Luas Wilayah 0,63 Kilometer Persegi, Kemantren Pakualaman Kecamatan Terkecil di Indonesia

4 Min Read
Front entrance of the Kecamatan Pakualaman government building, with green and yellow decorative columns and a sign above the doorway nose.
Kemantren atau Kecamatan Pakualaman di Kota Yogyakarta. (Foto: Istimewa)

Mabur.co – Kota Yogyakarta punya 14 kecamatan atau kemantren yang punya keunikannya masing-masing. Misalnya, kemantren terluas adalah Kemantren Umbulharjo, sedangkan kemantren terkecil adalah Kemantren Pakualaman.

Kemantren Pakualaman di Kota Yogyakarta adalah kecamatan atau kapanewon terkecil di Indonesia. Kecamatan atau kapanewon ini memiliki luas wilayah tercatat hanya sekitar 0,63 kilometer persegi.

Wilayah Mungil Namun Kaya Sejarah dan Budaya

Ukuran ini hanya mencakup sekitar 1,9 persen dari total luas keseluruhan Kota Yogyakarta. Keberadaan Pakualaman berpusat di seputar kompleks istana Puro Pakualaman. Hal ini menjadikan wilayah mungil ini kaya dengan sejarah dan budaya khas Yogyakarta.

Kemantren Pakualaman membawahi dua kalurahan utama, yaitu Kalurahan Purwokinanti dan Kalurahan Gunungketur.

Kalurahan Purwokinanti dengan kode pos 55112 mencakup kampung Kepatihan, Jagalan Beji, Purwokinanti, dan Jagalan Ledoksari.

Sementara Kalurahan Gunungketur berkode pos 55111 membawahi kampung Margoyasan, Gunungketur, dan Kauman.

Secara keseluruhan, wilayah ini terbagi menjadi 7 kampung, 19 RW, dan 83 RT. Dengan struktur wilayah yang padat dan efisien, tata kelola pemerintahan di Pakualaman terus melayani masyarakat secara optimal.

Melansir dari situs resmi Kemantren Pakualaman, Selasa (15/9/2026), nama Pakualaman berasal dari keberadaan Puro Pakualaman, istana keluarga Paku Alam yang menjadi pusat pemerintahan Kadipaten Pakualaman.

Pada era kolonial Belanda, Kadipaten Pakualaman merupakan salah satu dari empat kerajaan swapraja di Jawa. Tiga lainnya adalah Kasunanan Surakarta, Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat, dan Kadipaten Praja Mangkunegaran.

Puro Pakualaman dibangun di atas lahan seluas 54.238 m² oleh Pangeran Natakusuma atau KGPA Paku Alam I. Ia lahir di Keraton Yogyakarta pada 21 Maret 1764 dari pasangan Sri Sultan Hamengku Buwana I dan Raden Ayu Srenggoro. Nama kecilnya adalah Bendara Raden Mas Harya Sujadi.

Secara de jure, Pangeran Natakusuma menjadi pangeran merdeka sejak 29 Juni 1812. Namun, tanggal 17 Maret 1813 dijadikan peringatan lahirnya Kadipaten Pakualaman setelah disepakatinya kontrak politik dengan pemerintah Inggris. Sebelum bertakhta, ia tinggal di sebelah timur Kali Code, yaitu Kampung Natakusuman yang berbenteng pagar keliling.

Pola Dasar Tata Ruang Jawa Klasik

Kompleks Puro Pakualaman dibangun dengan pola dasar tata ruang Jawa klasik yang terdiri dari istana, alun-alun, masjid, dan pasar. Saat ini, istana tersebut masih didiami oleh keturunan Paku Alam I, yakni Sri Paduka Paku Alam X bersama keluarganya. Tradisi serta toponimi kampung di Pakualaman pun memiliki kemiripan dengan Mangkunegaran di Surakarta.

Dulu, wilayah Kadipaten Pakualaman tidak hanya mencakup sekitar istana, tetapi juga daerah Adikarto di Kulon Progo. Selain itu, wilayahnya meliputi Karang Kemuning yang membawahi empat distrik, yaitu Galur, Tawangharjo, Tawangsongko, dan Tawangkerto dengan pusat di Brosot.

Pakualaman sempat menjadi bagian dari Kabupaten Kota Pakualaman sebelum akhirnya dihapus pasca-pembentukan Pemerintah Kota Yogyakarta pada 1947.

Setelah itu, wilayah ini resmi menjadi salah satu kecamatan di lingkungan Pemerintah Kota Yogyakarta. Pada tahun 2020, nomenklatur kelembagaan disesuaikan berdasarkan Peraturan Gubernur DIY Nomor 25 Tahun 2019 dan Perda Kota Yogyakarta Nomor 4 Tahun 2020.

Istilah kecamatan di Kota Yogyakarta diubah menjadi kemantren, dan posisi camat berganti nama menjadi Mantri Pamong Praja.

Mantri Pamong Praja menjalankan kewenangan pelimpahan dari Wali Kota di berbagai sektor pelayanan publik.

Urusan tersebut meliputi bidang pemerintahan, pendidikan, kesehatan, pekerjaan umum, ketenteraman masyarakat, hingga kependudukan.

Istilah “kemantren” hanya dipakai di wilayah Kota Yogyakarta saja. Penyebutan ini dilakukan sebagai upaya untuk melestarikan sistem pemerintahan Kesultanan Yogyakarta dan Kadipaten Pakualaman.

Share This Article
Teruslah Berbuat baik kepada siapapun karena hal baik itu, akan kembali padamu dengan berbagai cara
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Tidak ada komentar