Mabur.co – Selain terkenal dengan lumpia, Semarang ternyata memiliki beragam kuliner tradisional unik yang jarang ditemukan di tempat lainnya.
Meski namanya terdengar aneh, namun jajanan tradisional ini sudah lama menjadi bagian dari kehidupan warga Kelurahan Kudu, Kecamatan Genuk, Kota Semarang.
Dalam bahasa Jawa, ndas berarti kepala sedangkan maling berarti pencuri. Sehingga dapat diartikan ndas maling berarti kepalanya pencuri.
Bersumber dari Cerita Rakyat
Konon penamaan kuliner tradisional ini tak lepas dari cerita rakyat yang berkembang di Dukuh Menanging.
Dilansir berbagai sumber, Jumat (11/9/2026), disebutkan kawasan tersebut pada masa lalu dipercaya merupakan tempat persembunyian pencuri sebelum menjalankan aksinya.
Warga kemudian membuat jajanan yang disebut ndas maling sebagai bagian dari simbol dan doa agar lingkungan mereka dijauhkan dari tindak kejahatan.
Karena itu, ndas maling tidak hanya dipandang sebagai makanan, tetapi juga bagian dari tradisi masyarakat Kudu. Resepnya bahkan diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Hingga kini jajanan ndas maling masih kerap disajikan dalam berbagai kegiatan budaya, termasuk Sedekah Bumi hingga haul atau peringatan hari lahir sejumlah tokoh penting.
Terlepas dari namanya yang unik, ndas maling terbuat dari bahan sederhana yang banyak ditemukan di Indonesia. Yakni tepung beras, kelapa parut, gula aren, dan sedikit garam.
Adonan tersebut dicampur hingga merata, kemudian dibentuk dan dikukus selama sekitar 20–30 menit. Hasilnya adonan bertekstur agak kasar tetapi kenyal, dengan rasa manis dari gula aren yang berpadu dengan gurihnya kelapa.
Keunikan nama, cita rasa maupun sejarah yang dimiliki itulah yang membuat ndas maling menjadi salah satu kuliner khas Semarang khususnya Kelurahan Kudu.
Keberadaan ndas maling kini bahkan telah mendapat perhatian dari Pemerintah Kota Semarang.
Diusulkan Jadi WBTb
Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng, bahkan mendorong agar ndas maling diusulkan sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTb).
Selain pengusulan WBTb, ndas maling juga akan dikurasi Dewan Kerajinan Nasional (Dekranas) untuk memperbaiki kemasan dan pemasaran tanpa menghilangkan rasa serta karakter tradisionalnya.
Tak hanya itu, melihat potensi yang dimilikinya Pemerintah Kota Semarang juga berencana menjadikan ndas maling sebagai oleh-oleh khas Kota Lumpia.
Jika dikembangkan dengan baik, jajanan sederhana dari Kudu ini bukan hanya bisa menjadi ikon kuliner Genuk, tetapi juga membuka peluang ekonomi bagi masyarakat di sekitarnya.
