Warga Dukuh Gelar Tradisi Kirab Budaya Panji Asmoro Bangun, Rayakan Merti Dusun Keliling Kampung

4 Min Read
Colorful fruit-and-vegetable sculpture carried in a street festival, with onlookers in traditional clothing nearby.
Suasana Kirab Budaya yang digelar warga Dukuh, Kalurahan Madurejo, Kapanewon Prambanan, Sleman, Yogyakarta. (Foto: JH Kusmargana)

Mabur.co – Ratusan warga mengikuti Tradisi Kirab Budaya Panji Asmoro Bangun di Dusun Dukuh, Kalurahan Madurejo, Kapanewon Prambanan, Kabupaten Sleman, Minggu (20/9/2026).

Tradisi ini digelar sebagai bagian dari upacara adat merti dusun sekaligus ungkapan rasa syukur warga atas hasil panen dan hasil bumi yang diperoleh masyarakat selama setahun terakhir. 

Diarak Keliling Kampung

Kirab berlangsung meriah dengan melibatkan warga dari enam wilayah RW. Masing-masing kelompok nampak membawa gunungan berisi hasil bumi serta aneka uba rampe yang kemudian diarak keliling kampung.

Group of people in traditional clothing marching in a sunny street, carrying ceremonial containers and flags, with lush trees in the background.
Warga membawa uba rampe kendi dalam kirab budaya merti dusun di Dukuh, Kalurahan Madurejo, Kapanewon Prambanan, Kabupaten Sleman, Yogyakarta. (Foto: JH Kusmargana)

Menggunakan berbagai macam atribut pakaian tradisional Jawa, warga berjalan kaki sejauh kurang lebih 3 kilometer sambil menampilkan beragam kreasi dan potensi kesenian tradisional masyarakat setempat.

Selain sebagai bentuk syukur, kegiatan ini juga menjadi sarana mempererat kekompakan, persaudaraan, dan rasa guyup antar-warga.

“Intinya ini merupakan bentuk rasa syukur masyarakat pada Tuhan YME atas hasil panen maupun hasil bumi yang ada di wilayah kami. Kegiatan semacam ini juga digelar untuk memupuk rasa kekeluargaan, persatuan dan guyup antar-seluruh warga. Termasuk juga menggerakkan perekonomian sekitar,” ujar tokoh masyarakat Dusun Dukuh, Rum Jalari.

Festival parade with people in red shirts and patterned skirts carrying a tall fruit-and-vegetable sculpture on a pole.
Suasana kirab warga mengusung gunungan hasil bumi. (Foto: JH Kusmargana)

Sementara itu, Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat, Sekretariat Daerah sekaligus Kepala BKPP Kabupaten Sleman, Wildan Solichin, mengatakan, merti dusun memiliki nilai penting dalam kehidupan sosial masyarakat.

Potensi Kampung

“Selain untuk menampilkan potensi kampung yang ada, kegiatan tradisi budaya seperti ini juga sangat bagus untuk merekatkan hubungan sosial kemasyarakatan. Jadi sangat baik untuk terus dilestarikan,” kata Wildan.

Wildan juga menilai kekompakan dan kerukunan warga menjadi modal penting untuk mengembangkan berbagai potensi wilayah, termasuk budaya dan wisata.

Man with a microphone leading a prayer as others stand with hands raised under a red canopy, traditional outfits visible.
Prosesi pembacaan doa kirab budaya merti dusun Dukuh dipimpin tetua adat. (Foto: JH Kusmargana)

Terletak di sisi timur Kabupaten Sleman, padukuhan Dukuh sendiri terdiri atas enam RW dan sejumlah kampung, yakni Morobangun, Dukuh, Pucangan, Patran, serta Sinobange.

Nama Panji Asmoro Bangun diangkat dalam kirab dan tradisi ini karena memiliki keterkaitan cerita sejarah yang berkembang di tengah masyarakat.

Lurah Madurejo, Sumadi, mengatakan, konon zaman dahulu kampung Morobangun merupakan salah satu wilayah yang pernah disinggahi sosok Panji Asmoro Bangun. 

Sejarah Panji Asmoro Bangun

Di kampung itulah sosok Panji Asmoro Bangun menyebarkan dan mengajarkan agama Islam kepada masyarakat setempat yang kemudian menjadi cikal-bakal Kampung Morobangun.

“Salah satu petilasannya yang masih tersisa adalah masjid. Selain itu juga ada peninggalan berupa batu berbentuk bulat lonjong menyerupai lumpang, yang konon digunakan sebagai tempat minum kuda,” ujarnya.

Crowd at an outdoor festival under a red-and-white canopy surrounding tall stacked fruit sculptures on display.
Warga berebut gunungan hasil bumi dalam acara merti dusun Dukuh. (Foto: JH Kusmargana)

Dari situlah warga kemudian menamai kampung tersebut dengan Morobangun, serta melestarikan sejarah asal-usul itu dengan menggelar tradisi merti dusun dan kirab Panji Asmoro Bangun yang diwariskan turun-temurun. 

Usai melakukan kirab, warga kemudian berkumpul di lapangan dusun setempat dan melakukan doa bersama.

Mereka juga nampak menggelar kenduri atau makan bersama yang dipuncaki dengan ritual rayahan gunungan. 

Sejumlah pentas kesenian juga digelar untuk memeriahkan suasana. Masing-masing wilayah nampak menampilkan kesenian masing-masing mulai dari tari-tarian, aneka kesenian tradisional, seperti jatilan. ***

Share This Article
Avatar photo
Jurnalis lahir dan tinggal di Jogja
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Tidak ada komentar