Ancaman Bencana Meningkat Kesiapsiagaan Pemerintah dan Warga Diuji, Simak Paparan Prof. Agung Harijoko

5 Min Read
Volcanic eruption at night with lava spewing from the crater and dark smoke rising, a small boat on calm water in the foreground.
Erupsi gunung api Anak Krakatau. (Foto: Istimewa)

Mabur.co – Tingkat kerentanan terhadap ancaman bencana di tanah air saat ini semakin meningkat. Mulai dari gempa bumi, kebakaran hutan dan lahan (karhutla), hingga ancaman erupsi gunung api.

Di tengah tingginya intensitas bencana, kecekatan pemerintah dalam merespons situasi tersebut pun mulai dipertanyakan publik.

Hal ini tidak terlepas dari beredarnya berbagai informasi mengenai pemangkasan anggaran, keterlambatan penanganan, hingga persoalan koordinasi dalam merespons bencana.

Pemerintah diminta untuk mengkaji dan mempertimbangkan ulang segala kesiapan dan kebijakan yang berkaitan dengan upaya mitigasi penanganan dan penanggulangan bencana.  

Fenomena Alam Proses Geologi

Pakar Vulkanologi Fakultas Geografi, Universitas Gadjah Mada (UGM), Prof. Agung Harijoko, menjelaskan, erupsi gunung api merupakan fenomena alam yang terjadi akibat proses geologi, bukan karena campur tangan teknologi atau teori konspirasi.

“Proses erupsi gunung api itu adalah proses geologi, jadi artinya adalah proses alam di mana dapur magma itu membangun tekanan, dan tekanannya kemudian menjadi cukup tinggi sehingga kemudian bisa menerobos keluar,” ucapnya, Kamis (10/9/2026).

Man wearing a yellow cap and plaid shirt, smiling outdoors with a lake and green hills in the background
Pakar Vulkanologi Fakultas Geografi, Universitas Gadjah Mada (UGM), Prof. Agung Harijoko. Foto: Dok Pribadi

Agung mengatakan, hingga saat ini belum ada bukti ilmiah yang menunjukkan bahwa teknologi tertentu dapat memicu erupsi gunung api.

“Aktivitas vulkanik terjadi karena tekanan magma yang terus meningkat di dalam bumi hingga akhirnya keluar melalui jalur erupsi. Proses tersebut merupakan bagian dari mekanisme alami sistem kebumian,” ucapnya.

Agung mengatakan pula, enam gunung api aktif yang erupsi secara bersamaan belakangan ini termasuk anak krakatau merupakan salah satu dari 127 gunung api aktif yang dikelompokkan ke dalam tiga tipe, yakni tipe A, B, dan C.

Tipe Gunung Api

Gunung api tipe A merupakan gunung api yang tercatat pernah mengalami erupsi sejak 1600, sedangkan tipe B merupakan gunung api yang tidak diketahui memiliki riwayat erupsi sejak 1600, tetapi masih tergolong aktif. 

Adapun tipe C merupakan gunung api yang tidak menunjukkan aktivitas erupsi, tetapi masih memiliki indikasi aktivitas vulkanik.

Pemerintah saat ini lebih memfokuskan monitoring terhadap gunung api tipe A.

Agung menjelaskan, pemantauan tersebut menjadi tugas pokok dan fungsi Badan Geologi melalui Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG).

Meski demikian, gunung api lainnya tetap mendapatkan pemantauan, meskipun tidak dilakukan secara terus-menerus seperti pada gunung api tipe A.

“Di Indonesia saat ini monitoring gunung api itu lebih difokuskan kepada gunung api tipe A. Dan ini tugas pokok dan fungsinya adalah di PVMBG,” ucapnya.

Sejauh ini, menurut Agung, Indonesia memang berada di kawasan Cincin Api Pasifik (Ring of Fire) yang memiliki banyak gunung api aktif sehingga aktivitas vulkanik di beberapa lokasi dalam periode yang berdekatan bukanlah fenomena yang luar biasa.

Sistem peringatan dini (early warning system) untuk gunung api pada dasarnya bertumpu pada pengamatan dan monitoring secara berkelanjutan.

Di sisi lain, keterbukaan informasi mengenai aktivitas gunung api juga terus dikembangkan melalui kanal resmi PVMBG, termasuk media sosial.

Akses terhadap informasi resmi menjadi penting mengingat masyarakat masih rentan menerima dan menyebarkan informasi yang tidak benar mengenai aktivitas gunung api. 

“Masyarakat perlu untuk memastikan informasi mengenai aktivitas gunung api melalui kanal resmi PVMBG sebagai lembaga yang melakukan pengamatan dan monitoring aktivitas gunung api secara real time sehingga informasi yang disampaikan dapat menjadi rujukan,” ujarnya.

Oleh sebab itu, bencana erupsi gunung api juga menjadi salah satu ancaman yang perlu dipahami masyarakat.

Menurutnya, erupsi beberapa gunung api secara bersamaan secara ilmiah sangat mungkin terjadi. Namun, hal tersebut tidak berarti erupsi satu gunung menyebabkan gunung lainnya ikut erupsi karena setiap gunung api memiliki sistem magma masing-masing.

“Bisa. Sangat bisa, karena mereka punya sistem sendiri-sendiri,” jelasnya.

Beberapa gunung api yang lokasinya berdekatan dapat memiliki keterkaitan karakteristik magma. Namun, gunung api yang berjauhan memiliki sistem magma yang berbeda. Erupsi sendiri terjadi ketika tekanan di dalam dapur magma meningkat, salah satunya akibat masuknya suplai magma baru.

“Ketika tekanan tersebut melebihi tekanan batuan penutup, magma dapat terdorong keluar dan memicu erupsi,” jelasnya.

Share This Article
Teruslah Berbuat baik kepada siapapun karena hal baik itu, akan kembali padamu dengan berbagai cara
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Tidak ada komentar