Mabur.co – Kematian seorang sejarawan bukanlah berhentinya sebuah narasi, melainkan pengembalian sang pencatat waktu ke dalam keabadian yang hakiki.
Berpulangnya Prof. Dr. H. Djoko Suryo menggetarkan tidak hanya bagi ruang-ruang kuliah di Bulaksumur, tetapi juga ingatan kolektif bangsa yang selama puluhan tahun ia baca, uraikan, dan susun kembali dengan ketelitian yang tekun.
Dalam laku keilmuannya, Prof. Djoko Suryo bukan sekadar akademisi yang menatap masa lalu dari atas menara gading.
Ia memperlakukan sejarah melalui filsafat spiritual yang dalam: bahwa sejarah adalah jejak takdir kemanusiaan yang menuntut rasa empati, kesadaran etik, dan kerendahan hati.
Lensa Historiografi Kritis
Melalui lensa historiografi kritis yang diwarisinya dari tradisi intelektual yang matang, ia mengajarkan bahwa masyarakat perdesaan, struktur sosial-ekonomi lokal, dan denyut nadi rakyat kecil —seperti yang ia potret dalam karya fenomenalnya tentang sejarah agraris — adalah penentu utama jalannya sebuah peradaban.
Sikap ini mencerminkan spiritualitas seorang begawan sejati. Ia memandang proses sejarah sebagai pemberatan nilai-nilai moral, di mana setiap peristiwa, perjuangan, dan penderitaan manusia di masa lampau menyimpan hikmah Ilahiah yang harus digali agar generasi mendatang tidak kehilangan kompas.
Historiografi bagi Prof. Djoko Suryo adalah sarana menyucikan ingatan, menolak kelupaan, dan menegakkan keadilan normatif bagi mereka yang sering kali tersisih dari panggung utama sejarah.
Warisan Metodologis yang Kokoh
Secara intelektual, ia meninggalkan warisan metodologis yang kokoh: integrasi antara pendekatan sosial-ekonomi dengan pemahaman kebudayaan yang bernuansa halus.
Namun, secara spiritual, almarhum meninggalkan keteladanan tentang keheningan jiwa seorang ilmuwan. Keagungan ilmunya tidak pernah berteriak melayani ego, melainkan hadir sebagai keteduhan yang membimbing ribuan muridnya untuk memahami bangsa secara lebih beradab dan bermartabat.
Sosok sejarawan terbaik tersebut, Prof. Dr. H. Djoko Suryo, memang telah berpulang pada Senin (7/9/2026) pukul 04.40 WIB pada usia 86 tahun di Rumah Sakit Akademik UGM, Yogyakarta.
Sebelum dimakamkan di Pemakaman Keluarga Besar UGM, Sawitsari, Yogyakarta, jenazah disemayamkan terlebih dahulu pada upacara persemayaman di halaman Balairung, Gedung Pusat UGM.
Dekan Fakultas Ilmu Budaya UGM, Prof. Dr. Setiadi, M.Si., mengatakan, bagi FIB UGM, almarhum bukan sekadar mantan pimpinan, melainkan teladan hidup.
“Bagi kami Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada beliau bukan hanya seorang mantan pimpinan tapi sesungguhnya beliau adalah pilar mentor dan keteladanan hidup bagi Fakultas Ilmu Budaya. Dedikasi beliau dalam membangun pondasi keilmuan, menjaga nilai-nilai humaniora, menjaga nilai-nilai ke-UGM-an,” ujarnya, Senin (7/9/2026).
Prof. Dr. Setiadi, mengatakan pula, selama masa pengabdiannya, almarhum juga menerima penghargaan Anugerah Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta tahun 2023 kategori pelestari atau pelaku kebudayaan.
Atas pengabdiannya kepada Keraton Yogyakarta, mendiang kemudian mendapatkan gelar Kehormatan Keraton Yogyakarta Kanjeng Raden Tumenggung (KRT) Suryohadibroto, serta penghargaan Tokoh Sewindu Undang-undang Keistimewaan Daerah Istimewa Yogyakarta pada 2020.
“Selain penghargaan kebudayaan, mendiang juga pernah menerima berbagai kesempatan dan kehormatan akademis internasional, seperti program pasca-doktoral di Cornell University, AS (1989), menjadi dosen tamu di Thailand, serta menjadi Research Fellow di Korea Selatan,” jelasnya.
Sementara itu, Rektor UGM, Prof. dr. Ova Emilia, Ph.D., menyampaikan, Prof. Dr. H. Djoko Suryo adalah sejarawan humanis yang senantiasa aktif merawat sejarah dan kebudayaan Indonesia.
“Beliau mampu memotret peradaban secara kritis dalam kebijaksanaan tradisi intelektualnya. Sebab bagi beliau, setiap kejadian meninggalkan refleksi makna bagi peradaban masa depan,” ucapnya.
Prof. dr. Ova Emilia, mengatakan pula, karya-karya almarhum akan selalu dikenang dalam ingatan kolektif bangsa.
“Saya mengenang pidato ilmiah pengukuhan guru besar mendiang pada 1998 berjudul ‘Masyarakat Indonesia dalam Dinamika Sejarah, Kesinambungan dan Perubahan’. Sebaran amalan ilmu dan karya beliau, Insya Allah menjadi ladang ibadah dan pembuka jalan pengembangan ilmu pengetahuan masa depan,” ungkapnya. ***
