Setelah Bandung Kini Giliran Warga Malang Digegerkan Dentuman Misterius, Ini Penjelasan BMKG 

3 Min Read
Erupsi gunung Semeru, Jawa Timur. (Foto: Badan Geologi Kemen-ESDM )

Mabur.co — Suara dentuman keras misterius kembali terjadi di Indonesia. Setelah sebelumnya terjadi di Bandung, kini giliran warga Malang, Jawa Timur yang merasakannya. 

Suara dentuman keras itu dilaporkan terjadi pada Selasa (8/9/2026) sekitar pukul 22.00 malam. Bunyi tersebut terdengar di sejumlah wilayah baik Kota Malang maupun Kabupaten Malang hingga membuat heboh masyarakat termasuk di media sosial.

Tak sedikit warganet mengaku mendengar suara keras itu lebih dari satu kali di waktu yang hampir bersamaan. Di antaranya di wilayah Blimbing, Bumiayu, Canger Ayam, Lowokwaru, hingga Lawang dan Bululawang.

Merespons munculnya suara dentuman misterius itu, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) pun langsung melakukan pemantauan untuk menelusuri sumber asalnya.

Kepala Stasiun Geofisika BMKG Malang, Ricko Kardoso, mengatakan hasil pemantauan menunjukkan suara dentuman bukan berasal dari faktor aktivitas gempa tektonik maupun sambaran petir.

“Hasil pemantauan BMKG Stasiun Geofisika Malang pada aktivitas gempa bumi tektonik dan sambaran petir sekitar pukul 22.00 WIB, tidak terdeteksi aktivitas gempa bumi tektonik serta sambaran petir di wilayah Malang dan sekitarnya pada waktu tersebut, yang berpotensi menimbulkan suara dentuman,” ujar Ricko dilansir Detik.

Dentuman Berasal dari Dinamika Vulkanik Gunung Semeru

Namun begitu BMKG menyebut faktor yang paling memungkinkan menjadi penyebab sumber suara dentuman itu berasal dari dinamika aktivitas vulkanik Gunung Semeru.

Kesimpulan itu muncul setelah BMKG melakukan pengecekan data seismik dan kondisi atmosfer, terkait aktivitas vulkanik Gunung Semeru.

Meski berada di wilayah Kabupaten Lumajang, aktivitas vulkanik Gunung Semeru diduga dapat menghasilkan suara yang terdengar hingga wilayah Malang.

“Aktivitas letusan Gunung Api Semeru dalam beberapa minggu terakhir terkadang disertai suara dentuman maupun gemuruh dengan intensitas lemah, sedang, hingga kuat, yang berkaitan dengan peningkatan tekanan gas vulkanik,” ungkap Ricko.

Hingga saat ini aktivitas vulkanik Gunung Semeru sendiri tercatat masih cukup tinggi. Data Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) mencatat Gunung Semeru mengalami 11 kali erupsi sejak seminggu terakhir.

Erupsi terakhir terjadi pada Kamis (10/09/2026) pukul 07.56 WIB dan terekam pada seismograf dengan amplitudo maksimum 22 milimeter selama 110 detik. Status Gunung Semeru saat ini juga masih berada pada Level III atau Siaga.

Selain itu aktivitas kegempaan Gunung Semeru juga terpantau masih cukup tinggi. Berdasarkan pengamatan pada Kamis pukul 00.00-06.00 WIB, gunung Semeru tercatat mengalami 29 kali gempa letusan atau erupsi.

Sedangkan sehari sebelumnya, PVMBG juga mencatat ada sebanyak 29 kali gempa letusan disertai empat gempa guguran dan empat gempa harmonik pada Rabu (9/9/2026). 

Share This Article
Avatar photo
Jurnalis lahir dan tinggal di Jogja
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Tidak ada komentar