Yogyakarta Masih Dibayangi Kemiskinan, 104 PTN-PTS se-DIY Bentuk Konsorsium Riset Terpadu

4 Min Read
Crowded exhibition hall with people browsing booths and a large blue tech banner on the right side.
Wakil Menteri Diktisaintek Fauzan (batik cokelat) bersama Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X, saat meninjau pameran sains. (Foto: Setiaky A Kusuma)

Mabur.co – Guna mengatasi paradoks Yogyakarta sebagai pusat pendidikan nasional yang masih dibayangi persoalan kemiskinan dan ketimpangan wilayah, sebanyak 104 perguruan tinggi negeri dan swasta (PTN-PTS) se-DIY resmi membentuk konsorsium riset terpadu.

Konsorsium yang melibatkan 1.100 doktor dan profesor ini diterjunkan langsung ke 22 klaster pembangunan di lima kabupaten dan kota se-DIY.

Perguruan Tinggi Tidak Lagi Bekerja Sendiri-sendiri

Wakil Menteri Diktisaintek, Fauzan, mengatakan konsorsium dibentuk agar perguruan tinggi tidak lagi bekerja sendiri-sendiri dalam merespons berbagai persoalan di wilayah DIY.

“Kolaborasi antarkampus dengan pemerintah serta dunia usaha dan dunia industri diharapkan membuat upaya penyelesaian masalah daerah menjadi lebih efektif,” ucapnya, usai ditemui di acara ‘Sarasehan Sains dan Teknologi Yogyakarta’ yang digelar di Hotel The Rich, Rabu (9/9/2026).

Fauzan, mengatakan, selama ini berbagai program dan kontribusi perguruan tinggi dalam membantu pemerintah daerah masih cenderung dilakukan secara parsial.

Kondisi tersebut membuat potensi besar yang dimiliki masing-masing kampus belum sepenuhnya terintegrasi.

“Selama ini perguruan tinggi itu masih bersifat sendiri-sendiri atau parsial, hasilnya kurang efektif maka pada hari ini kita memulai agar perguruan tinggi itu bisa bekerja bersama-sama,” katanya.

Fauzan menuturkan, melalui konsorsium, perguruan tinggi di DIY diharapkan dapat menyatukan berbagai kepakaran yang dimiliki.

“Kontribusi kampus tidak berhenti pada kegiatan akademik, penelitian, maupun pengabdian masyarakat secara terpisah, tetapi diarahkan untuk menjawab persoalan konkret yang dihadapi daerah,” katanya.

Fauzan  menegaskan, perguruan tinggi pada hakikatnya merupakan bagian dari entitas masyarakat. Kampus tidak seharusnya dipandang sebagai institusi yang berada di Menara Gading atau terpisah dari persoalan masyarakat.

“Saya berharap keberadaan konsorsium perguruan tinggi DIY dapat mengoptimalkan sumber daya yang ada di kampus. Perguruan tinggi memiliki dosen, pakar, ahli, dan mahasiswa dengan berbagai bidang keahlian yang dapat digerakkan untuk membantu pemerintah daerah,” katanya.

Fauzan menuturkan, keberagaman kompetensi tersebut menjadi modal penting dalam mencari solusi terhadap berbagai persoalan krusial yang dihadapi pemerintah daerah.

“Perguruan tinggi ini kan tempatnya orang pintar, orang unggul, ada mahasiswa dan dosen yang memiliki kepakaran berbeda-beda. Tentu itu harus kita gerakkan, bekerja sama dengan instansi terkait untuk bersama-sama mengatasi masalah,” katanya.

Fauzan menjelaskan, konsep konsorsium tersebut sekaligus menjadi upaya untuk membangun pola kerja yang lebih terintegrasi antarpemangku kepentingan.

“Perguruan tinggi tidak hanya menjadi penyedia pengetahuan, tetapi juga dapat mengambil peran lebih besar dalam proses penyelesaian persoalan daerah,” tuturnya.

Pandangan Sultan

Sementara itu, Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono X, menuturkan, konsorsium dapat semakin meningkatkan peran kampus dalam membantu pemerintah daerah menyelesaikan berbagai persoalan sekaligus memberikan masukan dalam proses pengambilan kebijakan.

“Selama ini kami juga banyak dengan perguruan tinggi pemerintah maupun swasta melakukan MoU, jadi hanya tinggal dengan kebijakan secara menyeluruh, nasional begini bisa lebih efektif di dalam pola dialog maupun pendekatan,” katanya.

Menurut Sri Sultan, pemerintah kabupaten dan kota di DIY selama ini telah menjalin kerja sama dengan perguruan tinggi.

Salah satu bentuk kerja sama tersebut dilakukan melalui pelibatan seorang profesor untuk memahami aspek kompetensi tertentu sesuai kebutuhan pemerintah daerah.

“Profesor yang dilibatkan dapat berganti setiap enam bulan sesuai dengan kebutuhan. Pola tersebut menjadi salah satu bentuk keterlibatan perguruan tinggi dalam membantu pemerintah kabupaten dan kota di DIY,” ungkapnya.

Menurut Sri Sultan pula, dengan adanya konsorsium perguruan tinggi se-DIY, kerja sama yang selama ini berjalan secara individual antara pemerintah daerah dan perguruan tinggi diharapkan dapat diperkuat melalui kebijakan yang lebih menyeluruh.

“Kolaborasi tersebut diharapkan membuat kepakaran kampus semakin efektif digunakan untuk mendukung penyelesaian persoalan di DIY,” katanya. ***

TAGGED:
Share This Article
Teruslah Berbuat baik kepada siapapun karena hal baik itu, akan kembali padamu dengan berbagai cara
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Tidak ada komentar