Enaknya Jadi Warga Singapura, Dibayar Pemerintah Hanya dengan Membaca Buku 15 Menit Setiap Hari 

3 Min Read
Close-up of hands holding and turning the pages of an open book, bathed in warm natural light
Ilustrasi. Membaca. (Foto: Pixabay)

Mabur.co – Pemerintah Singapura punya cara unik untuk mendorong masyarakat kembali rajin membaca. Warga yang meluangkan waktu membaca bahkan bisa mendapatkan imbalan uang dari pemerintah.

Kampanye Membaca Nasional Lima Tahun

Program tersebut menjadi bagian dari kampanye membaca nasional selama lima tahun yang diluncurkan Singapura pada September 2026.

Dilansir CNN, Minggu (20/9/2026), warga diminta mencatat aktivitas membaca mereka melalui situs CrowdTask SG. Setiap sesi membaca minimal 15 menit akan mendapatkan 20 koin virtual.

Koin tersebut kemudian dapat ditukarkan menjadi uang. Warga harus mengumpulkan 1.000 koin atau melakukan 50 sesi membaca selama 50 hari untuk mendapatkan SG$1 atau sekitar Rp12.000.

Namun, hanya satu sesi membaca yang dapat dicatat setiap hari.

Program ini dirancang untuk membangun kebiasaan membaca di tengah semakin banyaknya waktu yang dihabiskan masyarakat untuk mengonsumsi konten singkat di internet.

Kepala Dewan Perpustakaan Nasional Singapura, Melissa Tam, mengatakan membaca dalam format panjang memiliki manfaat dalam melatih perhatian, pemikiran kritis dan imajinasi.

Menurutnya, program tersebut tidak hanya ditujukan agar masyarakat membaca lebih banyak, tetapi juga membangun kebiasaan membaca dalam kehidupan sehari-hari.

Loh Chin Ee dari Institut Pendidikan Nasional Singapura mengatakan, durasi 15 menit sengaja dibuat cukup singkat agar lebih mudah dilakukan secara rutin.

“Bagi seseorang yang banyak membaca, 15 menit mungkin terasa sangat singkat, tetapi saya pikir itu adalah waktu yang tepat,” kata Loh seperti dikutip CNN.

Ia mengatakan, masyarakat sebenarnya masih banyak membaca, terutama melalui layar. Namun, kebiasaan membaca secara mendalam dan meluangkan waktu khusus untuk sebuah bacaan dinilai semakin jarang.

Program tersebut muncul di tengah kekhawatiran terhadap semakin pendeknya rentang perhatian dan menurunnya kebiasaan membaca.

Istilah “doomscrolling” juga banyak digunakan untuk menggambarkan kebiasaan terus-menerus menggulir konten digital, terutama di media sosial.

Capaian Membaca Tinggi

Singapura sendiri masih menjadi salah satu negara dengan capaian membaca yang tinggi. Namun, peneliti melihat adanya tantangan ketika pelajar memasuki jenjang pendidikan lebih tinggi.

Tekanan ujian dapat membuat pelajar membaca hanya untuk memenuhi kebutuhan akademis. Sehingga kemudian, perlahan-lahan seseorang akan kehilangan kesenangan membaca.

Karena itulah sejumlah pengelola klub buku dan pegiat literasi menilai adanya sedikit dorongan semacam ini akan dapat membantu seseorang memulai kembali kebiasaan membaca.

Program ini sendiri saat ini masih dalam tahap uji coba hingga akhir 2026. Pemerintah Singapura menyatakan fitur dan pengembangannya akan disesuaikan berdasarkan masukan masyarakat.

Selain mendapatkan imbalan pribadi, peserta juga dapat mengikuti kegiatan amal yang menargetkan 7,5 juta menit membaca untuk mengumpulkan donasi hingga SG$150.000.

Dengan skema tersebut, Singapura mencoba menjadikan membaca bukan sekadar aktivitas pribadi, tetapi juga kebiasaan yang dibangun melalui partisipasi masyarakat.

Share This Article
Avatar photo
Jurnalis lahir dan tinggal di Jogja
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Tidak ada komentar