Mabur.co – Seporsi sayur lodeh bagi masyarakat Jawa bukan sekadar pelengkap nasi. Di balik kuah santan dan beragam bahan yang digunakan, tersimpan simbol, doa, serta pesan kehidupan yang diwariskan lintas generasi.
Salah satu tradisi yang lekat dengan filosofi tersebut adalah lodeh pitu atau sayur lodeh yang menggunakan tujuh jenis bahan.
Bagian dari Ritual Penolak Bala
Tradisi ini dikenal dalam budaya Jawa, termasuk lingkungan Keraton Yogyakarta dan dipercaya pernah digunakan sebagai bagian dari ritual penolak bala ketika masyarakat menghadapi situasi sulit, seperti wabah penyakit maupun bencana.
Kata pitu dalam bahasa Jawa berarti tujuh. Namun, istilah tersebut juga kerap dikaitkan dengan kata pitulungan, yang berarti pertolongan.
Karena itu, tujuh bahan dalam lodeh tidak hanya dipilih berdasarkan rasa, tetapi juga memiliki makna simbolis yang menjadi bagian dari doa masyarakat
Dilansir dari berbagai sumber, Rabu (9/9/2026) kuliner Nusantara terutama hidangan Jawa selalu kaya akan simbolisme.
Hal tersebut tak terlepas dari sejarah bagaimana sajian tersebut dibuat. Seperti menu sayur lodeh yang memiliki cerita cukup kompleks bagaimana hidangan ini eksis hingga saat ini.
Kisah sayur lodeh ini berawal ketika suatu hari pada 1931 wabah menyerang Yogyakarta, Sultan pun memerintahkan warga untuk memasak sayur lodeh, dan berdiam diri di rumah selama 49 hari.
Lalu wabah berakhir. Titah Sultan untuk memasak sayur lodeh saat itu adalah tentang solidaritas sosial. Seluruh kota, memasak makanan yang sama di saat bersamaan, menciptakan rasa kebersamaan yang kuat.
Sayur Lodeh Bantu Lewati Masa Sulit
Konon, pada masa itu sayur lodeh membantu melewati masa-masa sulit selama letusan dahsyat Gunung Merapi pada 1006.
Sejarawan kuliner seperti Fadly Rahman memperkirakan, tradisi memasak lodeh juga sudah dilakukan pada abad ke-16, setelah bangsa Spanyol dan Portugis memperkenalkan kacang panjang ke Jawa.
Beberapa sejarawan lain yakin bahwa kuliner kuno ini mulai muncul kembali pada abad-19 ke abad 20. Yogyakarta saat itu menjadi jantung Kebangkitan Nasional Indonesia, periode di mana banyak mitos daerah ditemukan dan dirayakan.
Namun legenda sayur lodeh memang diperkuat pada awal abad ke-20. Contoh paling terkenal adalah pada 1931, pada masa pemerintahan Sultan Hamengku Buwono VIII, ketika Jawa telah dilingkungi wabah pes selama lebih dari dua dekade.
Namun catatan sejarah juga menunjukkan bahwa sayur lodeh telah dimasak untuk menanggapi krisis pada 1876, 1892, 1946, 1948, dan 1951.
Lambat laun sayur lodeh menjadi kian populer di seluruh Nusantara dan juga negara lain. Maka semakin sulit pula menemukan alasan mengapa dan bagaimana hidangan ini berevolusi.
Transformasi sayur lodeh menyebar melalui tambal-sulam budaya Nusantara dan saling menjadi satu dengan makanan, kebudayaan sosial, dan lingkungan.
Lahan pertanian subur di sekeliling Yogyakarta memang memasok sayuran yang memungkinkan penduduknya bertahan menghadapi wabah dan erupsi gunung berapi.
Di luar Yogyakarta, sayur lodeh mungkin telah kehilangan makna aslinya, namun hidangan ini masih dikenali sebagai makanan yang bersahaja. ***
