Mabur.co – Beragam kesenian khas Betawi ditampilkan dalam gebyar seni Setu Babakan yang digelar di Perkampungan Budaya Betawi (PBB) Jakarta Selatan.
Ratusan seniman dari berbagai daerah nampak menampilkan beragam kesenian mulai dari tari, musik ala Betawi, gambus, lenong hingga komedi Betawi.
Pertunjukan tersebut menjadi bagian dari peringatan Milad ke-26 PBB Setu Babakan yang mengusung tema “26 Tahun Perkampungan Budaya Betawi, Merawat Budaya Memperkuat Jati Diri”.
Para Seniman Betawi
Kemeriahan semakin terasa dengan hadirnya sejumlah seniman dan publik figur seperti Maudy Koesnaedi, Suti Karno, Zee Zee Shahab, Hj. Tonah, Burhanudin, Anwar BAB, Herry Ismet, Aji Bodong, dan Sonny Wak Waw.
Penyelenggara juga menghadirkan Festival Cahaya bertajuk “Kala Budaya”. Konsep tersebut menjadi cara untuk mengemas kebudayaan Betawi dengan pendekatan yang lebih atraktif dan kekinian, terutama bagi generasi muda dan masyarakat urban.
Tak hanya pertunjukan, pengunjung juga dapat menikmati bazar kuliner dan suvenir bernuansa Betawi. Bazar tersebut sekaligus memberikan ruang bagi pelaku UMKM dan ekonomi kreatif untuk mendapatkan manfaat dari kegiatan kebudayaan.
Dilansir website resmi Pemprov DKI, Senin (21/9/2026), PBB Setu Babakan sendiri hingga saat ini terus menjalankan perannya sebagai ruang hidup kebudayaan Betawi.
Selama 26 tahun, kawasan Perkampungan Budaya Betawi ini tidak hanya menjadi tempat pertunjukan, tetapi juga menjadi ruang bagi tradisi, pengetahuan, kuliner, kreativitas, dan berbagai ekspresi budaya Betawi.
Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi DKI Jakarta, Mochamad Miftahulloh Tamary, mengatakan, keberadaan PBB memiliki arti penting bagi kebudayaan Jakarta di tengah perkembangan kota sebagai kota global.
“Perkampungan Budaya Betawi adalah bagian penting dari wajah kebudayaan Jakarta. Selama 26 tahun, kawasan ini telah menjadi salah satu ruang strategis untuk merawat, mengembangkan, dan memperkenalkan kebudayaan Betawi kepada masyarakat luas,” ujarnya, dilansir Beritajakarta.id, Senin (21/9/2026).
Pelestarian Budaya Libatkan Generasi Muda
Menurut Miftah, pelestarian budaya tidak berarti hanya sekadar menjaga peninggalan masa lalu. Namun harus terus bergerak, berkembang, dan melibatkan generasi muda agar tetap hidup di tengah perubahan zaman.
“Kebudayaan harus terus bergerak, beradaptasi, dan hadir di tengah masyarakat. Dengan merawat budaya, kita menjaga identitas, dengan memperkuat identitas kita memperkuat karakter Jakarta sebagai kota yang maju sekaligus memiliki akar budaya yang kuat,” katanya.
Sementara itu, Kepala Unit Pengelola Kawasan Perkampungan Budaya Betawi, Debby Novita Andriani mengatakan, Milad ke-26 menjadi momentum untuk kembali mengingat bahwa budaya harus terus dihidupkan dan diwariskan.
“Milad ke-26 ini bukan sekadar perayaan bertambahnya usia. Ini adalah momentum untuk mengingat kembali bahwa budaya harus terus kita hidupkan. Budaya tidak cukup hanya disimpan atau dipamerkan, tetapi harus hadir dalam kehidupan masyarakat, dinikmati, dipelajari, dan diwariskan kepada generasi berikutnya,” katanya.
Debby berharap, PBB Setu Babakan semakin menjadi rumah bersama bagi kebudayaan Betawi, bukan hanya bagi masyarakat Betawi, tetapi juga masyarakat Jakarta dan Indonesia.
“Semoga setiap orang yang datang ke Setu Babakan tidak hanya membawa pengalaman, tetapi juga membawa pulang rasa bangga terhadap budaya Indonesia,” tegasnya. ***
