali, kepedulian orang tua hari ini terjebak pada penyediaan fisik semata, seperti membelikan buku, merapikan rak, atau sekadar memenuhi daftar buku wajib dari sekolah. Padahal, ketersediaan buku di rumah tidak otomatis melahirkan tradisi baca jika tidak diiringi dengan keteladanan dan interaksi dialogis,” ucapnya, Minggu (6/9/2026).

Orang Tua Jarang Baca Buku

Menurut Fairuzul, saat ini anak jarang melihat orang tuanya sendiri membaca buku dan yang lebih sering mereka saksikan adalah orang dewasa yang tenggelam dalam layar gawai.

Buku tidak diperkenalkan sebagai sumber kesenangan, tapi justru sebagai alat penuntas tugas atau prasyarat ujian, buku itu kemudian kehilangan daya pikatnya. Buku bergeser menjadi beban, tidak lagi sebagai jendela petualangan.

Lantas, bagaimana dengan label “malas” yang kerap disematkan pada siswa dan mahasiswa? Stigma ini sering kali keliru membaca situasi.

Mereka bukan malas membaca dalam arti absolut, melainkan hidup di tengah ekosistem perhatian yang terfragmentasi.

“Arus informasi hari ini didesain serba cepat, visual, dan instan. Mulai dari guliran lini masa media sosial hingga potongan video pendek. Ketika otak terbiasa dengan stimulasi cepat berdurasi detik, membaca teks linier yang panjang menuntut energi kognitif yang jauh lebih besar. Masalahnya, sistem pendidikan kita kerap gagal menjembatani transisi ini,” katanya.

Apalagi sekolah dan perguruan tinggi sering kali memperlakukan teks bacaan secara mekanis seperti disuruh merangkum dan diuji lewat soal pilihan ganda. Itu dilakukan tanpa pernah membimbing mereka menikmati proses perenungan dan dialog kritis di atas teks.

Ekosistem yang Gagal

Akibatnya, minat baca merosot. Bukan semata-mata karena anak muda kehilangan kapasitas untuk berpikir. Ini karena ekosistem di sekeliling mereka gagal menawarkan relevansi atau sinergi.

“Buku-buku yang disajikan terkadang kaku, terjebak dalam kanon kurikulum yang usang, atau gagal menyentuh pergumulan hidup keseharian mereka,” katanya.

Bagi Fairuzul, membenahi budaya baca ini tentu tidak bisa diselesaikan hanya dengan slogan seremonial. Dibutuhkan gerakan kultural yang konsisten, orang tua yang kembali menjadikan membaca sebagai laku hidup harian.

Selain itu, sekolah harus mampu mengubah orientasi dari sekadar mengejar nilai ujian menjadi ruang diskusi yang hidup, serta ketersediaan akses bacaan bernas yang dekat dengan realitas sosial mereka.

“Tanpa itu semua, diskursus tentang merosotnya minat baca akan terus berulang sebagai keluh kesah tahunan, tanpa pernah menyentuh akar persoalan,” tuturnya. ***

Share This Article
Teruslah Berbuat baik kepada siapapun karena hal baik itu, akan kembali padamu dengan berbagai cara
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Tidak ada komentar