Mabur.co – Seorang pemuda desa asal Wonosobo, Jawa Tengah, sukses menjadi peternak kambing beromzet miliaran di usia 35 tahun.
Siapa sangka, semua itu bermula hanya dari modal sepasang kambing seharga Rp5 juta.
Tanpa Pinjaman Bank
Tanpa basis ilmu di dunia peternakan dan tanpa satu rupiah pun memanfaatkan pinjaman dari bank.
Inilah kisah Mutamakin, pemilik Mbaturan Farm, salah satu peternakan kambing Kaligesing terbesar di Indonesia yang telah banyak mencetak kambing juara di berbagai ajang kontes tingkat nasional.
Ditemui di sela ajang Kontes Kambing Kaligesing Tingkat Nasional Piala Raja #1 di Kulon Progo, Minggu (13/9/2026), Makin sapaan akrabnya, menceritakan awal mula perkenalannya dengan dunia peternakan.
Makin yang kini menetap di Dusun Kalilo, Desa Tlogoguwo, Kaligesing, Purworejo, ini mengaku mulai mengenal dan memelihara kambing Kaligesing sejak tahun 2012 silam.
Saat itu ia masih berusia sekitar 22 tahun. Ia nekat membeli dua ekor kambing Kaligesing berusia sekitar 3 bulan seharga Rp5 juta.
Saat itu Makin yang merupakan sarjana teknik, memang tak paham sama sekali tentang kambing Kaligesing. Ia hanya merasa tertarik karena ternak tersebut berbeda dengan kambing yang biasa dipelihara keluarganya.
Baca Juga: https://mabur.co/usaha/tak-hanya-harga-yang-mahal-perawatan-kambing-kaligesing-juga-mahal/
“Orang tua kan pelihara kambing Jawa biasa. Tapi saya pengen yang beda dari orang tua,” ujarnya.
Hal lain yang juga membuatnya semakin tertarik pada kambing Kaligesing adalah harganya yang tidak dihitung berdasarkan bobot per kilogram. Melainkan kualitas kambing itu sendiri. Semakin bagus seekor kambing maka akan semakin mahal harganya.
“Kalau Jawa atau domba kan harganya per kilo. Nah, kalau Kaligesing itu ketika memang barangnya bagus sudah nggak ada standardisasi harga. Itu yang bikin saya lebih senang,” katanya.

Dari memelihara dua ekor kambing itu, Mutamakin mulai belajar seluk-beluk soal kambing Kaligesing. Ia pun kerap datang ke sejumlah peternak yang lebih senior untuk berguru dan memahami berbagai hal terkait budidaya kambing Kaligesing.
“Karena saat itu kan belum populer YouTube,” ungkapnya.
Setelah anakan kambing Kaligesing yang ia pelihara mulai berusia 8-9 bulan, ternyata sudah ada peternak lain yang menawarnya di kisaran harga sekitar Rp7,5 juta. Dari sana Mutamakin pun melihat ada peluang ekonomi yang menarik.
Mengenal Kontes Kambing
Setelah jumlah ternak yang dipeliharanya bertambah, Mutamakin pun mencoba untuk mengembangkan kualitas kambing yang dimilikinya. Hal inilah yang kemudian membawanya ke dunia kontes.
Lewat ajang kontes ini, Mutamakin ingin membuktikan apakah ilmu dan penilaiannya terhadap seekor kambing yang diperolehnya selama ini benar-benar bisa menghasilkan kambing berkualitas.
Mutamakin mengaku suatu hari ia pernah membeli seekor cempe yang baru berusia lima hari dengan harga sekitar Rp2,5 juta. Karena mahal, harga tersebut bahkan tidak langsung ia ceritakan kepada keluarganya.
“Saya juga nggak berani jujur sama orang rumah. Ditanya kok ada cempe baru, harga berapa Rp500.000,” katanya sambil tertawa.
Setelah sekitar tiga bulan dirawat, kambing itu pun kemudian ia bawa untuk mengikuti kontes. Hasilnya cukup mengejutkan. Ia berhasil masuk peringkat ketujuh di tingkat lokal dan 10 besar di tingkat nasional.
Meski tak mendapat hadiah berupa uang, pengalaman itu justru membuatnya semakin penasaran. Terlebih harga kambingnya langsung meroket berkali-kali lipat dari sebelumnya. Mutamakin pun semakin rutin mengikuti kontes demi kontes di berbagai daerah.
Kini melalui peternakan miliknya, Mutamakin telah menjadi seorang pencetak calon kambing kontes yang diakui kualitasnya. Sejumlah kambing hasil ternaknya bahkan telah berkali-kali memenangi berbagai ajang kontes nasional. Seperti Erdogam, Joker, Larasari, dan sebagainya.
“Untuk kambing yang sudah beberapa kali juara saya pernah jual paling mahal itu sekitar Rp300 juta,” katanya.

Selain fokus breeding dan mencetak kambing kontes, Mutamakin kini juga mengembangkan usahanya ke berbagai lini. Mulai dadi penjualan daging, susu, produksi pakan dan vitamin, hingga pengolahan kotoran menjadi pupuk, dan sebagainya.
Kini di kandangnya, Mutamakin memiliki total 150-an ekor kambing Kaligesing dengan sekitar 70 ekor di antaranya merupakan indukan. Setiap enam bulan sekali, ia mengaku rutin bisa menghasilkan sekitar 40 cempe.
Sedangkan untuk penjualan setiap bulannya minimal ia bisa menjual sekitar 20 ekor kambing siap kawin atau pun siapan jantan dengan rata-rata di kisaran harga Rp5 juta hingga Rp10 juta per ekor.
Beberapa Kali Rugi
Meski mendapatkan banyak keuntungan, ia mengakui beternak kambing bukan pekerjaan tanpa risiko. Ia bahkan pernah beberapa kali merugi lantaran kambing yang telah ditawar orang hingga sebesar Rp125 juta tiba-tiba mati.
“Itu sudah risiko. Karena bagaimana pun hewan punya nyawa. Yang penting kita harus terus belajar agar hal semacam itu tidak terulang lagi,” katanya.
Selain menjadi jalan mendatangkan rezeki, dunia kambing Kaligesing juga membawa Mutamakin berkenalan dengan banyak saudara baru dari berbagai daerah. Ia mengatakan hampir setiap kota memiliki teman sesama peternak.
Hubungan tersebut tidak hanya soal jual beli kambing, tetapi juga menjadi jaringan sosial yang kuat. Dari jaringan itu pula ia mengaku bisa mendapatkan mitra bisnis untuk mengembangkan usahanya.
Mutamakin kini bahkan didapuk sebagai Bendahara Umum Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Perkumpulan Peternak Kambing Kaligesing Nasional (PERKKANAS).
Tak hanya itu dari dunia kambinglah Mutamakin juga bisa mengenal seorang wanita yang kini menjadi istri sekaligus ibu dari anak-anaknya. Uniknya istrinya itu juga berasal dari keluarga peternak asal Kaligesing Purworejo.
Dari awalnya hanya membeli dua ekor kambing seharga Rp5 juta, tanpa kemampuan ilmu di dunia peternakan, Mutamakin membuktikan bahwa dengan ketekunan dan kemauan untuk terus belajar siapa pun bisa menjadi peternak sukses. ***
