Mabur.co- Masyarakat Jawa dikenal penuh perhitungan dalam melakukan segala hal, termasuk dalam menentukan arah rumah tempat tinggal. Rumah-rumah masyarakat Jawa pada zaman dahulu selalu menghadap ke utara atau selatan.
Sampai sekarang, mayoritas rumah orang-orang Jawa juga masih sama, jarang ada rumah yang menghadap ke barat atau timur.
Tradisi Arsitektur Jawa
Dalam tradisi arsitektur Jawa, orientasi bangunan bukanlah hal yang dilakukan secara sembarangan. Salah satu ciri khas yang menyolok adalah rumah-rumah tradisional Jawa yang hampir selalu menghadap ke selatan.
Fenomena ini bukan sekadar soal arah mata angin atau teknis pencahayaan, melainkan berakar dari filosofi dan nilai-nilai budaya yang telah mengakar kuat dalam kehidupan masyarakat Jawa selama berabad-abad.
Arah selatan dalam kepercayaan Jawa memiliki makna simbolik yang dalam. Bukan hanya dianggap sebagai arah kehormatan, tetapi juga sebagai bentuk penghormatan terhadap leluhur dan alam semesta.
Di balik penempatan arah ini, tersimpan pandangan kosmologis dan spiritual yang mencerminkan harmoni antara manusia, lingkungan, dan kekuatan gaib yang dipercaya memengaruhi keseimbangan hidup.
Wakil Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat Real Estate Indonesia (Waketum DPP REI), Bambang Ekajaya, menjelaskan, konsep penataan layout (tata letak) rumah Jawa kurang lebih mirip dengan kepercayaan fengsui dalam kebudayaan Cina.
“Lebih ke tradisi Jawa yang menghormati Ratu Laut (Pantai) Selatan,” ungkapnya, Rabu (2/9/2026).
Pintu Jawa
Bambang menuturkan, pintu Jawa menghadap selatan maupun utara juga masuk akal untuk menghindari sinar matahari langsung dari timur dan barat.
“Sehingga, pintu utama juga lebih awet karena tidak mudah pudar juga finishing (penyelesaian) pintu tersebut dan menghindari muai susut pintu yang umumnya berbahan kayu,” ucapnya.
Bambang mengatakan, masyarakat jawa menyebut rumah dengan istilah omah, yang terdiri atas dua kata: Om dan Mah.
Om berarti bapa angkasa yang memiliki sifat laki-laki, sedangkan mah berarti lemah (tanah) yang melambangkan sifat perempuan.
Dari istilah tersebut, omah merupakan representasi bumi dan langit yang merupakan pasangan yang saling melengkapi. Rumah Jawa juga dikenal dengan istilah ndalem yang berasal dari kata dalem, artinya hakikat diri.
“Maka dalam mengukur dan merancang rumah tidak boleh sekadar menduga-duga atau asal mengukur semata, ada nilai-nilai filosofis yang harus dipahami, dihayati, dan diterapkan pada elemen-elemen desain,” ucapnya.
Bambang mengatakan, dari sudut pandang pengetahuan modern, ternyata arah rumah paling baik, khususnya rumah-rumah di Jawa adalah menghadap utara atau selatan.
Hal itu dikaitkan dengan arah terbit dan tenggelamnya matahari.
“Rumah yang menghadap selatan atau utara akan mendapat pencahayaan yang cukup,” ucapnya.
