Ada catatan etnografi saya yang tercecer saat mengunjungi Kedaton Kesultanan Tidore dan Benteng Tahula. Ada beberapa poin yang mutlak saya kabarkan dan masih hidup dialektis dalam kehidupan Kesultanan Tidore.
Baca Juga: https://mabur.co/kolom/kunjungi-kedaton-tidore-gunung-gamalama-jadi-saksi-pelayaran-bagian-1/
Sebagaimana angin dari Teluk Tidore terasa asin begitu saya tiba di pelataran Kedaton Kesultanan Tidore. Bangunannya tidak megah seperti istana King of The King di Eropa, atau di Thailand dan Pulau Jawa pada umumnya.
Namun wibawanya ada pada cara orang-orang di dalamnya berbicara, pelan dan tertib. Di ruang singgasana, bendera kuning-hijau masih dikibarkan, dan cap kerajaan diletakkan di atas meja kayu tua.
Sejarah Masih Hidup
Bagi mereka, ini bukan museum. Ini rumah yang masih hidup. Bukan hanya soal bangunan, tapi soal bagaimana sejarah masih “hidup” dan dirawat oleh orang-orang yang ada di dalamnya.
Tidore harus dibedakan dari Ternate. Ini adalah narasi yang sering diulang para Bobato: para pemikir dan penjaga adat Kesultanan Tidore.
Mereka sering mengulang, Tidore adalah “penjaga pintu timur rempah”. Posisi ini penting karena dulu cengkeh Tidore diperebutkan Portugis, Spanyol, dan Belanda.
Sejarawan lokal sering mengingatkan bahwa benteng-benteng di sekitar Tidore, dibangun bukan untuk hiasan, tapi untuk mengontrol jalur perdagangan.
Benteng-benteng di sekitarnya memang dibangun untuk mengawasi jalur cengkeh. Salah satunya Benteng Tahula yang saya datangi sore itu.
100 Anak Tangga ke Benteng Tahula
Untuk sampai ke Benteng Tahula harus menaiki sekitar 100 anak tangga. Dari atas terlihat laut biru, Pulau Halmahera, dan Kota Tidore.
Benteng peninggalan Spanyol abad 16 ini dulu berfungsi sebagai benteng pertahanan hingga 1662. Tetapi sayang, kini kondisinya agak memprihatinkan.
Liputan ANTARA 6 Agustus 2025 mencatat: “Benteng… kondisinya kurang terurus dan jarang dikunjungi wisatawan”.
Namun dari penelusuran saya yang lain, Blog UI An Nur juga menuliskan: “Meskipun tidak lagi dalam kondisi utuh, Benteng Tahula tetap jadi destinasi wisata sejarah”.
Di sekitar benteng ada taman kecil dan gazebo untuk bersantai, tapi perawatan minim. Bebatuan besar sudah banyak lepas dan diselimuti perdu.
Warga sekitar masih memanfaatkan area ini untuk berdoa tolak bala tiap musim paceklik. Laut dan cengkeh masih jadi dua hal yang mengikat hidup mereka.

Lalu ada tiga hal urgen yang penting untuk dicatat: Pertama, Kedaton masih aktif menjaga adat istiadat di tengah arus wisata lokal dan dunia.
Kedua, kerusakan fisik Benteng Tahula yang butuh perhatian serius.
Ketiga, pengetahuan lokal tentang rempah dan laut yang mulai ditinggalkan milenial dan Gen Z, jika tidak segera didokumentasikan dengan baik, Tahula hanya akan jadi “spot foto”, bukan saksi sejarah hegemoni rempah dunia.
Saya tak ingin hanya bercerita tentang keindahan di balik Kedaton Tidore dan Benteng Tahula, lalu perlahan hanya akan mati sebagai spot foto wisatawan domestik dan manca negara.
Tetapi di sini pemandu dan sejumlah warga masih terus bertanya: “Siapa yang akan menjaga Kedaton dan Benteng ini saat kami sudah tua nanti?” ***
