Uniknya Pola Jalan di Kotabaru, Tegak Lurus Serupa Jaring Laba-laba

3 Min Read
Person holding an open map/brochure over a dark street with trees, power lines, and a few cars in the background
Kotabaru bisa menjadi persinggahan atau pun hanya sekadar bernilai perlawatan bagi masyarakat sekitar Yogyakarta. (Foto: Setiaky A Kusuma)

Mabur.co – Kotabaru memang sering menjadi area persinggahan atau pun hanya sekadar untuk perlawatan bagi masyarakat sekitar Yogyakarta atau bahkan dari luar kota.

Kawasan ini kalau secara kasat mata seperti jalanan pada umumnya yang berhias lampu jalan dan pepohonan, namun yang membuatnya lebih istimewa adalah sejarahnya.

Baca Juga: https://mabur.co/arsitektur/kotabaru-indahnya-konsep-kota-hijau-berpola-radial/

Kotabaru adalah sebuah kalurahan yang terletak di Kemantren Gondokusuman, Yogyakarta. Kalurahan ini berawal dari kota taman di masa kolonial yang dibangun pada masa Sultan Hamengku Buwono VII untuk permukiman orang Belanda.

Semua bermula saat Kesultanan Yogyakarta berdiri. Awalnya Yogyakarta jadi satu dengan Surakarta. Kerajaan Mataram Islam kemudian pecah menjadi dua karena konflik internal di dalam istana.

Dua saudara dari satu ayah, beda ibu, yaitu Raja Mataram Islam terakhir Paku Buwono II dan adiknya Pangeran Mangkubumi berseteru. Karena Paku Buwono II terlalu dekat dengan VOC waktu itu.

Sebagaimana diketahui, VOC memang ingin menjadikan Mataram sebagai wilayah kekuasaannya dengan menciptakan berbagai intrik.

Sistem Radial Konsentris

Erwin dari Jogja Walking Tour, menuturkan, Kotabaru tumbuh menjadi satu kawasan dengan sistem radial konsentris, ada satu titik pusat dan jalan menyebar seperti jaring laba-laba. 

“Kotabaru tidak seperti jalanan Yogyakarta pada umumnya yang masih menganut tata kota tradisional yang berpatokan dengan mata angin (utara-selatan). Terlihat dari pembuatan jalan yang masih beririsan dan tegak lurus. Kotabaru adalah pelopor desain tata kota radial konsentris, yang kemudian diikuti oleh kawasan lainnya seperti Jetis,” ucapnya, Jumat (18/9/2026).

Spiral-bound city map held up by a hand outdoors, showing streets and a river with a clear blue sky behind.
Peta lama kawasan kotabaru, konsepnya seperti jaring laba-laba. (Foto: Setiaky A Kusuma)

Erwin menuturkan pula, saat berada di Jalan Kotabaru modelnya meliuk-liuk. Kalau dilihat dalam peta lama, konsepnya benar-benar mirip jaring laba-laba yang indah.

Jalan utama tersebut kemudian dihubungkan dengan jalan-jalan kecil seperti di bawah ini.

“Dulu, nama jalannya menggunakan nama-nama gunung dan nama-nama sungai seperti Boulevard Jonquire (Jalan Abu Bakar Ali), Tjode weg (Jalan Ahmad Djazuli) Sultan Boulevard (Jalan Prau & Faridan M Noto), Praoe laan (tetap), Lawoe laan (tetap), Telomojo laan (Jalan Merbabu).

Kemudian ada Kotabaroe Boulevard (Jalan I Dewa Nyoman Oka), Merapi laan (Jalan Sunaryo), Merbaboe laan (Jalan Pattimura), Oengaran laan (tetap+ Jalan Ramli), Kroonprins laan (Jalan Faridan M Noto), Danoeredjo laan (Jalan Ngadikan), Soembing laan (Jalan Sabirin), Sindoro laan (Jalan Supadi).

Lalu ada Wilis laan (Jalan Sajiono), Sport Laan (Jalan Yos Sudarso), Sport Boulevard (Jalan Yos Sudarso), Mataram Boulevard (Jalan Suroto), Harre weg (Jalan Krasak), Progo weg (Jalan Suhartono), Kedoe weg (Jalan Johar Nurhadi), Opak weg (Jalan Hadi Darsono), Hospitaal weg (Jalan Juadi), Petronella weg (Jalan Trimo), Karangajam (Jln Atmosukarto/Trimo), Oja weg (Jln Umum Kalipan), dan Spoor laan (Jalan Atmosukarto),” ucapnya. ***

Share This Article
Teruslah Berbuat baik kepada siapapun karena hal baik itu, akan kembali padamu dengan berbagai cara
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Tidak ada komentar