Krakatau meletus. Bukan sekadar gunung pecah, tapi dunia yang bergeser. Dari kacamata antropologis, letusan itu bukan hanya peristiwa geologi.
Ia adalah titik temu antara manusia, alam, dan kuasa. Bagi masyarakat pesisir Banten dan Lampung, Krakatau sudah lama jadi penanda.

Nenek moyang menyebutnya “gunung berapi”. Bukan nama, tapi relasi. Laut, angin, dan gunung itu satu jaringan kehidupan. Ketika ia marah, manusia tidak bertanya “mengapa”, tapi “apa yang kami lakukan yang dianggap salah”.
Tekanan Udara Berputar Mengelilingi Bumi
Para pakar saat itu mencatat dengan teliti. Dari Batavia, ahli vulkanologi Belanda mengukur tekanan udara yang berputar tujuh kali mengelilingi bumi.
Debu sampai ke Eropa. Mereka melihat Krakatau sebagai laboratorium. Ada data, grafik, dan teori.
Baca Juga: https://mabur.co/kolom/ketika-anak-krakatau-bicara-atas-nama-semesta/
Julius P.K. Van Der Stok, Kepala Observatorium Batavia mencatat, dimuat di Natuurkundig Tijdschrift voor Nederlandsch-Indië 1884, bahwa terjadi perubahan barometer di seluruh dunia akibat gelombang udara letusan Krakatau.
Bagi sains, letusan adalah hukum alam yang bisa dijelaskan. Tsunami 30 meter, suara yang terdengar sampai Australia, iklim dunia yang mendingin setahun.
Semua masuk dalam catatan para saintis Eropa. Pemerintah kolonial bergerak dengan logika birokrasi. Telegram dikirim, bantuan didata, wilayah dievakuasi.
Tapi evakuasi juga berarti pendataan, pajak, dan kontrol. Bencana menjadi momen pemerintah hadir. Korban diberi beras, tapi juga dicatat gerak-gerik dan asal-usulnya lalu diadministrasi. Sementara rakyat biasa mengingatnya lewat cerita.
Seorang ibu di Anyer dan Karta, Kepala Desa di Caringin, Banten, menyampaikan kesaksiannya: “Laut surut jauh, lalu datang setinggi pohon kelapa. Kampung kami hilang dalam semalam”.
Mereka juga bercerita, tentang laut yang seolah mundur ke tengah, lalu datang seperti dinding yang tinggi.
Doa, sesajen, dan tahlil digelar. Bukan untuk melawan gunung, tapi untuk berdamai dengannya. Trauma diwariskan bukan lewat buku, tapi lewat larangan melaut saat awan hitam dan lewat nama-nama kampung yang hilang.
Korban Pulau Sebesi 36.000 Jiwa
Begitulah Simon Winchester mencatat dalam Krakatoa: The Day the World Exploded 2003 buku populer yang merangkum arsip Belanda plus cerita lisan masyarakat pesisir. Di buku ini banyak mengisahkan tentang nelayan Anyer dan korban Pulau Sebesi yang jumlahnya ±36.000 jiwa.
Letusan Krakatau mengingatkan kita, manusia kecil di hadapan alam. Pakar mencari sebab. Pemerintah mencari tertib.
Rakyat mencari cara hidup lagi. Hari ini Anak Krakatau tumbuh dan muntah lagi. Kita memantaunya dengan seismograf.
Tapi pertanyaan yang sama tetap ada: saat bumi bergemuruh, kita harus melakukan apa? Bukankah anak Krakatau sedang bicara kepada kita hari ini? Dengarkanlah dan catatlah, agar menjadi pengetahuan. (Bersambung)
